Enam Cara Mencegah Bronkospasme pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bronkospasme merupakan istilah medis untuk mendefinisikan penyempitan jalan napas, tepatnya dinding bronkial. Kondisi ini umumnya bersifat akut dan sering dialami oleh anak-anak yang memiliki asma atau alergi. Selain membatasi aliran udara, bronkospasme juga memicu dinding bronkial memproduksi lebih banyak lendir yang dapat semakin menyumbat jalan napas. Akibatnya, anak menjadi kesulitan bernapas, batuk, dan bahkan nyeri dada.

Ketika anak mengalami sesak napas atau gejala bronkospasme lainnya, segera konsultasikan ke dokter guna mengantisipasi gejala-gejala tersebut tidak berkembang semakin buruk di kemudian hari. Bronkospasme sebetulnya dapat dicegah dengan menghindari asma atau alergi. Cara yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Menghindari pemicu alergi. Jika anak memiliki alergi, mengetahui apa yang menjadi pemicunya sangat penting dalam mencegah bronkospasme. Reaksi alergi parah dapat menyebabkan anafilaksis yang mengancam jiwa, di mana salah satu gejalanya adalah bronkospasme. Debu, tungau, bulu hewan peliharaan, dan bahan kimia dalam produk perawatan kulit seringkali menjadi pemicu alergi yang juga memicu kekambuhan asma. Makanan pun dapat menyebabkan hal serupa, diantaranya susu, telur, kacang tanah, kedelai, gandum, dan kerang.
  2. Menghindari asap rokok dan bau menyengat. Asap dan bau yang menyengat bisa memicu asma, terutama asap rokok. Pasalnya, asap rokok sangat berpotensi menyebabkan iritasi sistem pernapasan. Demikian pula dengan parfum dengan bau yang menyengat, asap pembakaran kayu, dan asap dari knalpot.
  3. Menghindari olahraga atau aktivitas berlebihan. Pada dasarnya, anak-anak yang memiliki asma perlu diajak melakukan olahraga ringan untuk melatih sistem pernapasannya. Namun, bila berlebihan, bisa memicu kekambuhan asma. Dalam keadaan normal, udara yang terhirup akan dihangatkan dan dilembabkan di saluran hidung. Tapi ketika berolahraga, anak cenderung bernapas melalui mulut sehingga udara yang dihirup cenderung lebih dingin dan kering. Karena pita-pita otot di sekitar saluran udara cenderung lebih sensitif terhadap perubahan kelembaban, pita tersebut menjadi berkontraksi dan kemudian membuat jalan napas menjadi lebih sempit.
  4. Menjaga kondisi mental dan emosional. Kecemasan dan ketakutan dapat memicu stres pada anak yang dapat menyebabkan detak jantung yang lebih cepat dan pola pernapasan menjadi kacau. Hal ini dapat memicu penyempitan jalan napas.
  5. Gunakan obat sesuai aturan. Jika anak sedang dalam masa perawatan dan diberi obat resep, pastikan pengobatannya tuntas sesuai nasihat dokter. Jika anak sangat bergantung pada inhaler sehingga pemakaiannya menjadi berlebihan, segera konsultasikan dengan dokter agar dapat ditemukan solusi terbaiknya.
  6. Imunisasi influenza. Flu dapat memicu dan memperparah asma. Anda bisa mempertimbangkan agar anak diberi vaksin influenza guna mencegah flu serta mencegah kekambuhan asma dan mencegah terjadinya bronkospasme.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY