Faktor Pemicu Asma

SehatFresh.com – Asma merupakan gangguan pernapasan kronis yang ditandai dengan serangan sesak napas. Jika Anda menderita asma, serangan asma dapat terjadi ketika Anda terpapar pemicu asma. Para ahli percaya bahwa kombinasi faktor genetik dan lingkungan (seperti riwayat keluarga, infeksi virus di masa kecil, dan paparan alergen) dapat menyebabkan asma atau setidaknya meningkatkan sensitifitas tubuh seseorang terhadap pemicu asma.

Pada dasarnya, dua kondisi utama yang menyebabkan asma ialah peradangan dan konstriksi (penyempitan) jalan napas. Ketika saluran udara bengkak (meradang), ini membuat saluran udara sangat sensitif terhadap iritan. Pembengkakan mempersempit saluran udara, sehingga sulit untuk bernapas normal. Ketika saluran udara bersentuhan dengan pemicu asma tertentu, otot-otot di sekitar saluran udara menjadi lebih kencang. Akibatnya, saluran udara menjadi lebih sempit dan menimbulkan sensasi sesak di dada.

Pemicu yang menyebabkan peradangan dan konstriksi jalan napas bisa berbeda setiap orangnya. Secara umum, pemicunya meliputi:

  • Alergi

Alergi sering dikaitkan dengan asma. Tapi, tidak semua orang yang memiliki alergi akan menderita asma. Reaksi alergi yang dipicu oleh antibodi dalam darah sering menyebabkan peradangan saluran napas yang berhubungan dengan asma. Debu, tungau, kecoa, bulu hewan peliharaan, jamur, bahan kimia tertentu, seringkali menjadi pemicu alergi yang pada gilirannya menimbulkan gejala asma.

  • Merokok

Kita semua tahu bahwa rokok tidak baik bagi kesehatan. Bahan berbahaya dalam rokok akan mengiritasi saluran pernapasan, yang pada gilirannya menimbulkan berbagai masalah pernapasan termasuk asma. Asap rokok telah dikaitkan dengan risiko asma yang lebih tinggi dan risiko kematian yang lebih tinggi akibat asma, mengi, dan infeksi saluran pernapasan.

  • Polusi udara

Polusi udara menyebabkan penurunan fungsi paru-paru karena lapisan dalam saluran udara menjadi meradang, sehingga dapat menyebabkan masalah pernapasan. Polusi udara yang berasal dari pabrik-pabrik, mobil, asap rokok, asap pembakaran kayu, dan sumber lainnya sangat berpotensi menyebabkan asma pada anak-anak dan orang dewasa, serta menjadi pemicu yang membuat gejala asma semakin buruk. Penderita asma lebih sensitif terhadap polusi dan mereka mengalami efek yang lebih cepat dan berat.

  • Obesitas

Anak-anak dan orang dewasa yang kelebihan berat badan atau obesitas berisiko lebih tinggi terkena asma. Obesitas menyebabkan penyempitan jalan napas akibat timbunan jaringan lemak di sekitar saluran pernapasan.

  • Stres

Sejumlah studi telah menunjukkan adanya kaitan yang kuat antara stres dan gejala asma. Stres dapat melemahkan sistem imun akibat lonjakan hormon stres dalam tubuh. Hormon stres ini menyebabkan detak jantung lebih cepat, otot menjadi tegang dan pernapasan menjadi dangkal dan cepat (hiperventilasi). Perubahan pola pernapasan ini bisa memicu gejala asma seperti dada sesak dan batuk. Stres juga dikaitkan dengan peningkatan perilaku yang berhubungan dengan asma seperti merokok.

  • Cuaca

Timbulnya gejala asma juga berkaitan dengan cuaca. Cuaca panas bisa memicu gejala asma pada beberapa orang, karena bernapas di udara panas bisa menyebabkan penyempitan jalan napas yang memicu batuk dan sesak napas. Ketika kelembaban udara tinggi, hujan dan angin akan membawa spora jamur dan kelembaban mengubahnya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga menjadi lebih mudah terhirup dan berpotensi menyebabkan asma. Perubahan tekanan udara secara tiba-tiba juga bisa menimbulkan efek buruk bagi saluran pernapasan sehingga memicu asma.

  • Asma pada anak-anak

Anak dari orangtua yang memilki penyakit asma seringkali menderita kondisi kesehatan serupa. Para ahli memang telah mengaitkan gen dan asma. Pasalnya, gen memegang peranan dalam pengelolaan sistem kekebalan dan peradangan pada tubuh. Selain dipengaruhi faktor genetik, masalah pernapasan selama masa bayi dan kanak-kanak dapat menjadi cikal bakal dari penyakit asma. Pada beberapa anak yang mengalami infeksi virus pada pernapasan, kondisinya bisa berlanjut menjadi asma kronis. Anak-anak dari ibu yang merokok juga berisiko lebih tinggi terkena asma.

Sumber gambar :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY