Demensia

Definisi

Demensia bukanlah penyakit spesifik. Sebaliknya, demensia menggambarkan sekelompok gejala yang mempengaruhi daya berpikir dan kemampuan sosial yang cukup parah dan dapat mengganggu fungsi tubuh sehari-hari.

Ada banyak penyebab gejala demensia. Penyakit Alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia progresif.

Kehilangan memori umumnya terjadi pada penderita demensia. Namun, kehilangan memori sendiri tidak berarti Anda memiliki demensia . Demensia menunjukkan gangguan pada setidaknya dua fungsi otak, seperti hilangnya memori dan penghakiman terganggu atau bahasa, dan ketidakmampuan untuk melakukan beberapa kegiatan sehari-hari seperti membayar tagihan atau mengemudi.

Demensia dapat membuat Anda bingung dan tidak dapat mengingat orang dan nama. Anda juga mungkin mengalami perubahan kepribadian dan perilaku sosial. Namun, beberapa penyebab demensia dapat diobati dan bahkan reversibel.

Gejala

Gejala demensia bervariasi tergantung pada penyebabnya, tapi tanda-tanda dan gejala umumnya, mencakup:

  • Hilangnya ingatan atau memori
  • Kesulitan berkomunikasi
  • Kesulitan dengan tugas-tugas kompleks
  • Kesulitan dengan perencanaan dan pengorganisasian
  • Kesulitan dengan koordinasi dan fungsi motorik
  • Gangguan disorientasi, seperti tersesat
  • Perubahan kepribadian
  • Ketidakmampuan untuk berpikir
  • Perilaku yang tidak biasa
  • Paranoia
  • Agitasi
  • Halusinasi

Kapan Anda Harus ke Dokter?

Temui dokter jika Anda atau orang yang dicintai mengalami masalah memori atau gejala demensia lainnya. Pengobatan untuk gangguan medis teetentu bisa menjadi penyebab demensia. Yang paling penting adalah dioagnosa untuk menentukan penyebab yang mendasarinya.

Penyakit Alzheimer dan beberapa jenis lain dari demensia memburuk dari waktu ke waktu. Diagnosis dini memberi Anda waktu untuk merencanakan masa depan sementara Anda dapat bersiap-siap memikirkan rencana pengobatan.

Penyebab

Demensia melibatkan kerusakan sel-sel saraf di otak , yang dapat terjadi di beberapa daerah otak. Pengaruh atau dampak demensia berbeda-beda tergantung pada daerah otak yang terkena.

Demensia dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara dan sering dikelompokkan dengan kesamaan gejala seperti bagian otak apa yang dipengaruhi, atau apakah gejalanya memburuk dari waktu ke waktu (demensia progresif) .

Beberapa jenis demensia, seperti yang disebabkan oleh reaksi terhadap obat atau infeksi, bersifat reversibel dengan bantuan pengobatan.

Demensia progresif

Jenis demensia yang memburuk dari waktu ke waktu meliputi:

  • Penyakit Alzheimer. Pada orang berusia 65 dan lebih tua, penyakit Alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia. Orang biasanya akan mengalami gejala setelah usia 60, tetapi beberapa orang mungkin mengalami gejala awal, sebagai akibat dari gen yang rusak.

Meskipun dalam kebanyakan kasus penyebab pasti penyakit Alzheimer tidak diketahui, plak dan kusut sering ditemukan pada otak penderita Alzheimer. Plak merupakan gumpalan protein yang disebut beta-amyloid, dan kusut yang kusut berserat terdiri dari protein tau.

Faktor genetik tertentu juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena Alzheimer. Penyakit Alzheimer biasanya berlangsung perlahan-lahan selama tujuh sampai 10 tahun. Kemampuan kognitif Anda perlahan-lahan menurun. Akhirnya, daerah otak yang terkena tidak bekerja dengan baik, termasuk bagian otak Anda yang mengontrol memori, bahasa, penilaian dan kemampuan spasial.

  • Lewy body dementia. Demensia body Lewy mempengaruhi sekitar 10 sampai 22 persen orang dengan gejala demensia, membuatnya menjadi salah satu jenis yang paling umum dari demensia. Lewy body dementia adalah jenis demensia terkait usia..

Badan Lewy adalah gumpalan protein abnormal yang ditemukan dalam otak penderita demensia Lewy body, penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson.

Gejala demensia body Lewy mirip dengan gejala penyakit Alzheimer. Ciri khasnya termasuk fluktuasi kebingungan dan pemikiran yang jernih (kejernihan), halusinasi visual, dan tremor dan kekakuan (parkinsonisme).

Orang dengan Lewy body dementia sering memiliki gangguan tidur yang disebut rapid eye movement disorder (REM), perilaku tidur yang menyebabkan seseorang bertindak keluar mimpi ketika dia tidur.

  • Demensia vaskular. Demensia vaskular, jenis demensia kedua yang paling umum, terjadi karena adanya kerusakan otak akibat berkurangnya atau terblokirnya aliran darah di pembuluh darah yang menuju ke otak.

Gangguan pada pembuluh darah ini dapat disebabkan oleh stroke, infeksi katup jantung (endokarditis) atau gangguan pembuluh darah (vaskular) lain.

Gejala demensia vaskular biasanya muncul tiba-tiba dan sering terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi atau orang-orang yang pernah mengalami stroke atau serangan jantung di masa lalu.

Ada beberapa jenis demensia vaskular, dan setiap jenis memiliki penyebab dan gejala yang berbeda. Penyakit Alzheimer dan demensia lainnya juga dapat muncul pada waktu yang bersamaan seperti demensia vaskular.

  • Demensia frontotemporal. Penyebab demensia yang kurang umum ini cenderung terjadi pada usia yang lebih muda daripada penyakit Alzheimer, umumnya antara usia 40 dan 65.

Demensia frontotemporal adalah sekelompok penyakit yang ditandai dengan kerusakan (degenerasi) dari sel-sel saraf di lobus frontal dan temporal otak, daerah ini terkait dengan kepribadian, perilaku dan bahasa.

Tanda dan gejala demensia frontotemporal mencakup perilaku yang tidak biasa, gangguan bahasa, kesulitan berpikir dan berkonsentrasi, dan gangguan gerak.

Seperti demensia lainnya, penyebabnya tidak diketahui, meskipun dalam beberapa kasus demensia ini terkait dengan mutasi genetik tertentu.

Gangguan lain yang terkait dengan demensia

  • Penyakit Huntington. Penyakit yang diturunkan ini menyebabkan sel-sel saraf tertentu dalam otak dan sumsum tulang belakang merana.

Tanda dan gejala biasanya muncul muncul pada usia 30-an atau 40-an Anda. Orang-orang dengan penyakit Huntington mengalami perubahan kepribadian, seperti mudah marah atau kecemasan. Kondisi ini menyebabkan penurunan serius pada kemampuan berpikir (kognitif) dari waktu ke waktu. Penyakit Huntington juga menyebabkan kelemahan dan kesulitan berjalan dan bergerak.

  • Cedera otak traumatis. Kondisi ini disebabkan oleh trauma berulang pada kepala, seperti yang dialami oleh petinju, pemain sepak bola atau tentara.

Tergantung pada bagian otak yang cedera, kondisi ini dapat menyebabkan tanda-tanda demensia dan gejala seperti gerakan yang tidak terkoordinasi dan gangguan berbicara, serta gerakan melambat, tremor dan kekakuan (parkinsonisme). Gejala mungkin tidak muncul sampai bertahun-tahun setelah trauma yang sebenarnya.

Seseorang yang pernah mengalami cedera kepala traumatis tunggal dapat mengembangkan kondisi serupa yang disebut demensia pasca-trauma, yang dapat menyebabkan gejala seperti gangguan memori jangka panjang.

  • Demensia terkait HIV. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), yang menyebabkan AIDS, menghancurkan materi otak dan dapat menyebabkan masalah memori, penarikan dari situasi sosial, gangguan konsentrasi atau gangguan gerak.
  • Penyakit Creutzfeldt-Jakob. Gangguan otak yang langka ini biasanya terjadi pada orang-orang yang tidak berisiko terkena demensia. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh adanya protein abnormal. Penyakit Creutzfeldt-Jakob kadang-kadang dapat diwariskan atau disebabkan benturan pada otak yang sakit atau jaringan sistem saraf.

Tanda dan gejala kondisi fatal ini biasanya muncul sekitar usia 60 dan awalnya meliputi gangguan koordinasi, memori, berpikir dan penglihatan. Gejala memburuk dari waktu ke waktu dan mungkin diikuti ketidakmampuan untuk bergerak atau berbicara, kebutaan, atau infeksi.

  • Demensia sekunder. Orang dengan gangguan gerak dan kondisi lain dapat mengembangkan demensia. Sebagai contoh, banyak orang dengan penyakit Parkinson akhirnya mengembangkan gejala demensia (penyakit Parkinson demensia). Hubungan antara gangguan ini dan demensia belum diketahui sepenuhnya.

Penyebab demensia yang bersifat irreversible

Beberapa penyebab demensia atau gejala menyerupai kepikunan dapat pulih dengan total. Dokter dapat mengidentifikasi dan mengobati penyebab berikut ini:

  • Infeksi dan gangguan kekebalan tubuh. Demensia dapat ditimbulkan oleh demam atau efek samping lain dari upaya tubuh untuk melawan infeksi. Orang mungkin mengembangkan demensia atau kesulitan berpikir jika mereka memiliki infeksi otak seperti meningitis dan encephalitis, sifilis yang tidak diobati, penyakit Lyme, atau kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh benar-benar terganggu, seperti leukemia.

Kondisi seperti multiple sclerosis yang timbul sebagai akibat dari sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel-sel saraf juga dapat menyebabkan demensia.

  • Masalah metabolisme dan kelainan endokrin. Orang dengan masalah tiroid, terlalu sedikit gula dalam aliran darah (hipoglikemia), terlalu rendah atau terlalu tinggi jumlah natrium atau kalsium, atau gangguan kemampuan untuk menyerap vitamin B-12 dapat mengembangkan demensia atau perubahan kepribadian lainnya.
  • Kekurangan nutrisi. Gejala demensia dapat terjadi sebagai akibat dari kurangnya asupan cairan (dehidrasi); tidak cukupnya tiamin (vitamin B-1), kondisi umum pada orang dengan alkoholisme kronis; dan defisiensi vitamin B-6 dan B-12.
  • Reaksi pada obat-obatan. Demensia dapat terjadi sebagai reaksi terhadap obat tunggal atau karena interaksi dari beberapa obat.
  • Hematoma subdural. Hematoma subdural yang disebabkan oleh pendarahan antara permukaan otak dan bagian yang mengelilingi otak. Pendarahan ini dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan demensia.
  • Gejala demensia dapat terjadi sebagai akibat dari paparan logam berat, seperti timbal, dan racun lainnya, seperti pestisida.

Gejala demensia juga bisa terjadi pada beberapa orang yang menyalahgunakan alkohol atau narkoba. Gejala dapat hilang setelah pengobatan, tetapi dalam beberapa kasus gejala mungkin masih ada setelah perawatan.

  • Tumor otak. Demensia jarang terjadi karena kerusakan yang disebabkan oleh tumor otak.
  • Kondisi ini, juga disebut hipoksia, terjadi ketika jaringan organ tidak mendapatkan cukup oksigen. Anoksia dapat terjadi karena asma parah, serangan jantung, keracunan karbon monoksida atau penyebab lainnya.

Jika Anda pernah mengalami kekurangan oksigen yang cukup parah, pemulihan mungkin memakan waktu lebih lama. Gejala, seperti masalah memori atau kebingungan, mungkin terjadi selama pemulihan.

  • Gangguan jantung dan paru-paru. Otak tidak dapat berfungsi tanpa oksigen. Gejala demensia dapat terjadi pada orang dengan masalah paru-paru kronis atau kondisi jantung yang menghalangi otak mendapatkan cukup oksigen.
  • Normal-pressure hydrocephalus. Terkadang orang-orang menderita hidrosefalus tekanan normal, suatu kondisi yang disebabkan oleh ventrikel yang membesar di otak. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada kaki, kesulitan kencing dan kehilangan memori. Operasi shunt, yang memberikan cairan serebrospinal dari kepala sampai perut atau jantung, dapat membantu menangani gejala-gejala ini.

Faktor Risiko

Banyak faktor yang akhirnya dapat menyebabkan demensia. Beberapa faktor, seperti usia, tidak dapat diubah. Sedangkan yang dapat diatasi untuk mengurangi risiko Anda terkena demensia.

Faktor risiko yang tidak dapat diubah

  • Seiring beranjaknya usia, risiko penyakit Alzheimer, demensia vaskular dan beberapa demensia lainnya juga meningkat terutama setelah usia 65 tahun. Namun, demensia bukan merupakan perubahan normal karena penuaan, dan demensia dapat terjadi pada orang yang masih muda.
  • Riwayat keluarga. Jika Anda memiliki keluarga dengan riwayat demensia, Anda lebih berisiko terkena gejalanya. Namun, banyak orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat demensia tidak mengalami gejalany, dan banyak orang yang tidak memiliki riwayat keluarga penderita demensia malah terjangkit gejalanya.

Jika Anda memiliki mutasi genetik tertentu, Anda berisiko lebih besar secara signifikan mengembangkan beberapa jenis demensia.

Banyak tes yang tersedia untuk menentukan apakah Anda memiliki mutasi genetik tertentu, tetapi dokter umumnya tidak merekomendasikan pengujian karena hasil tes tidak selalu akurat.

  • Down syndrome. Pada usia paruh baya, banyak orang dengan sindrom Down mengembangkan plak dan kusut di otak yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer. Beberapa dari mereka mungkin berisiko mengembangkan demensia.

 

Faktor risiko yang dapat diubah

Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan faktor-faktor risiko demensia berikut.

  • Penggunaan alkohol. Orang yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi mengembangkan gejala demensia. Meskipun penelitian telah menunjukkan bahwa alkohol dalam jumlah moderat mungkin memiliki efek melindungi, namun penyalahgunaan alkohol meningkatkan risiko berkembangnya demensia.
  • Penumpukan lemak dan zat lain di dalam dan di dinding arteri (plak) dapat mengurangi aliran darah ke otak dan menyebabkan stroke. Berkurangnya aliran darah ke otak juga dapat menyebabkan demensia vaskular. Beberapa penelitian menunjukkan mungkin ada hubungan antara gangguan pada pembuluh darah (vaskular) dan penyakit Alzheimer.
  • Tekanan darah. Beberapa studi menunjukkan tekanan darah tinggi atau rendah dapat meningkatkan resiko terkena demensia
  • Jika Anda memiliki tingkat Low-Density Lipoprotein (LDL) kolesterol yang tinggi, Anda mungkin berisiko mengembangkan demensia vaskular atau penyakit Alzheimer. Para peneliti masih terus mempelajari bagaimana kolesterol dapat mempengaruhi demensia.
  • Meskipun belum dipahami dengan baik, depresi pada golongan lanjut usia, terutama pada pria, mungkin menjadi indikasi untuk berkembangnya demensia.
  • Diabetes terkait Alzheimer. Jika Anda memiliki diabetes, Anda mungkin memiliki risiko lebih tinggi mengidap penyakit Alzheimer dan demensia.
  • Tingkat esterogen yang tinggi. Wanita yang mengkonsumsi estrogen dan progesteron beberapa tahun setelah menopause berisiko lebih besar terkena demensia.
  • Tingkat homosistein darah. Kadar homosistein, sejenis asam amino yang diproduksi oleh tubuh, dapat meningkatkan risiko berkembangnya demensia vaskular. Namun, penelitian yang ada menunjukkan hasil yang berbeda-beda dalam menentukan apakah kadar homosistein tinggi termasuk faktor yang meningkatkan risiko demensia.
  • Mereka yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas ketika menginjak usia paruh baya mempunyai resiko terkena demensia ketika mereka tua.
  • Merokok dapat meningkatkan resiko terkena demensia dan penyakit pembuluh darah (vaskular).

 

Komplikasi

Demensia dapat mempengaruhi fungsi berbagai sistem tubuh, dengan kata lain demensia mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Demensia dapat menyebabkan beberapa masalah, termasuk:

 

  • Nutrisi yang tidak memadai. Banyak orang dengan demensia pada akhirnya akan mengurangi atau berhenti makan dan minum. Mereka mungkin lupa untuk makan atau berpikir mereka sudah makan. Perubahan waktu makan atau gangguan kebisingan di lingkungan mereka dapat mempengaruhi nafsu makan penderita demensia.

Seringkali, demensia tingkat lanjut menyebabkan penderitanya kehilangan kontrol otot yang digunakan untuk mengunyah dan menelan. Hal ini dapat membuat penderita sering tersedak atau aspirating makanan dalam paru-paru. Jika ini terjadi, maka dapat menghambat pernapasan dan menyebabkan pneumonia. Penderita juga kehilangan rasa lapar sehingga keinginan untuk makan berkurang.

Depresi, efek samping obat, sembelit dan kondisi lain juga dapat menurunkan nafsu makan.

  • Menurunnya kebersihan. Pada demensia tingkat sedang hingga parah, penderita akhirnya akan kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dengan mandiri dan mungkin tidak bisa lagi untuk mandi, berpakaian, sikat rambut atau gigi, atau menggunakan toilet tanpa bantuan orang lain.
  • Kesulitan minum obat. Karena memori orang dengan gejala demensia terpengaruh, mereka akan sulit mengingat dosis dan jadwal minum obat.
  • Memburuknya kondisi emosional. Demensia membawa perubahan pada perilaku dan kepribadian penderitanya. Beberapa perubahan mungkin disebabkan oleh kerusakan yang memang terjadi di otak, sementara perubahan perilaku dan kepribadian lainnya mungkin timbul karena reaksi emosional sebagai respon terhadap perubahan di otak.

Demensia dapat menyebabkan depresi, agresi, kebingungan, frustrasi, kecemasan, kurangnya kesabaran dan disorientasi.

  • Kesulitan berkomunikasi. Ketika gejala demensia berlangsung, penderita mungkin kehilangan kemampuan untuk mengingat nama-nama orang dan objek-objek lainnya dan mungkin juga mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain atau memahami orang lain. Kesulitan berkomunikasi dapat menyebabkan perasaan gelisah, terisolasi dan depresi.
  • Delusi dan halusinasi. Orang dengan gejala demensia mungkin mengalami delusi di mana terjadi kesalahpahaman akan ide, orang atau situasi. Beberapa orang, terutama mereka dengan Lewy body dementia, mungkin mengalami halusinasi visual.
  • Kesulitan tidur. Penderita demensia juga mengalami kesulitan tidur, seperti bangun sangat awal di pagi hari. Beberapa orang dengan gejala demensia juga merasakan sindrom kaki gelisah atau gangguan tidur REM, yang juga dapat mengganggu tidur.
  • Kesulitan menjaga keamanan pribadi. Karena kemampuan pengambilan keputusan dan pemecahan masalah berkurang, kegiatan sehari-hari situasi sehari-hari seperti mengemudi, memasak, dan jatuh bisa mengancam keselamatan.

Persiapan Sebelum ke Dokter

Untuk penanganan awal, Anda bisa mengunjungi pusat layanan kesehatan primer. Pada beberapa kasus, Anda akan dirujuk ke dokter yang sudah berpengalaman menangani gangguan sistem saraf (neurologist).

Waktu konsultasi biasanya cukup singkat, sementara banyak hal perlu Anda diskusikan dengan dokter. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk mempersiapkan terlebih dahulu. Jika Anda merawat seseorang dengan gejala demensia tingkat lanjut, Anda direkomendasikan untuk mengumpulkan informasi terkait gejala yang dialami pasien Anda untuk kepentingan pengobatan dan penanganan lanjut. Berikut beberapa informasi penting yang perlu Anda ketahui.

 

Apa Yang Bisa Anda Lakukan?

  • Ketahui setiap pembatasan pra-janji. Pada saat Anda membuat janji, pastikan untuk menanyakan apakah ada sesuatu yang perlu Anda lakukan terlebih dahulu.
  • Tuliskan gejala apapun yang Anda rasakan, termasuk yang mungkin tampak tidak berhubungan dengan alasan yang Anda membut janji dengan dokter.
  • Tuliskan informasi pribadi penting mengenai kondisi kesehatan Anda, termasuk tekanan atau perubahan pada kehidupan Anda baru-baru ini.
  • Buatlah daftar semua obat-obatan, vitamin atau suplemen yang Anda ambil.
  • Datanglah dengan keluarga, teman atau pengasuh, jika memungkinkan yang bisa membantu Anda menyerap semua informasi penting yang disampaikan dokter selama konsultasi.

Mempersiapkan daftar pertanyaan akan membantu Anda memanfaatkan waktu konsultasi dengan efektif dan efisien. Urutkan pertanyaan Anda dari yang paling penting untuk mengantisipasi habisnya waktu. Untuk demensia, berikut beberapa pertanyaan dasar yang penting Anda tanyakan:

  • Apa yang mungkin menyebabkan gejala yang saya alami?
  • Apakah ada kemungkinan penyebab lain untuk gejala tersebut?
  • Jenis tes apa yang diperlukan?
  • Apakah kondisi ini bersifat sementara atau kronis?
  • Apa tindakan penanganan yang paling tepat?
  • Apakah ada alternatif untuk pendekatan utama yang disarankan?
  • Bagaimana cara terbaik untuk menangani demensia dan gangguan kesehatan lain yang saya derita secara bersamaan?
  • Apakah ada pembatasan atau larangan yang harus saya turuti?
  • Apakah ada alternatif oba generik untuk obat yang diresepkan?
  • Apakah ada brosur atau bahan cetak lainnya yang dapat saya bawa pulang? Website apa yang anda rekomendasikan?

 

Selain pertanyaan-pertanyaan yang telah Anda siapkan, jangan ragu untuk bertanya selama jam konsultasi jika ada sesuatu yang kurang Anda pahami.

Apa Yang Bisa Anda Harapkan dari Dokter?

Dokter mungkin meminta Anda dan pengasuh Anda sejumlah pertanyaan seperti:

  • Gejala apa yang Anda alami? Misalnya, apakah Anda mengalami kesulitan menemukan kata-kata atau mengingat peristiwa, memfokuskan perhatian, mengalami perubahan kepribadian, atau tersesat?
  • Kapan gejala tersebut mulai Anda alami?
  • Apakah gejala tersebut muncul terus-menerus atau muncul, hilang dan kemudia datang lagi?
  • Seberapa parah gejala yang Anda alami?
  • Apa ada hal yang tampaknya dapat membantu meringankan gejala?
  • Apa ada hal atau kondisi medis yang tampaknya memperburuk gejala?
  • Apakah Anda memiliki anggota keluarga dengan riwayat gejala demensia atau kondisi terkait seperti Huntington atau penyakit Parkinson?
  • Apakah ada kegiatan apapun yang Anda harus berhenti karena kesulitan memikirkan mereka?

 

Tes dan Diagnosa

Kehilangan memori dan gejala demensia lainnya memiliki banyak penyebab, sehingga mendiagnosis demensia dan kondisi terkait lainnya akan cukup sulit dan mungkin memerlukan beberapa kali konsultasi.

Untuk mendiagnosa kondisi Anda, dokter akan meninjau riwayat kesehatan dan gejala dan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter dapat mempersiapkan serangkaian tes untuk mendiagnosa demensia dan mendeteksi gangguan medis lainnya.

  • Tes kognitif dan neuropsikologi. Dalam tes ini, dokter akan mengevaluasi fungsi pemikiran (kognitif) Anda. Sejumlah tes keterampilan berpikir mengukur memori, orientasi, penalaran dan penilaian, keterampilan bahasa, dan perhatian. Dokter menggunakan tes ini untuk menentukan apakah Anda mengalami gejala demensia, seberapa parah itu dan bagian dari otak yang mana yang terkena.
  • Evaluasi neurologis. Dalam evaluasi neurologis, dokter akan mengevaluasi gerakan, indera, keseimbangan, refleks dan fungsi lainnya. Dokter dapat menggunakan evaluasi neurologis untuk mendiagnosa kondisi lain.
  • Scan otak. Dokter mempersiapkan scan otak, seperti CT atau MRI scan, untuk memeriksa bukti stroke atau perdarahan dan untuk memastikan ada atau tidaknya tumor.
  • Uji laboratorium. Tes darah sederhana dapat mendeteksi masalah-masalah fisik yang dapat mempengaruhi fungsi otak, seperti kekurangan vitamin B-12 atau kelenjar tiroid kurang aktif.
  • Evaluasi psikiatri. Anda bisa menemui spesialis kesehatan mental (psikolog atau psikiater) yang mungkin mengevaluasi apakah depresi atau kondisi psikologis lain dapat menyebabkan gejala Anda.

 

Perawatan dan Pengobatan

Kebanyakan jenis demensia tidak dapat disembuhkan. Namun, dokter akan membantu Anda menangani gejalany. Pengobatan gejala demensia dapat membantu memperlambat atau meminimalkan perkembangan gejala.

  • Cholinesterase inhibitor. Obat-obatan ini – termasuk donepezil (Aricept), rivastigmine (Exelon) dan galantamine (Razadyne) – bekerja dengan meningkatkan kadar transmitter kimia yang berguna untuk memori dan penalaran.

Efek samping yang ditimbulkan berula mual, muntah dan diare. Meskipun pada awalnya digunakan untuk mengobati penyakit Alzheimer, obat-obatan ini juga dapat mengobati demensia vaskular, demensia penyakit Parkinson dan Lewy body dementia.

  • Memantine. Memantine (Namenda) bekerja dengan mengatur aktivitas glutamat. Glutamat adalah transmitter kimia lain yang terlibat dalam fungsi otak, seperti belajar dan memori. Efek samping yang umum dari memantine adalah pusing.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa menggabungkan memantine dengan inhibitor cholinesterase dapat memberi hasil yang bermanfaat.

  • Obat lain. Dokter mungkin meresepkan obat lain untuk mengobati gejala atau gangguan lain, seperti gangguan tidur.
  • Terapi okupasi. Dokter mungkin menyarankan terapi okupasi untuk membantu menyesuaikan diri hidup dengan gejala demensia. Terapis dapat mengajarkan Anda mengatasi perilaku dan cara-cara untuk beradaptasi dengan perubahan gerakan dan aktivitas hidup sehari-hari yang ditimbulkan oleh demensia.

 

Terapi

Beberapa gejala demensia dan masalah perilaku dapat diobati awalnya menggunakan pendekatan obat non-drug, seperti:

  • Memodifikasi lingkungan. Mengurangi kekacauan dan kebisingan yang mengganggu dapat membuat seseorang dengan gejala demensia lebih mudah untuk fokus dan menjalankan fungsi tubuhnya. Hal ini juga dapat mengurangi kebingungan dan frustrasi.
  • Ubah cara Anda merespon mereka. Tanggapan pengasuh yang kurang tepat akan perilaku penderita gejala demensia dapat memperburuk kejiwaan mereka. Cara yang terbaik adalah dengan menghindari koreksi dan menanyai orang dengan gejala demensia. Memaklumi dan mengurangi kekhawatirannya dapat membantu menenangkan situasi.
  • Memodifikasi tugas dan rutinitas sehari-hari. Memecah tugas menjadi langkah-langkah yang lebih mudah dan fokus pada keberhasilan, bukan kegagalan. Rutinitas siang hari yang terstruktur juga membantu mengurangi kebingungan.

 

Gaya Hidup dan Perawatan Rumah

Setiap orang dengan demensia body Lewy mengalami gejala dan progresi berbeda. Akibatnya, teknik untuk merawat setiap orang berbeda-beda. Pengasuh atau perawat mungkin perlu menyesuaikan tips berikut dengan situasi individu:

  • Meningkatkan komunikasi. Ketika berbicara dengan orang dengan penderita, pertahankan kontak mata. Bicaralah dengan perlahan, dengan kalimat yang sederhana, dan jangan terburu-buru memberikan respon. Bicarakan satu topic atau instruksi saja pada satu waktu. Gunakan gerakan dan isyarat, seperti menunjuk ke objek.
  • Motivasi mereka untuk berolahraga. Olahraga bermanfaat bagi semua orang, termasuk orang-orang dengan gejala demensia. Manfaat dari olahraga meliputi meningkatkan fungsi fisik, perilaku yang lebih terkontrol dan gejala depresi lebih sedikit. Beberapa penelitian menunjukkan aktivitas fisik dapat memperlambat perkembangan fungsi gangguan pemikiran (kognitif) pada orang dengan demensia. Olahraga juga dapat membantu meringankan gejala, memulihkan keterampilan gerak dan member efek menenangkan kepada penderita.
  • Mendorong partisipasi dalam permainan dan aktivitas berpikir. Berpartisipasi dalam permainan, teka-teki silang dan kegiatan lain yang melibatkan kemampuan berpikir dapat membantu memperlambat degenerasi mental pada orang dengan gejala demensia.
  • Menetapkan kegiatan malam hari. Masalah perilaku biasanya semakin memburuk pada malam hari. Cobalah untuk menjalankan kegiatan sebelum tidur yang bersifat menenangkan dan jauh dari kebisingan televisi, menyelesaikan makan malam dan mendorong anggota keluarga agar lebih aktif. Biarkan lampu hidup pada malam hari untuk mencegah disorientasi.
  • Membatasi kafein di siang hari. Mengurangi waktu tidur siang dan mendorong penderita untuk melakukan olahraga di siang hari dapat membantu mengurangi kegelisahan pada malam harinya.
  • Bantu penderita mengingat tanggal dengan menggunakan kalender. Menggunakan kalender sebagai reminder untuk kegiatan atau acara tertentu dapat membantu penderita demensia mengingat hal-hal penting seperti jadwal minum obat dan kegiatan sehari-hari.
  • Rencanakan perawatan dan pengobatan di masa depan. Diskusikan rencana masa depan dengan penderita menyangkut perawatan untuk ke depannya. Kelompok pendukung, penasihat, anggota keluarga, dan teman-teman terdekat lainnya dapat membantu Anda. Mungkin Anda juga akan perlu mulai memikirkan masalah keuangan dan masalah legal, keamanan, dan opsi perawatan jangka panjang.

 

Pengobatan Alternatif

Beberapa suplemen diet, obat herbal, dan terapi telah dikembangkan untuk orang-orang dengan gejala demensia. Beberapa mungkin dapat memberikan manfaat.

Suplemen diet, vitamin dan obat herbal

Gunakan dosis suplemen diet, vitamin, dan obat herbal dengan hati-hati. Obat alternatif ini terbukti efektif membantu memperlambat perkembangan demensia, terutama jika Anda juga mengambil pengobatan lainnya. Dosis suplemen diet, vitamin, dan obat herbal tidak diatur dengan jelas dan klaim manfaatnya baru didasarkan pada penelitian ilmiah. Beberapa opsi pengobatan alternative untuk penyakit Alzheimer dan bentuk demensia lainnya telah diteliti, meliputi:

  • Vitamin E. Beberapa penilitian menunjukkan bahwa vitamin E dapat memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer. Tapi perlu diingat bahwa konsumsi vitamin E dalam dosis yang tinggi bisa meningkatkan risiko kematian, terutama bagi mereka dengan penyakit asam jantung.
  • Asam lemak Omega-3. Omega-3, sejenis asam lemak tak jenuh ganda yang ditemukan pada kacang-kacangan, dipercaya dapat mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, dan kerusakan kognitif ringan. Namun, dalam studi, asam lemak Omega-3 belum secara signifikan dapat memperlambat penurunan kognitif ringan hingga sedang pada penderita penyakit Alzheimer. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah asam lemak Omega-3 dapat bermanfaat bagi penderita Alzheimer dan bentuk demensia lainnya.
  • Coenzyme Q10. Antioksidan ini diproduksi secara alami di dalam tubuh. Antioksidan ini juga diperlukan untuk reaksi sel normal. Versi sintesis atau buatan dari senyawa ini, yang disebut idebenone, menunjukkan beberapa hasil positif dalam pengujian untuk penyakit Alzheimer. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan dosis yang aman dan berpotensi untuk memberikan manfaat yang sama seperti Coenzyme Q10.
  • Ekstrak dari daun Ginkgo biloba memiliki sifat antioksidan dan anti inflamasi yang dapat melindungi sel-sel otak dari kemungkinan kerusakan. Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa Ginkgo biloba dapat memperlambat perkembangan gangguan memori pada penderita Alzheimer atau jenis lain dari demensia. Namun penelitian lain juga menyebutkan bahwa Ginkgo biloba sama seklai tidak membantu memperlambat atau menunda timbulnya demensia.

Terapi lainnya

Orang-orang dengan gejala demensia merasakan gejalanya semakin memburuk ketika mereka frustrasi dan cemas. Langkah-langkah berikut mungkin akan mrmbantu penderita untuk lebil tenang dan rileks.

  • Terapi musik, Anda bisa memainkan musik yang bersifat menenangkan.
  • Terapi hewan peliharaan, yang melibatkan hewan seperti anjing, untuk membantu meningkatkan sauna hati dan perilaku penderita.
  • Aromaterapi, menggunakan wewangian herbal
  • Terapi pijat

 

 

Penanganan dan Support

Didiagnosa terkena gejala demensia bisa memberikan tekanan mental yang kuat kepada penderita dan orang-orang terdekatnya. Banyak informasi penting yang perlu Anda dan orang sekitar Anda pastikan sebagai persiapan untuk menghadapi kondisi yang tak terduga dan perubahan hidup yang terus akan berkembang.

 

Perawatan dan dukungan bagi penderita

Sepanjang perjalanan penyakit, Anda mungkin merasakan berbagai perasaan. Berikut adalah beberapa saran yang dapat Anda coba untuk membantu Anda mengatasinya:

  • Pelajari sebanyak mungkin tentang gejala kehilangan memori, demensia dan penyakit Alzheimer.
  • Tuliskan apa yang rasakan sebagai penderita gejala demensia dalam sebuah jurnal
  • Bergabunglah dengan kelompok pendukung lokal
  • Usahakan mencari konseling untuk diri Anda pribadi dan keluarga
  • Bicaralah kepada teman-teman di forum Anda atau siapapun yang bisa membantu memberikan Anda ketenangan spiritual.
  • Tetaplah aktif dan terlibat dengan masyarakat sekitar, baik dalam kegiatan sosial, olahraga, maupun bergabung dengan orang-orang yang mengalami gejala demensia lainnya.
  • Tetap jaga kontak dengan teman-teman dan keluarga, serta usahakan untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka.
  • Bergabunglah dengan komunitas online penderita gejala demensia atau yang sejenisnya.
  • Temukan cara baru untuk mengekspresikan diri Anda, seperti melalui lukisan, nyanyian atau tulisan.
  • Mintalah bantuan kepada orang yang Anda percayai untuk pengambilan keputusan tertentu.
  • Bersabarlah dengan kondisi Anda

Membantu seseorang dengan demensia

Anda dapat membantu seseorang mengatasi dengan gejala demensia atau penyakit serupa dengan mendengarkan, meyakinkan mereka bahwa mereka masih bisa menikmati hidup, tunjukkan sikap mendukung dan positif, dan cobalah melakukan yang terbaik untuk membantu penderita mempertahankan percaya diri dan harga diri.

Dukungan untuk Pengasuh

Menyediakan perawatan untuk orang dengan gejala demensia menuntut kesabaran emosional dan fisik. Seringkali perawat utama adalah pasangan atau anggota keluarga lainnya. Perasaan marah dan rasa bersalah, frustrasi dan putus asa, khawatir, kesedihan, dan isolasi sosial yang umum. Jika Anda seorang pengasuh bagi seseorang dengan demensia:

  • Mintalah bantuan kepada teman atau anggota keluarga penderita ketika Anda membutuhkan
  • Jaga kesehatan fisik, emosional dan spiritual Anda
  • Pelajari tentang gejala demensia dan penyakit terkait lainnya sebanyak mungkin
  • Tanyakan informasi penting lainnya terkait perawatan untuk penderita gejala demensia kepada dokter, relawan atau pekerja social, atau pihak lain yang ikut terlibat dalam perawatan pasien
  • Bergabunglah dengan kelompok pendukung
  • Temukan layanan pendukung di daerah Anda yang bisa membantu Anda merawat pasien dengan gejala demensia sehingga Anda bisa mendapatkan sedikit waktu istirahat.

Pencegahan

Tidak ada cara pasti untuk mencegah demensia, tetapi ada langkah-langkah yang dapat Anda ambil yang mungkin bisa membantu. Penelitian lebih lanjut diperlukan, tetapi beberapa hal berikut mungkin bisa membantu:

  • Jaga agar pikiran Anda tetap aktif. Kegiatan mental yang bersifat stimulatif, seperti teka-teki dan permainan kata, dan pelatihan memori dapat menunda timbulnya demensia dan membantu mengurangi gejalanya.
  • Aktiflah secara fisik dan sosial. Aktivitas fisik dan interaksi sosial dapat menunda timbulnya demensia dan mengurangi gejala.
  • Berhenti merokok. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan merokok di usia paruh baya dan lebih tua dapat meningkatkan risiko demensia dan gangguan pembuluh darah (vaskular). Berhenti merokok dapat mengurangi risiko Anda terkena demensia.
  • Usahakan untuk menurunkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko demensia jenis tertentu. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah mengobati tekanan darah tinggi dapat mengurangi risiko demensia.
  • Melanjutkan pendidikan. Orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di pendidikan formal tampaknya memiliki risiko lebih rendah terkena gejala degenerasi mental, bahkan ketika mereka memiliki kelainan otak. Para peneliti percaya bahwa pendidikan dapat membantu otak Anda mengembangkan jaringan sel saraf yang kuat yang bisa mengkompensasi kerusakan sel saraf yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer.
  • Menjaga pola makan yang sehat. Makan makanan yang sehat sangatlah penting untuk kesehatan Anda secara komprehensif, tapi diet kaya buah-buahan, sayuran dan asam lemak omega-3, yang biasa ditemukan pada ikan tertentu dan kacang-kacangan, dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan menurunkan risiko berkembangnya demensia.