Faktor Risiko Bunion pada Wanita

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Pernahkah Anda mengalami atau melihat orang lain yang jempol kakinya melengkung dan sering mengeluh sakit karenanya? Jika iya, kemungkinan besar itu merupakan bunion, yaitu benjolan tulang yang terbentuk pada sendi di pangkal jempol kaki akibat deformitas sendi. Kondisi ini membuat bentuk jempol kaki miring ke arah telunjuk. Awalnya, Anda mungkin tidak menyadari saat pertama bunion berkembang karena tidak menimbulkan gejala yang berarti. Namun, seiring waktu Anda akan merasakan nyeri pada jempol kaki disertai gejala lainnya, seperti kulit pada sisi jempol yang memerah atau meradang, kulit bagian bawah jempol yang menebal, hingga kesulitan menggerakkan jempol.

Berkaitan dengan genetik, munculnya bunion diyakini karena kelainan struktur kaki yang sifatnya turunan, seperti kaki datar. Selain faktor turunan, munculnya bunion dikaitkan dengan penggunaan sepatu yang kurang tepat. Jika dibiarkan, bunion dapat menimbulkan rasa sakit yang lebih intens dan parah akibat timbulnya komplikasi, seperti bursitis (bantalan tulang dan sendi meradang), hammertoe (salah satu jari-jari kaki yang membungkuk di seperti memiliki cakar) dan metatarsalgia (peradangan dan nyeri pada bagian depan telapak kaki). Tentunya, Anda tidak ingin hal ini menimpa Anda bukan?

Angka kejadian bunion lebih tinggi pada wanita ketimbang pria. Terlepas dari kaitannya dengan genetika, munculnya bunion masih bisa dicegah. Untuk para wanita, pencegahan bunion dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor risikonya, yaitu:

  • Penggunaan high heels. Sepatu hak tinggi atau lebih sering disebut high heels dipercaya dapat meningkatkan kepercayaan diri karena membuat wanita terlihat cantik dan seksi. Namun, ada risiko kesehatan yang menyertainya, termasuk bunion. Memakai high heels menempatkan tekanan lebih pada jari-jari kaki sehingga memaksa jari-jari kaki “berkerumum” di bagian depan sepatu.
  • Penggunaan sepatu yang tidak sesuai bentuk kaki. Mengenakan sepatu yang tak sesuai dengan bentuk kaki juga rentan menyebabkan rasa sakit atau cedera pada kaki. Tak hanya high heels, flat shoes pun bila tidak sesuai dengan bentuk kaki juga membawa risiko kesehatan. Terlepas dari jenis sepatunya, sepatu yang sempit apalagi bila ujung sepatu berbentuk lancip juga meningkatkan risiko berkembangnya bunion.
  • Balet. Bunion dilaporkan banyak dialami oleh penari balet. Gerakan yang dilakukan penari balet terutama gerakan klasik “en pointe” dapat meningkatkan risiko bunion. En pointe adalah gerakan ketika penari balet berdiri menahan keseimbangan dengan ujung jari-jari kaki. Teknik balet klasik ini menempatkan tekanan dan stres lebih pada ibu jari.
  • Menderita arthritis. Beberapa jenis arthritis dicurigai dapat memicu bunion, yaitu rheumatoid arthritis (peradangan dan nyeri sendi karena sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan sendi), asam urat, arthritis psoriatis (arthritis yang berhubungan dengan psoriasis). Di sisi lain, arthritis di jari kaki juga dapat berkembang sebagai akibat dari bunion.

Untuk mengendalikan beberapa faktor risiko di atas, langkah pencegahan sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • Bijak memakai high heels dengan tidak menggunakannya sepanjang hari. Para ahli kesehatan menyarankan untuk tidak memakai high heels lebih dari dua jam jika Anda berdiri atau banyak berjalan. Selain itu, jangan abaikan tanda yang tak biasa pada kaki Anda.
  • Pastikan sepatu yang Anda kenakan ukurannya sesuai sehingga tidak membuat jari-jari kaki terasa kaku atau teriritasi.
  • Hindari sepatu yang berujung runcing atau lancip. Lebih baik pilih model sepatu yang menyediakan ruang antara ujung jari kaki terpanjang dan ujung sepatu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY