Faktor Resiko Hernia Inguinalis pada Pria

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Hernia terjadi ketika sebuah organ atau jaringan terdorong melalui area lepah pada otot yang mengelilingi atau jaringan ikat pembungkusnya (fascia). Hernia diklasifikasikan berdasarkan lokasi terjadinya; yang sering terjadi adalah hernia inguinalis (inner groin), hernia femoralis (outer groin), hernia umbilikalis (pusar), hernia hiatus (perut bagian atas), dan hernia insisionalis (akibat luka insisi). Hernia lebih umum dialami oleh pria, kecuali hernia femoralis yang sering terjadi pada wanita dan hernia umbilikalis pada bayi baru lahir.

Dari beberapa tipe hernia, yang paling sering terjadi pada pria adalah hernia inguinalis. Hernia tipe ini terjadi ketika organ usus atau jaringan lemak terdorong pada area lemah di daerah inguinalis, sehingga menyebabkan timbul bagian yang menonjol pada groin atau scrotum. Gejala hernia inguinalis adalah adanya daerah menonjol pada groin atau scrotum, bisa disertai nyeri tajam atau rasa terbakar (terutama ketika membungkuk, berolah raga, atau batuk), dan kadang disertai mual muntah.

Hernia inguinalis diklasifikasikan secara anatomis menjadi direct inguinal hernia dan indirect inguinal hernia. Direct inguinal hernia terjadi ketika organ dalam abdominal protrusi melalui area lemah kanal inguinalis, medial terhadap arteri epigastrikus inferior, yaitu melalui Hesselbach’s triangle. Pada indirect inguinal hernia, kantung hernia muncul melalui bagian internal cincin inguinalis, masuk ke dalam kanal inguinalis. Berikut ini adalah faktor resiko hernia inguinalis pada pria:

  • Faktor usia

Sebuah penelitian epidemiologi di Amerika menunjukkan bahwa pria usia separuh baya memiliki resiko mengalami hernia dua kali daripada pria usia lebih muda, sedangkan pada pria yang lebih tua resiko meningkat mencapai tiga kali. Pada usia tua, fungsi organ-organ tubuh cenderung mengalami penurunan kinerja dan fungsi, termasuk juga otot. Hal ini diduga menjadi pencetus hernia pada pria yang lebih tua.

  • Faktor genetik

Pria yang memiliki riwayat keluarga yang mengalami hernia lebih beresiko mengalami hernia inguinalis daripada yang tanpa riwayat. Faktor genetik yang diduga terlibat adalah gangguan atau defek kongenital pada serat kolagen tipe III atau kelainan jaringan ikat lain, seperti Ehlers-Danlos syndrome dan Marfan syndrome.

  • Batuk kronis

Beberapa penyakit yang memiliki gejala batuk kronis, seperti asthma dan bronkitis dapat meningkatkan tekanan abdominal. Kebiasaan merokok yang telah berdampak menimbulkan batuk kronis juga berpotensi menjadi pencetus hernia.

  • Aktivitas atau olah raga dengan beban

Aktivitas atau olah raga yang menggunakan beban beresiko menyebabkan hernia. Mengangkat beban berat secara rutin berpotensi meningkatkan tekanan intraabdominal, dan pada beberapa kasus, bisa menimbulkan cedera pada conjoint tendon dan inguinal ligament, yang dapat menimbulkan hernia. Jika inguinal hernia yang terjadi adalah akibat cedera tendon dan ligamen, kondisi ini lebih dikenal dengan sportman’s hernia.

Penegakan diagnosis hernia adalah melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebagai penunjang. Pilihan terapi  hernia hingga saat ini adalah melalui prosedur bedah. Pasien hernia yang menjalani operasi memiliki prognosis baik, selama belum terjadi kerusakan pada organ dalam yang terlibat. (MHW)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here