Fakta dan Mitos Mengenai Ngidam

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kehamilan identik dengan ngidam. Namun, nyatanya tidak semua ibu hamil mengalami ngidam. Belum ada yang tahu secara pasti mengapa ngidam kehamilan terjadi. Ngidam menimbulkan banyak persepsi dan memang ngidam juga dipengaruhi oleh budaya sehingga muncul beragam mitos tentang ngidam yang sampai saat ini masih diperdebatkan.

  1. Ngidam adalah keinginan bayi dalam kandungan

Faktanya, ngidam tidak ada kaitannya dengan bayi. Belum ada penelitian ilmiah yang menunjukkan bukti kuat mengenai hal tersebut. Ngidam lebih merujuk pada aspek psikologis ibu hamil itu sendiri. Demikian juga bila suami ikut ngidam. Ketika suami ngidam, ini biasanya akibat sugesti dari ngidamnya istri. Ngidam kerap muncul karena ibu hamil mencontoh anggota keluarga lain. Para wanita seringkali mendengar cerita dari orang-orang tentang pengalaman mengidam sehingga ia pun beranggapan bahwa ia akan ngidam juga. Dalam hal ini, latar belakang budaya dan kebiasaan turut berpengaruh.

Pada dasarnya, bila pasangan suami istri sudah merencanakan kehamilan dengan baik dan menyadari perubahan apa saja yang menyertai kehamilan. Rasa ngidam juga akan berkurang karena sang calon ibu sudah siap menghadapi segala risiko terkait kehamilan, termasuk dalam hal mengatasi perasaan dan kondisi tubuh tidak nyaman seperti saat ngidam.

Pada suami, pengertian dan perhatian ekstra akan sangat membantu mengurangi beban psikologis istri. Menjalani proses kehamilan tidak selalu seperti apa yang diharapkan. Maka tidak heran juga bila banyak orang mengatakan bahwa ngidam menandakan istri cari perhatian. Oleh karenanya, suami hendaknya memberikan perhatian lebih pada istri sehingga beban psikologisnya berkurang, janin pun tumbuh lebih sehat dan Anda pun sebagai suami tidak kewalahan akibat ngidam.

  1. Ngidam tidak dituruti anak jadi “ngeces”

Anak jadi ngeces karena ngidam tidak dituruti adalah mitos kehamilan yang paling populer. Apabila bayi ngeces, pada dasarnya itu menandakan akan tumbuh gigi. Secara teori, perubahan hormonal selama kehamilan membuat wanita menjadi lebih sensitif terhadap bau dan rasa makanan. Sebagai dampaknya, wanita hamil cenderung menghindari beberapa makanan tertentu.

Perhatian memang menjadi kunci utama untuk mengatasi ngidam istri yang sedang hamil. Memenuhi permintaan ngidam ibu hamil secara tidak langsung akan membuatnya merasa diperhatikan. Tapi, tidak semua permintaan ngidam harus dituruti, karena aspek kesehatan dari makanan yang diidamkan juga perlu diperhatikan. Bahkan, beberapa wanita hamil ada yang ngidam hal aneh bukannya ngidam makanan. Kondisi ini dikenal sebagai “pica”. Bila ibu hamil mulai ngidam sesuatu yang aneh, ini bisa dikatakan sebagai pica meskipun itu baru terjadi sekali. Tentunya, ngidam sesuatu yang tidak wajar dan bisa membahayakan kesehatan tidak harus dituruti bukan?

  1. Pilihan rasa saat ngidam berpengaruh pada jenis kelamin

Mitos lain yang beredar di masyarakat adalah keterkaitan ngidam dan jenis kelamin bayi. Wanita yang mengandung anak perempuan dikatakan menjadi lebih sering ngidam makanan manis, sementara anak laki-laki akan lebih sering ngidam makanan yang rasanya asin. Faktanya, belum ada penelitian ilmiah yang membenarkan hal ini.

Menurut teori ilmiah, peningkatan kadar hormon progesteron saat hamil akan berpengaruh pada fungsi dan metabolisme tubuh, termasuk pada organ pencernaan dan produksi air liur. Ketika produksi air liur meningkat, sensasi di mulut cenderung terasa kurang enak sehingga ibu hamil akan lebih sering meludah, mual, dan muntah. Ini membuat ibu hamil cenderung menginginkan makanan yang memiliki rasa tajam seperti asam dan asin untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY