Epilepsi Pengaruhi Kehamilan

SehatFresh.com – Epilepsi adalah gangguan kronis yang ditandai dengan kejang berulang yang tak terduga. Kejang adalah disfungsi fisiologis temporer pada otak, di mana neuron menghasilkan debit listrik yang berlebihan. US National Institute of Neurological Disorder and Stroke (NINDS) memperkirakan epilepsi mempengaruhi 1% dari populasi Amerika Serikat (sekitar 2,5 juta orang). Diperkirakan hingga setengah dari wanita dengan epilepsi akan menjadi lebih sering kejang selama kehamilan. Bagaimana epilepsi pengaruhi kehamilan?

Peningkatan episode kejang dalam kehamilan berkaitan dengan obat antikonvulsan (antikejang). Obat antikonvulsan cenderung bekerja secara berbeda selama kehamilan. Karena mual akibat morning sickness, obat yang dikonsumsi mungkin ikut terbuang sebelum dapat diserap ke dalam tubuh. Di sisi lain, keprihatinan utama untuk ibu hamil dengan epilepsi adalah efek obat yang bisa merugikan bayi. Pasalnya, beberapa obat untuk menangani kejang epilepsi disebut-sebut dapat meningkatan risiko cacat seperti spina bifida, bibir sumbing, cacat tabung saraf, dan kelainan jantung.

Mengalami kejang selama kehamilan dapat menyebabkan cedera atau masalah bagi ibu dan anak. Sejauh mana risiko yang terkait dengan jenis kejang itu sendiri. Kejang parsial mungkin tidak membawa banyak risiko pada bayi. Namun, kejang umum (terutama tonik-klonik) membawa risiko lebih bagi ibu dan bayi. Risiko ini termasuk trauma karena jatuh, peningkatan risiko persalinan prematur, keguguran, dan menurunkan denyut jantung janin. Mendapatkan dan mempertahankan kontrol kejang yang baik selama kehamilan sangat penting. Oleh karenanya, kebanyakan spesialis epilepsi merasa risiko kejang pada ibu selama kehamilan lebih besar daripada risiko dari obat antikejang.

Dengan bekerjasama dengan dokter, risiko cedera atau cacat pada janin dapat diminimalkan. Sebelum hamil, sebaiknya konseling pra-kehamilan agar dokter bisa mengubah atau merubah dosis obat guna meminimalkan risiko buruk bagi janin. Jika kehamilan terjadi tanpa rencana, segera berkonsultasi dengan dokter. Biasanya, dokter akan mengurangi dosis obat, merubah obat, atau menambahkan suplemen tertentu.

Mengonsumsi asam folat sebelum dan selama kehamilan dapat meningkatkan kesehatan bayi. Obat antikejang dapat mengganggu kadar asam folat dalam tubuh, dan rendahnya tingkat asam folat dapat memicu cacat tabung saraf. Penelitian telah menunjukkan bahwa mengonsumsi asam folat selama tiga bulan pertama kehamilan mengurangi risiko ini. Namun, penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen asam folat, karena dapat berinteraksi dengan beberapa obat antikejang.

Persalinan dan kelahiran menempatkan sejumlah stres pada tubuh. Penelitian telah menunjukkan bahwa selama dua hari setelah kelahiran bayi, wanita dengan epilepsi lebih mungkin mengalami kejang. Oleh karenanya, penting bagi ibu untuk banyak beristirahat, tetap bebas stres, dan meminum obat yang diresepkan oleh dokter. Kebanyakan wanita dengan epilepsi tetap disarankan untuk menyusui, mengingat begitu banyak manfaat ASI untuk bayi. Namun, penting untuk berbicara dengan dokter untuk mempertimbangkan manfaat dari menyusui terkait penggunaan obat antikejang selama menyusui.

Sumber gambar : SehatFresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY