Definisi Tetanus Neonatorum, Penyakit Tetanus pada Bayi

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bayi yang baru lahir memang masih rentan penyakit karena memiliki kondisi yang belum stabil. Misalnya saja kejang yang sering di jumpai pada bayi baru lahir, mungkin itu terjadi bukan karena trauma kelahiran. Kondisi itu bisa saja terjadi akibat infeksi selama masa neonatal yang diakibatkan bakteri.

Definisi dan penyebab tetanus neonatorum

Tetanus berasal dari bahasa Yunani, eflex yang artinya peregangan. Tetanus Neonatorum merupakan suatu penyakit tetanus yang dialami oleh bayi baru lahir. Tanda klinik yang khas bagi bayi penderita tetanus neonatorum diawali setelah 2 hari pertama bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal. Kemudian pada hari ketiga atau lebih terjadi kekakuan pada tubuh yang disertai kesulitan membuka mulut dan menyusu, hingga kejang–kejang.

Tetanus neonatorum diakibatkan oleh clostridium tetani yang merupakan kuman gram positif anaerob berbentuk ramping dan batang. Kuman itu bisa berkembangbiak di tanah atau saluran pencernaan manusia serta juga hewan. Kuman clostridium tetani menghasilkan spora yang tahan lama serta menciptakan 2 toksin utama yakni tetanolysin dan tetanospasmin.

Gejala tetanus neonatorum

Gejala tetanus neonatorum sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat luas. Bayi yang semula normal, namun mulai hari ketiga menunjukan gejala bervariasi. Bayi jadi mengalami kekakuan mulut, kesulitan menyusui, risus sardonicus hingga opistotonus.

Tetanus yang terjadi pada bayi tentu saja tidak seperti pada penderita dewasa. Hal tersebut karena kekakuan otot leher lebih kuat daripada otot masseter, sehingga mulut agak membuka dan kaku akibat rahang bawah tertarik. Bentuk mulut bayi dalam bahasa Jawa diistilahkan mecucu atau seperti mulut ikan karper.

Kemudian bayi yang awalnya lemas karena kejang, dengan cepat menjadi lebih kaku. Frekuensi kejang-kejang jadi semakin sering dengan tanda-tanda klinik kegagalan nafas. Kekakuan diawali pada otot-otot setempat atau trismus, lantas menyebar ke seluruh tubuh tanpa disertai gangguan kesadaran.

Bagaimana pencegahan tetanus neonatorum?

Penyakit tetanus neonatorum memang sangat terkait dengan kondisi lingkungan tempat tinggal. Berbagai cara harus diupayakan masyarakat untuk menekan kejadian tetanus neonatorum. Salah satunya dengan mengubah lingkungan fisik dan eflexe, meski tidak mudah karena manusia memerlukan daerah peternakan atau pertanian guna aktivitas ekonomi.

Pendekatan pengendalian lingkungan bisa dijalani dengan menitikberatkan pada kebersihan yang optimal agar tidak menyebabkan pencemaran spora pada proses persalinan dan perawatan tali pusat. Apabila proses kelahiran bayi masih ditolong oleh dukun, maka praktek “Tiga Bersih” harus dilaksanakan. “Tiga Bersih” yang dimaksud yaitu bersih tangan, alat pemotong tali pusat, serta alas tempat tidur ibu.

Secara medis pemberian tokoid tetanus bagi ibu hamil 3 kali berturut-turut pada trimester ketiga, dianggap sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum. Kemudian pemotongan tali pusat juga harus menggunakan alat yang steril, agar tidak menimbulkan infeksi pada bayi. (APY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here