Efektifkah Hukuman Kebiri untuk Cegah Kejahatan Seksual?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak yang memuat hukuman kebiri kimia telah sah berlaku sejak tahun 2016 lalu. Selain kebiri, keputusan tersebut juga memungkinkan hakim memerintahkan para pelanggar kejahatan seksual untuk menggunakan alat pelacak elektronik setelah mereka dibebaskan dari penjara. Setelah hampir dua tahun berlaku, apakah hukum kebiri efektif untuk mencegah kejahatan seksual?

Sebelum menjawabnya, mari kita simak definisi kebiri terlebih dahulu. Menurut KBBI, kebiri adalah sudah dihilangkan (dikeluarkan) kelenjar testisnya (pada hewan jantan) atau dipotong ovariumnya (pada hewan betina) sudah dimandulkan. Kebiri hampir mirip maknanya dengan vaséktomi yaitu operasi untuk memandulkan kaum pria dengan cara memotong saluran sperma atau saluran mani dari bawah buah zakar sampai ke kantong sperma.

Sejumlah negara, seperti Korea Selatan, Polandia, Ceko, Jerman dan beberapa negara lainnya telah lebih dahulu menerapkan hukum kebiri bagi pelaku kejahatan seksual, khususnya pedofil. Tujuannya untuk membuat jera para pelaku kejahatan seksual sekaligus melindungi calon korban potensial.

Pengebirian lewat prosedur bedah telah dibuktikan bisa menekan dorongan seksual, termasuk pada banyak pelaku kejahatan seksual. Dilansir dari ABC News, sebuah penelitian dari Jerman menunjukkan rata-rata tingkat pengulangan kembali (terhadap aksi kekerasan seksual) bagi narapidana yang telah menerima tindakan kebiri hanya sebanyak 3% jika dibandingkan dengan mereka yang tidak dikebiri yaitu risiko 46% lebih tinggi untuk mengulangi tindak kejahatannya.

Meski begitu, kebiri mungkin tidak bekerja untuk keseluruhan orang. Salah satu studi dari Korea Selatan menemukan beberapa pasien mengalami lonjakan kadar testosteron mendadak serta dorongan dan hasrat seksual yang begitu besar setelah dua bulan pertama menerima tindakan kebiri akibat kerja obat yang tidak sepenuhnya menihilkan hasrat seksual seseorang.

Yang jelas, di satu sisi, kebiri memang mampu menghilangkan hasrat seksual. Tapi, apakah hal tersebut bisa menjamin pelaku kejahan seksual akan sadar? Bisa jadi, ada kemungkinan terburuk yang akan ditimbulkan, misalnya, karena dikebiri, pelaku pedofil itu merasa marah dan menyimpan dendam. Pelaku pedofil pun bisa saja melampiaskannya ke korban lain dan dengan cara-cara lain yang lebih brutal. Harus diakui, kemungkinan-kemungkinan tadi tidak bisa dinafikan.

Artinya, pengebirian untuk pelaku kejahatan seksual hanya sebatas mengendalikan atau memotong fungsi jaringan syahwat libidonya atau di hilirnya. Pengebirian belum menyentuh masalah di hulunya yakni otak si pelaku tersebut.

Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian. Sekelompok ilmuwan lintas institusi menyelidiki penyebab perilaku pedofil. Kendati beragam, hasil penelitian sudah dipublikasikan terkait perilaku menyimpang itu. Intinya, kata pakar psikologi dan psikoterapi Jerman bernama Jorge Ponseti, hasil penelitian belum berhasil menguak fungsi otak seorang pedofil. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here