Efek Kecemasan Pada Remaja

Menurut sebuah penelitian, remaja yang hidup di era serba modern seperti sekarang ini lebih rentan mengembangkan kecemasan dan stres dibandingkan orang tuanya dulu saat berada pada usia yang sama. Hal ini disebabkan karena semakin berkembangnya zaman, maka semakin rumit pula masalah yang ditimbulkannya.

Kecemasan pada remaja dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti genetik, trauma dan lingkungan di mana tempat dibesarkan. Pada waktu tertentu, kecemasan merupakan hal yang normal bahkan dapat menolong seseorang terhadap ancaman atau sesuatu yang membahayakan mereka. Kecemasan dianggap tidak normal apabila berlebihan dan menghambat fungsi akademik dan sosial atau menjadi menyusahkan atau persisten. Jika tidak dapat dikendalikan, kecemasan bisa menyebabkan kondisi kesehatan mental yang lebih berat yang dikenal sebagai gangguan kecemasan. Jika tidak diobati, gangguan kecemasan dan kecemasan dapat menyebabkan masalah serius pada remaja.

Kecemasan intens dapat menyebabkan masalah penyalahgunaan narkoba. Ketika remaja merasa cemas, dia mungkin merasa kewalahan oleh kecemasan yang dialami sehingga menyebabkan dia mulai menggunakan obat-obatan atau alkohol sebagai cara untuk mengatasi perasaan cemas tersebut. Ketika remaja menyadari bahwa obat-obatan dan alkohol dapat membantu meredakan gejala kecemasan, hal tersebut dapat meningkat ke titik kekerasan atau mungkin mulai menyalahgunakan jenis obat-obatan yang lebih serius.

Remaja yang mengalami kecemasan juga lebih mungkin mengalami masalah akademik jika mereka tidak dapat mengatasi kecemasan mereka secara efektif. Seorang remaja yang mengalami kecemasan cenderung buruk pada saat ujian atau tidak dapat menyelesaikan tes karena ia takut gagal atau tidak bisa menjawab soal-soal ujian.

Remaja mungkin tidak sepenuhnya memahami kecemasan yang ia alami, sehingga sulit baginya untuk mengontrol kecemasan tersebut. Hal ini bisa menyebabkan dia menjadi mudah tersinggung dan cepat marah.

Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah dapat menyebabkan masalah hubungan dengan teman dan keluarga, karena dia mungkin marah atau bersikap kasar tanpa alasan yang jelas. Kecemasan juga dapat berujung pada depresi. Depresi dan kecemasan bisa terjadi bersama-sama. Kekhawatiran atau ketakutan secara kronis dapat menyebabkan perasaan putus asa dan kelelahan yang bisa berkembang menjadi depresi.

Selain itu, kecemasan juga dapat memicu insomnia. Ketika remaja merasakan kekhawatiran terus menerus mengenai hal-hal seperti tugas sekolah, hubungan dengan teman sebaya atau konflik orangtua, kecemasannya akan memengaruhi pola tidurnya. Ketika seseorang menjadi begitu cemas, orang tersebut mungkin sulit mengendalikan kekhawatirannya ketika harus tidur. Beberapa remaja mengalami kecemasan yang ditandai gejala fisik. Kecemasan dapat menyebabkan sakit kepala, ketegangan otot, berkeringat, kelelahan, sakit perut dan mual.

Orang tua yang mengalami gangguan kecemasan cenderung memiliki anak yang bermasalah dengan kecemasan juga. Maka dari itu, sangat penting bagi orang tua untuk menjaga kesehatan mentalnya sendiri maupun anaknya.Orangtua harus memastikan bahwa anak-anaknya memiliki pergaulan yang baik dan tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Rasa tertekan selama di sekolah dapat menyebabkan stres yang berdampak kesehatan mental yang buruk di kemudian hari.

*pic www.klinikhipnoterapijogja.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY