dr. Irwan Tjandra, SpM : Apoptosis Sel Ganglion pada Lapisan Retina sebagai Prediksi Glaukoma Dini

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – #DokterTalk – Masterplan Vision 2020: The Right to Sight (hak memperoleh penglihatan yang optimal yang lazim ditulis dengan notasi 20/20), bagi penduduk dunia bertujuan mengurangi jumlah penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Glaukoma menjadi penyebab kebutaan kedua di Indonesia setelah katarak, naik dari peringkat ke 3 (0.20% tahun 1982 menjadi 0.40% di tahun 1996).

Glaukoma adalah tipe penyakit mata yang bersifat kronik progresif yang ditandai dengan apoptosis pada sel-sel ganglion retina yang bermanifestasi klinis berupa, penipisan neuroretinal rim dan lapisan saraf retina disertai kehilangan pada lapang pandang.

Berdasarkan mekanisme, glaukoma dapat diklasifikasikan menjadi, glaukoma primer sudut terbuka (GPSTa) dan glaukoma primer sudut tertutup (GPSTp). Diketahui bahwa hiperglikemia  dapat menyebabkan terjadi diabetes melitus. Hal ini merupakan salah satu faktor risiko terjadinya GPSTa. Proses ini terjadi berawal dari kematian sel ganglion yang akan menyebabkan perubahan pada serabut saraf retina, selanjutnya menyebabkan terjadi kerusakan pada papil saraf optik dan akhirnya terjadi penyempitan atau kehilangan lapang pandang perifer. GPSTa pada pasien diabetes melitus bervariasi antara satu pasien dengan pasien lainnya.

Asumsi klinis saat ini bahwa pasien diabetes melitus dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun kemungkinan besar berisiko terjadinya glaukoma. Namun kenyataannya dalam pengalaman klinis tidak semua penderita diabetes melitus dapat terjadi glaukoma dalam hal ini GPSTa. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini ada peran ekspresi gen Brn3b yang mendasari etiologi dari GPTSa pada pasien diabetes melitus. Pada pasien yang terekspresi gen Brn3b diduga kemungkinan tidak terjadi apoptosis pada ganglion sel retina karena sudah terlindungi secara genetik, begitupun sebaliknya.

Gen Brn3b atau dikenal dengan nama lain yaitu gen POU3b berperan selama proses retinogenesis. Gen ini diekspresikan di retina secara eksklusif yaitu di lapisan ganglion sel retina. Gen ini berperan dalam memelihara sel ganglion dari apoptosis (anti-apoptosis), sehingga serabut saraf retina tetap terpelihara. Pada pasien diabetes dengan GPSTa diduga ekspresi gen Brn3b mengalami penurunan secara berangsur-angsur, sehingga sel ganglion mengalami apoptosis secara terus menerus.

Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini dilakukan guna mencari suatu konsep baru yang ingin membuktikan bahwa sudah terjadi perubahan pada sel ganglion retina pada awal proses hiperglikemia akut. Dampaknya akan berlanjut terjadi defek struktur pada serabut saraf retina yang pada akhirnya mencetuskan terjadinya GPSTa.

Penelitian diabetes melitus terkait dengan GPSTa mengacu pada mekanisme molekular penyakit tersebut pada manusia. Pada penelitian ini digunakan model tikus jantan jenis Spraque-Dawley. Dalam penelitian ini hewan coba diinduksi patologis menderita diabetes melitus tipe 1 (diabetes melitus tergantung insulin) dengan senyawa toksin yaitu streptozotocin (STZ) 50 mg/kgBB).

Dengan diketahuinya tingkat ekspresi gen Brn3b pada ganglion sel retina. Hal ini dapat dijadikan parameter untuk prediksi terjadinya glaukoma dini pada pasien diabetes melitus. Serta memberikan paradigma baru dalam bidang Ilmu Penyakit Mata tentang etiologi GPSTa yang terjadi pada pasien diabetes melitus. Dipertimbangkan pemeriksaan ekspresi gen Brn3b sebagai gen sitoprotektif pada pasien dengan hiperglikemia, hal ini dimaksudkan untuk meminimalkan morbiditas glaukoma khususnya GPSTa. Skrining awal sangat diperlukan untuk menentukan bagi pasien yang baru didiagnosis hiperglikemia.

Promotor : Prof. Drs. Purnomo Soeharso, PhD

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here