Diagnosis Sindrom Nefrotik pada Anak

Sehatfresh.com – Sindrom nefrotik atau disebut juga nephrosis merupakan suatu gangguan ginjal yang menyebabkan tubuh mengeluarkan terlalu banyak protein dalam urin. Sindrom nefrotik menyebabkan pembengkakan (edema) serta meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya. Jika tidak diobati, sindrom nefrotik dapat menyebabkan masalah pernapasan dan infeksi yang serius.

Pembengkakan (edema) adalah gejala sindrom nefrotik yang paling umum. Pembengkakan ini seringkali tampak pada:

  • Wajah dan sekitar mata.
  • Lengan dan kaki, terutama pada kaki dan pergelangan kaki.
  • Area perut.

Gejala lain yang menyertainya antara lain urin berbusa, nafsu makan yang buruk, berat badan meningkat karena retensi cairan, bantalan kuku pucat, rambut kusam, mudah lelah dan lesu.

Penyebab pasti sindrom nefrotik tidak diketahui, sehingga tidak ada cara pasti yang dapat mencegahnya. Menurut sejumlah literatur medis, diduga kuat sindrom nefrotik disebabkan oleh ketidakseimbangan sistem kekebalan tubuh dari waktu ke waktu. Ketidakseimbangan ini menyebabkan zat kimia tertentu mengganggu fungsi ginjal untuk menyaring darah, sehingga memungkinkan protein bocor ke dalam urin.

Di masa kanak-kanak, sindrom nefrotik bisa terjadi pada usia berapa pun, tapi biasanya antara usia dua hingga lima tahun. Jenis sindrom nefrotik yang paling umum pada anak-anak disebut sindrom nefrotik idiopatik. Idiopatik berarti penyakit terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Jenis yang paling umum dari sindrom nefrotik idiopatik adalah minimal-change nephrotic syndrome (MCNS).

Ada bentuk sindrom nefrotik lain yang mungkin hadir pada minggu pertama kehidupan. Ini disebut sindrom nefrotik kongenital. Sindrom nefrotik kongenital diwariskan oleh gen resesif autosomal yang berarti bahwa pria dan wanita sama-sama terpengaruh dan anak mewarisi satu salinan gen dari masing-masing orang tua.

Kehilangan protein darah terlalu banyak dapat menyebabkan kekurangan gizi terkait terlalu sedikitnya sel darah merah (anemia), serta rendahnya kadar vitamin D dan kalsium dalam tubuh yang penting untuk menunjang tumbuh kembang anak. Sindrom nefrotik juga dapat menimbulkan komplikasi di mana fungsi ginjal semakin menurun dari waktu ke waktu sehingga menjadi penyakit ginjal kronis. Jika ini terjadi, maka diperlukan dialisis rutin atau bahkan transplantasi ginjal.

Sindrom nefrotik didiagnosis dengan mengenali tiga temuan, yaitu pembengkakan (edema), kadar protein tinggi dalam urin (proteinuria), dan kadar protein rendah dalam darah (hipoalbuminemia). Tes dan prosedur yang digunakan untuk mendiagnosis sindrom nefrotik meliputi:

  • Tes urin. Analisis urin dapat menunjukkan kelainan dalam urin, termasuk kadar protein dalam urin yang menjadi temuan untuk mengonfirmasi diagnosis sindrom nefrotik.
  • Tes darah. Bila seseorang memiliki sindrom nefrotik, tes darah mungkin menunjukkan rendahnya tingkat albumin (hipoalbuminemia) serta penurunan protein darah secara keseluruhan. Rendahnya albumin sering dikaitkan dengan peningkatan kolesterol dan trigliserida. Ini karena rendahnya tingkat protein dalam darah merangsang tubuh untuk memproduksi beberapa lemak darah secara berlebihan.
  • Biopsi ginjal. Dokter mungkin menyarankan prosedur yang disebut biopsi ginjal dengan mengambil sedikit sampel jaringan ginjal. Selama biopsi ginjal, jarum khusus dimasukkan melalui kulit dan masuk ke ginjal. Kemudian, jaringan ginjal tersebut dikirim ke laboratorium untuk pengujian lebih lanjut.

Setelah diagnosis, pengobatan khusus untuk sindrom nefrotik akan ditentukan oleh dokter didasarkan pada:

  • Usia, riwayat medis, dan kondisi kesehatan anak secara keseluruhan.
  • Sejauh mana keparahan penyakit.
  • Toleransi anak untuk obat, prosedur, atau terapi tertentu.
  • Opini atau atau preferensi orangtua terkait pengobatan.

Tujuan pengobatan adalah untuk meringankan gejala, mencegah komplikasi, dan mencegah terjadinya kerusakan ginjal lebih lanjut. Setelah pengobatan selesai, sindrom nefrotik bisa kambuh. Namun, setelah seorang anak mencapai pubertas, penyakit ini biasanya jarang kambuh selama masa dewasa. Meski demikian, kemungkinan kambuh masih tetap ada.

Sumber gambar : kutono.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY