Diagnosis dan Terapi Tifus pada Wanita

SehatFresh.com – Tifus atau demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan infeksi bakteri Salmonella typhi yang umumnya ditularkan melalui makanan. Gejala yang dirasakan umumnya ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, sembelit, penurunan nafsu makan, dan nyeri perut. Tifus bisa kambuh jika terdapat penurunan daya tahan tubuh dan pengobatan tifus sebelumnya tidak tuntas.

Meskipun tifus ini merupakan penyakit yang sudah tidak asing, tifus tidak bisa diremehkan. Pada wanita, misalnya tifus dapat membawa dampak negatif pada kehamilan. Bakteri penyebab tifus dapat melewati plasenta dan mengakibatkan infeksi yang bisa mengganggu tumbuh kembang janin. Tifus dan infeksi lainnya dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, bahkan keguguran. Maka penting untuk segera memeriksakan pada dokter apabila merasakan gejala-gejala tersebut.

Dokter mungkin menduga demam tifoid berdasarkan gejala dan riwayat medis. Tapi, diagnosis biasanya dikonfirmasi dengan mengidentifikasi bakteri S. typhi melalui pemeriksaan blood culture. Sedikit sampel darah, feses, urin atau sumsum tulang akan ditempatkan pada media khusus yang mendorong pertumbuhan bakteri. Sampel tersebut akan diperiksa di bawah mikroskop untuk mengonfirmasi kehadiran bakteri penyebab tifus. Meskipun pemeriksaan ini menjadi andalan untuk diagnosis tifus, terdapat pengujian lainnya yang dapat digunakan untuk mengonfirmasi infeksi demam tifoid. Ini seperti tes untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri tifus dalam darah atau tes yang memeriksa DNA tifus dalam darah.

Bagaiman tifus diobati?

Terapi antibiotik adalah cara utama dan terbukti paling efektif dalam menangani tifus.  Namun, ada kekhawatiran mengenai ketahanan bakteri tifus untuk beberapa antibiotik. Setelah tifus didiagnosis dan dikonfirmasi, dokter dapat segera memberikan resep antibiotik. Jika pengobatan dimulai dalam beberapa hari pertama setelah gejala muncul, gejala cenderung ringan sehingga semakin memudahkan pengobatan, menekan risiko komplikasi serius, dan Anda juga tidak diharuskan untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Lain halnya dengan pengobatan yang tertunda. Menunda pengobatan akan membuat waktu pemulihan lebih lama dan juga meningkatkan risiko komplikasi serius. Anda juga mungkin harus menjalani rawat inap di rumah sakit.

Pengobatan tifus di rumah

Umumnya, penderita tifus yang terdiagnosis pada tahap awal hanya membutuhkan pengobatan antibiotik selama satu hingga dua minggu dan tidak harus menjalani perawatan di rumah sakit. Meski tubuh terasa membaik setelah dua hingga tiga hari mengonsumsi antibiotik, jangan berhenti sebelum antibiotik habis. Ini sangat penting guna memastikan agar tubuh benar-benar bebas dari bakteri tersebut. Beberapa penderita mungkin mengalami kekambuhan. Ini seringkali disebabkan oleh pengobatan tifus yang tidak tuntas, yaitu akibat tidak mengonsumsi antibiotik sesuai resep yang telah ditentukan dokter.

Untuk mempercepat pemulihan dan mencegah risiko tifus berulang, beberapa hal ini penting untuk diperhatikan:

  • Istirahat yang cukup.
  • Makan makanan bergizi dengan jadwal teratur. Lebih baik makan dengan porsi lebih kecil tapi lebih sering ketimbang makan dengan porsi besar sebanyak tiga kali sehari.
  • Minum banyak cairan terutama air putih.
  • Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi.

Berikut adalah beberapa tips untuk mencegah infeksi bakteri yang menjadi penyebab tifus:

  • Pastikan air minum yang Anda minum bersih, aman, dan terjaga kualitasnya.
  • Mencuci tangan secara teratur dengan menggunakan air mengalir dan sabun, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum menyiapkan makanan.
  • Menjaga sanitasi lingkungan sehingga tidak berisiko membawa penyakit.
  • Cuci semua buah-buahan dan sayuran dengan air bersih dan sebaiknya kupas dahulu sebelum dikonsumsi.
  • Makan makanan yang dimasak dengan tingkat kematangan yang

Sumber gambar : www.sehatfresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY