Deteksi dan kenali ADHD sejak dini

0
77

Perilaku hiperaktif pada anak dalam dunia medis dikenal dengan istilah ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). ADHD merupakan gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta kesulitan dalam memusatkan perhatian. ADHD ini termasuk dalam bagian kelainan psikiatrik dan perilaku yang paling sering ditemukan pada anak. ADHD bisa berlanjut sampai masa remaja, bahkan dewasa.

ADHD muncul pada masa kanak-kanak awal, biasanya mulai terjadi di usia tiga tahun. Sekitar 3-7 % anak usia sekolah dan 4 % orang dewasa di Indonesia menderita ADHD. ADHD merupakan gangguan psikiatri yang bersifat kronis. Lebih dari 50% kasus ADHD akan berlanjut sampai remaja atau dewasa. Namun 30-40% menunjukkan perbaikan baik dalam perhatian maupun perilakunya.

Penyebab pasti ADHD belum diketahui. Ada beberapa faktor yang diperkirakan menjadi penyebab gangguan ini, yaitu faktor genetik, struktur anatomi otak, dan faktor neurokimia otak. Sejauh ini belum ada bukti penyebab biologis dari seorang anak menderita hiperaktif. Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa ADHD telah dikaitkan dengan gen hiperaktif yang diturunkan oleh orang tua. Bila ada riwayat keluarga yang hiperaktif, ada kemungkinan keturunan selanjutnya juga menjadi hiperaktif. Penyebab lain ADHD adalah gangguan pada kehamilan dikarenakan ibu yang merokok, stres saat hamil, atau minum alkohol. ADHD juga bisa disebabkan luka otak sebagai akibat trauma saat anak dilahirkan. Anak-anak yang lahir prematur juga berisiko hiperaktif.

Ciri anak hiperaktif bisa dikenali dengan beberapa tanda dan gejala seperti berikut ini :

  • Kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap sesuatu hal.
  • Tidak bisa memberikan perhatian yang lebih terhadap sesuatu yang detail.
  • Tidak mau atau sulit untuk mendengarkan orang lain.
  • Tidak bisa bermain dengan tenang.
  • Tidak bisa diam di tempat.
  • Bermasalah dengan tugas-tugas yang membutuhkan perencanaan.

Ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif. Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari ketidakmampuan seorang anak dalam memusatkan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali mengalihkan perhatian dari satu hal ke hal yang lain. Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Anak biasanya sulit sekali untuk duduk tenang. Anak cenderung berlari-lari dan berjalan ke sana kemari. Selain itu, anak hiperaktif juga cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik. Sedangkan gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak terkendali.

Anak dengan ADHD kerapkali mendapatkan label negatif dari orang-orang di sekitarnya, bahkan dari orang tua sendiri. Mereka seringkali dicap nakal, malas, dan agresif karena tidak mampu mengendalikan perilaku dan emosinya. Jika dibiarkan, ADHD akan sangat memengaruhi kondisi kejiwaan anak. Padahal, tidak ada seorang anak pun yang menginginkan dirinya dilahirkan dalam kondisi terganggu kesehatan dan perilakunya. Jika Anda menemukan beberapa gejala perilaku di atas, sebaiknya segera bawa anak ke psikolog, psikiater anak, atau dokter anak. Penanganan yang tepat sejak dini sangat diperlukan agar gangguan ini tidak memengaruhi perkembangan prestasi akademik, kehidupan sosial, dan perkembangan emosi anak.

Gangguan ADHD dapat membawa perkembangan jiwa yang buruk dan bahkan dapat berakibat fatal untuk karir dan masa depan anak. Pengobatan bagi penderita ADHD bisa berupa obat-obatan ataupun terapi. Obat-obatan yang sering diberikan oleh dokter biasanya berupa stimulan, yang bertujuan untuk membantu mengontrol sikap hiperaktif dan impulsif pada anak, serta membantu meningkatkan fokus atau perhatian anak.

pic : access-consciousness-blog.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY