Faktor Penyebab Janin Terlilit Tali Pusat

SehatFresh.com – Tali pusat adalah garis hidup antara janin dan ibunya. Selama kehamilan, tali pusat memasok nutrisi dan oksigen untuk bayi yang sedang berkembang. Tanpa tali pusat, bayi tidak dapat bertahan hidup selama periode kehamilan. Setelah bayi dilahirkan, tali pusat tidak lagi dibutuhkan dan bayi mulai bernapas sendiri. Namun, ada beberapa masalah tali pusat yang bisa timbul, baik itu selama kehamilan atau pada saat persalinan, salah satunya lilitan tali pusat.

Lilitan tali pusat terjadi ketika tali pusat melingkar di leher bayi. Umumnya, hanya satu lilitan saja. Tetapi dalam beberapa kasus, terdapat beberapa lilitan. Lilitan tali pusat bisa terjadi karena gerakan janin yang aktif di dalam rahim ibu, atau bisa juga terjadi ketika tali pusat sangat panjang. Tali pusat umumnya memiliki panjang berkisar 50-75 cm. Namun, ada juga yang panjangnya mencapai 90 cm dan ada yang kurang dari 50 cm. Suatu teori mengatakan bahwa gerakan janin yang aktif merangsang pertumbuhan tali pusat menjadi lebih panjang.

Para peneliti juga berspekulasi bahwa kekurangan gizi akan memengaruhi struktur dan pelindung tali pusat sehingga meningkatkan risiko adanya masalah pada tali pusat, serta faktor lainnya seperti merokok atau penggunaan narkoba, hamil anak kembar, atau kondisi kelebihan air ketuban juga semakin meningkatkan risiko terjadinya lilitan tali pusat.

Lilitan tali pusat bisa terjadi selama kehamilan atau saat persalinan. Pada kehamilan, yang bisa menjadi tanda adanya lilitan tali pusat adalah penurunan aktivitas janin setelah minggu ke 37. Tali pusat pada dasarnya memiliki gel yang disebut Wharton’s jelly. Gel ini menyediakan bantalan di sekitar pembuluh darah penting dan membuat tali pusat bersifat elastis dan tidak mudah tertekuk. Dengan demikian, lilitan pada umumnya tidak menganggu pasokan oksigen dan nutrisi untuk janin. Namun, bila ibu memiliki penyakit atau kelainan tertentu, ada kemungkinan gel ini tidak bisa berfungsi dengan baik sehingga bila terjadi lilitan dapat menyebabkan masalah yang bisa berdampak buruk bagi kondisi janin.

Ketika terjadi kontraksi rahim memasuki waktu persalinan, kepala janin mulai turun memasuki rongga panggul. Ini bisa mengakibatkan lilitan tali pusat menjadi semakin erat sehingga mengakibatkan penekanan pada pembuluh darah yang terdapat pada tali pusat. Akibatnya, suplai darah yang mengandung oksigen dan nutrisi untuk bayi menjadi berkurang yang pada gilirannya bisa mengakibatkan bayi menjadi kekurangan oksigen.

Lilitan tali pusat umumnya akan terlihat melalui pemeriksaan USG tiga atau empat dimensi ketika pemeriksaan kehamilan rutin. Lilitan tali pusat di daerah leher paling mudah diketahui karena terdapat ruang yang berbatasan dengan bahu. Selain di leher, lilitan tali pusat juga bisa terjadi pada ketiak atau tangan. Hanya saja, untuk mengetahui adanya lilitan di daerah tersebut tidaklah mudah.

Tidak semua bayi dengan kondisi lilitan tali pusat harus dilahirkan secara caesar. Bayi masih bisa dilahirkan secara normal didukung dengan perawatan khusus selama persalinan. Dengan mempertimbangkan berbagai hal, dokter mungkin menyarankan persalinan secara caesar terutama bila ada lebih dari satu lilitan tali pusat.

Kondisi lilitan tali pusat pada kehamilan merupakan suatu kondisi yang sulit atau bahkan tidak dapat dihindari atau dicegah. Maka dari itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin sangatlah diperlukan untuk memantau perkembangan kesehatan kehamilan dan bila ditemukan adanya kelainan, dapat segera diberikan perawatan yang tepat. Untuk mendukung tumbuh kembang janin yang sehat, penting untuk ibu menjadi kondisi fisik dan mentalnya dengan menerapkan pola hidup sehat.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY