Faktor Risiko Atrofi Vagina

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Atrofi vagina merupakan salah satu kondisi yang menjadi keluhan kebanyakan wanita menopause. Istilah atrofi vagina dapat didefinisikan sebagai pengeringan dan peradangan pada dinding vagina yang umumnya karena penurunan kadar estrogen dalam tubuh. Kondisi ini merupakan penyebab umum mengapa wanita menopause cenderung merasa nyeri saat berhubungan intim. Bahkan, beberapa wanita juga mengalami kesulitan buang air kecil dan infeksi vagina (vaginitis). Tak hanya wanita menopause, para wanita muda yang belum menopause juga bisa mengalami kondisi ini akibat ketidakseimbangan hormon seiring dengan gaya hidupnya yang buruk.

Usia merupakan faktor risiko utama untuk atrofi vagina dan tidak dapat dimodifikasi. Di masa menopause, produksi estrogen mulai berkurang dan secara bertahap berhenti. Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang berusia 51-60 tahun. Salah satu dampak dari menurunnya kadar estrogen adalah atrofi vagina. Selain itu, jumlah pelumas alami pun menurun sehingga semakin berdampak buruk pada kehidupan seksual Anda. Meskipun penurunan estrogen karena menopause memang terjadi secara alami, saat ini sudah tersedia perawatan yang dapat membantu meringankan dan mengatasi keluhan terkait menopause.

Namun, usia bukanlah satu-satunya faktor risiko atrofi vagina. Terdapat beberapa faktor risiko lain yang perlu menjadi perhatian bagi setiap wanita, yaitu:

  • Merokok. Nikotin dan zat lainnya dalam rokok berpengaruh buruk pada sirkulasi darah sehingga jaringan dan sel tubuh tidak menerima cukup oksigen. Terus-terusan merokok sama saja dengan menumpuk racun dalam tubuh. Tak hanya merusak kesehatan jantung, vagina pun terkena imbasnya. Selain itu, kebiasaan merokok juga menurunkan kemampuan ovarium dalam memproduksi estrogen serta mengurangi efek alami dari cara kerja estrogen dalam tubuh. Menurut penelitian pun, wanita yang merokok cenderung mengalami menopause dini (sebelum 40 tahun).
  • Belum pernah melahirkan secara normal. Menurut Mayo Clinic, para wanita yang belum pernah melahirkan secara normal (persalinan per vaginam) cenderung lebih cepat mengalami atrofi vagina ketimbang wanita yang pernah melahirkan secara normal.
  • Berhenti berhubungan intim. Bagi Anda wanita yang menikah dan aktif secara seksual, berhenti atau sudah lama berhubungan seks dapat memicu atrofi vagina. Pasalnya, aktivitas seksual meningkatkan aliran darah dan membuat jaringan vagina tetap sehat dan elastis.
  • Pengobatan medis. Sejumlah prosedur medis juga dapat menimbulkan komplikasi atrofi vagina. Ini seperti operasi pengangkatan ovarium, kemoterapi atau terapi radiasi panggul untuk pengobatan kanker, dan efek samping terapi hormonal kanker payudara.
  • Underweight. Wanita kurus cenderung memiliki kadar estrogen yang lebih rendah. Estrogen yang rendah tak hanya meningkatkan risiko atrofi vagina, tetapi juga osteoporosis dan sulit hamil.

Melihat hal-hal di atas, beberapa faktor risiko untuk atrofi vagina bisa dikendalikan. Gaya hidup sehat dengan menerapkan pola makan sehat, cukup istirahat, rutin berolahraga, dan menjauhi rokok, dapat meminimalisir risiko atrofi vagina pada wanita muda serta mengurangi keparahan gejala pada wanita menopause. Bagi yang kekurangan berat badan, Anda bisa meminta saran ahli gizi dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk mengetahui solusi tepatnya. Berhubungan seks secara teratur dengan suami tentu tak hanya menurunkan risiko atrofi vagina, tapi juga meningkatkan kualitas hubungan Anda. Bila Anda merasakan keluhan pasca menjalani prosedur medis di area reproduksi, segera konsultasi dengan dokter agar keluhan yang dirasakan tidak menurunkan kualitas hidup Anda untuk waktu yang lama.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY