Disfungsi Ereksi Akibat Video Porno

SehatFresh.com – Internet memang membuka akses konten tanpa batas, termasuk pornografi. Ini semakin memanjakan para penyuka pornografi karena semakin memudahkan akses konten vulgar yang mereka sukai. Bila Anda termasuk yang kecanduan pornografi seperti video porno, segeralah menjauh dari kebiasaan tersebut. Banyak pria berdalih bahwa nonton video porno untuk menaikkan gairah, justru kebiasaan itu lama-kelamaan bisa memicu disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi berarti tidak dapat mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual.

Mudahnya akses pornografi ternyata berpengaruh besar pada kesehatan seksual pria. Penelitian dari University of Padua melaporkan bahwa 70 persen pria muda yang mengunjungi klinik kesehatan meminta pengobatan yang berkaitan dengan gangguan seksual. Penyebab gangguan seksual yang mereka miliki adalah karena mereka memiliki kebiasaan menonton tayangan pornografi.

Saat ini, menikmati tayangan pornografi seolah telah menjadi hal yang wajar di antara para pria muda. Namun, kebiasaan menonton video porno membuat seseorang semakin jauh dari dunia nyata. Saat menonton video porno, seseorang menjadi terjebak dalam pusaran kecanduan yang berbahaya. Bahkan sejumlah ahli mengatakan bahwa kecanduan video porno ini sejajar dengan kecanduan kokain dan alkohol.

Seiring waktu, semakin banyak juga bukti yang menunjukkan bahwa daya tarik video porno dapat berubah menjadi masalah yang lebih umum dari kesehatan seksual pria. Satu survei yang melibatkan 28.000 pria Italia menemukan bahwa porno berlebihan yang dimulai pada usia 14 tahun dan itu cenderung menjadi kebiasaan menonton sehari-hari pada pertengahan 20-an, membuat pria menjadi lebih peka terhadap tayangan yang lebih vulgar dan bahkan unsur kekerasan di dalamnya. Menurut Italian Society of Andrology and Sexual Medicine, ini bisa menyebabkan disfungsi seksual pada pria akibat dari penurunan libido yang pada gilirannya menyebabkan ketidakmampuan untuk bisa ereksi.

Penelitian lain dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Baltimore menemukan bahwa sekitar 18 juta orang Amerika mengalami disfungsi ereksi. Disfungsi seksual ini disebabkan oleh kondisi fisik (aliran darah tersumbat ke penis), psikologis (stres atau depresi), atau kombinasi keduanya. Penyakit kronis seperti penyakit jantung atau diabetes memang berkontribusi besar terhadap disfungsi ereksi. Namun, 15% sampai 20% disfungsi ereksi ditemukan terkait dengan konsumsi porno.

Pornografi dapat menyebabkan ekspektasi yang tidak realistis dan mengumpulkan sensitivitas seorang pria untuk seks sehingga ia tidak bisa menikmati hubungan seksual yang biasa. Rangsangan seksual tediri dari rangsangan fisik dan rangsangan mental. Rangsangan fisik berupa ciuman, sentuhan, atau rabaan. Sedangkan rangsangan mental berkaitan dengan proses kimiawi dalam otak. Para ahli berpendapat bahwa disfungsi ereksi akibat konsumsi porno dipicu oleh penyimpangan dopamin dalam otak. Dopamin memegang peranan penting dalam sistem otak yang bertanggung terhadap dorongan dan respon seksual.

Setiap jenis rangsangan yang dianggap memberikan kepuasan akan meningkatkan dopamin di otak. Pikiran atau imajinasi erotis akibat kebiasaan nonton video porno memicu lebih banyak pelepasan dopamin. Pada akhirnya, ini membuat otak menjadi kurang puas ketika melakukan hubungan seks dengan pasangan seksual yang nyata dan seringkali aksi-aksi yang ditonton dalam video porno dijadikan sebagai standar dalam meraih kepuasan seksual.

Mencekoki diri dengan konten-konten pornografi berarti membuat tubuh menjadi overdosis dopamin. Ketika otak terbiasa dengan konten porno yang seringkali menyuguhkan penggambaran seks yang berlebihan, rangsangan seksual biasa menjadi belum cukup untuk memicu terjadinya ereksi ketika akan berhubungan seksual dengan pasangan.

Sumber gambar : id.wikihow.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY