Fakta Tentang Industri Film Porno di Jepang

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Tidak disangka, Industri film porno di Jepang memiliki fakta-fakta yang mengejutkan dan mungkin belum diketahui para penggemarnya. Apa saja fakta-fakta tersebut? Simak ulasannya berikut ini.

  1. Pembohongan Publik tentang “Pemain Bisa Bertahan Lama”

Pada banyak video porno yang dimainkan oleh aktor Jepang, digambarkan jika para pemainnya tidak mudah lelah dan bisa bertahan lama. Durasi akting saat berhubungan intim pun bisa mencapai satu jam, dengan pria tidak mengalami ejakulasi terlalu cepat. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa para pemain yang digaet oleh industri film porno di Jepang adalah mereka yang punya kelebihan melakukan hubungan intim. Beberapa prang menganggap ada terapis atau obat medis tertentu yang dilakukan agar membuat mereka begitu kuat.

Namun, ternyata “tahan lama” yang diperankan oleh para pemain Seks merupakan hasil rekayasa dari teknik yang dilakukan oleh industri terkait. Perlu diketahui, pembuatan film dewasa sebenarnya mirip dengan pembuatan film-film pada umumnya. Para kru film melalukan cut-scene, editing, hingga ‘take-action’. Fakta mengenai pemain bisa bertahan lama adalah sebuah pembohongan publik. Karena, sebenarnya para kru film merekamnya per frame, lalu menggabungkan hingga menjadi film utuh berdurasi panjang sehingga membuat kesan jika para pemain bisa bertahan lama.

Baca Juga :  – Kecanduan Film Porno Dapat Memicu Perceraian

  1. Jepang Melegalkan Industri Film Porno

Di Jepang memang melegalkan industri film porno, bahkan saat ini perusahaan-perusahaan yang bergulat di bidang blue film dan sejenisnya sedang ramai merekrut anggota baru. Mereka akan mengontrak aktris dan aktor muda yang berbakat untuk menjalankan sebuah proyek video porno sesuai arahan mereka.

Legalnya industri film dewasa oleh pemerintah Jepang tidak saja menuai pro-kontra dalam negeri, tapi juga dari negara-negara lain. Banyak reaksi yang diterima oleh Negeri Matahari Terbit itu. Mulai dari dukungan, Saran, kritik, hingga kecaman. Beberapa negara bahkan secara terang-terangan mengirim surat terbuka kepada PBB atas kebijakan Jepang yang melegalkan pembuatan film porno.

Meski demikian, Negeri Bunga Sakura itu tetap melaksanakan kebijakannya dalam melegalkan industri porno. Pemerintah mengatakan telah benar-benar melihat dari berbagai segi. Mulai dari efek buruk, hingga keuntungan atau manfaat yang didapat dari kebijakan legalnya industri film porno terhadap negara Jepang dan juga negara lain.

Baca Juga : Efek Film Porno Terhadap Kehidupan Seksual

  1. Kelamin Pria Tetap Harus Disensor

Walaupun telah melegalkan industri film porno, pemerintah Jepang tetap memberlakukan suatu peraturan dan harus dipatuhi bagi para pebisnis hiburan panas ini. Salah satu peraturan sensor dalam pembuatan film dewasa di Jepang adalah penyensoran di bagian alat vital laki-laki atau penis. Entah apa alasannya, detail ‘burung’ milik pemain laki-laki tidak boleh diperlihatkan secara langsung.

Dilihat dari segi sejarah, penyensoran ini merupakan kebudayaan Jepang zaman dahulu yang dipertahankan hingga sekarang. Konon, industri film porno di Jepang telah ada sejak lama sekali. Sehingga penyensoran  alat kelamin pria dianggap sebagai penghormatan terhadap nilai-nilai moral dari leluhur mereka.

  1. Adegan Bercinta yang Diarahkan

Pada Film dewasa Jepang, banyak ditemui memiliki alur cerita yang runtut. Hal ini karena film seperti ini lebih diminati ketimbang yang menyajikan bagian hubungan intim saja. Beberapa adegan pun disusun oleh sutradara. Mulai dari pertemuan, percakapan antar pemain, hingga berakhir di ranjang. Melihat penonton lebih menyukai blue film yang seperti ini, maka industri film porno mulai berlomba-lomba menyajikan tema dan akting terbaik untuk mendapatkan penggemar. Adegan bercinta pun di atur sedemikian rupa agar menarik minat banyak penonton. Pemain yang membintangi diharapkan dapat memerankan perannya sesuai naskah dari sutradara.

Baca Juga : Alasan Pria Menyukai Pornografi

  1. Kasus Pemerkosaan Rendah

Meski Jepang telah melegalkan industri film dewasa dan dibuka banyak lowongan “kerja” sebagai pemeran bintang porno, serta tingkat persentase remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah itu tinggi, tidak membuat Jepang sebagai negara yang memiliki jumlah kasus pemerkosaan tinggi.

Berdasarkan informasi yang didapat dari berbagai sumber, perbandingan kasus pemerkosaan yang dialami masyarakat Indonesia dan Jepang adalah 1:55. Artinya, apabila di Jepang ada satu orang  mendapat tindakan pelecehan seksual, maka di Indonesia akan ada 55 orang yang mengalami hal serupa. Data ini tentu membuat siapa pun merasa ironis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here