Diagnosis Penderita Skizofrenia

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Diagnosis Penderita Skizofrenia bisa menggunakan pedoman diagnostik PPDGJ III, dalam pedoman ini harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas dan biasanya dua gejala atau lebih, bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas:

  • “Thought echo”. Ini adalah isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda
  • “Thought insertion or withdrawal” adalah isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal)
  • “Thought broadcasting” adalah isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya
  • “Delusion of control” ini adalah paham tentang dirinya yang dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
  • “Delusion of passivitiy” ini adalah paham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar. (tentang ”dirinya” disini dimaksudkan secara jelas merujuk kepergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus)
  • “Delusional perception” adalah pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat
  • Halusinasi auditorik. suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.
  • Paham-paham yang menetap, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa, misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain.

Selain dengan itu semua bisa menggunakan paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas, seperti:

  • Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh paham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus
  • Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme
  • Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor
  • Gejala-gejala “negative”, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi oleh depresi atau medikasi neuroleptika

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih keadaan ini tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Menurut Schneider diagnosa sudah boleh dibuat bila terdapat satu dari gejala-gejala halusinasi pendengaran dan satu gejala gangguan batas ego dengan syarat bahwa kesadaran penderita tidak menurun (PPDGJ III).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY