Empat Masalah Umum Pada Plasenta

SehatFresh.com – Plasenta memainkan peran penting selama kehamilan. Plasenta adalah organ yang berkembang di dalam rahim selama kehamilan, yang menjadi pemasok oksigen dan nutrisi untuk bayi serta membuang produk limbah dari darah bayi. Plasenta umumnya menempel di bagian atas atau samping rahim. Namun, plasenta bisa mengalami masalah karena berbagai hal seperti ibu hamil di usia 40 tahun, tekanan darah tinggi, kehamilan kembar, trauma pada perut dan penyebab lainnya.

Posisi plasenta biasanya diketahui melalui pemeriksaan USG pada usia kehamilan 18-21 minggu. Selama kehamilan, masalah plasenta paling umum adalah abrupsio plasenta, plasenta previa dan akreta plasenta. Semua kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan vagina parah. Setelah melahirkan, retensio plasenta juga menjadi kekhawatiran yang berpotensi mengancam jiwa.

  1. Abrupsi plasenta

Jika plasenta lepas dari dinding bagian dalam rahim sebelum persalinan baik itu sebagian atau seluruhnya, ini disebut abrupsio plasenta. Abrupsi plasenta dapat menyebabkan berbagai tingkat perdarahan vagina dan rasa sakit atau kram perut. Pasokan oksigen dan nutrisi untuk bayi juga bisa terhenti sehingga persalinan dini mungkin diperlukan. Jika pernah mengalami abrupsi plasenta pada kehamilan sebelumnya, Anda berisiko mengalami masalah serupa pada kehamilan berikutnya.

  1. Plasenta previa

Plasenta previa terjadi ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh leher rahim. Plasenta previa lebih sering terjadi pada awal kehamilan dan mungkin menjadi normal dengan sendirinya seiring rahim yang semakin tumbuh. Kendati demikian, tetap harus diwaspadai karena dapat membahayakan jiwa ibu dan bayi di kandungan. Plasenta previa dapat menyebabkan perdarahan vagina yang berat sebelum atau selama persalinan. Persalinan caesar biasanya diperlukan jika plasenta previa ditemukan pada saat persalinan.

  1. Plasenta akreta

Plasenta akreta terjadi ketika pembuluh darah plasenta tumbuh terlalu dalam ke dalam dinding rahim. Plasenta akreta dapat menyebabkan perdarahan vagina selama trimester ketiga kehamilan dan kehilangan darah yang parah setelah melahirkan. Penanganannya mungkin memerlukan persalinan caesar diikuti dengan operasi pengangkatan rahim (histerektomi abdominal). Situasi yang lebih parah bisa terjadi jika plasenta menginvasi otot-otot rahim (plasenta inkreta) atau jika plasenta tumbuh menembus dinding rahim (plasenta percreta).

  1. Retensio plasenta

Biasanya, plasenta akan lepas secara spontan setelah bayi lahir. Jika plasenta tidak keluar dalam waktu 30 sampai 60 menit setelah melahirkan, ini dikenal sebagai retensio plasenta. Ini bisa terjadi karena plasenta menjadi terperangkap di belakang leher rahim di mana sebagian tertutup atau karena plasenta masih melekat pada dinding rahim. Jika dibiarkan, retensio plasenta dapat menyebabkan infeksi parah atau kehilangan darah yang mengancam jiwa pada ibu.

Sumber gambar : mitoswanitahamil.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY