Faktor Risiko Hamil kosong (Blighted Ovum)

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kehamilan adalah masa yang ditunggu-tunggu oleh pasangan yang sudah menikah, khususnya bagi kaum wanita kondisi kehamilan menjadi sangat penting. Namun, tahukah Anda jika kehamilan yang dialami oleh wanita bisa saja mengalami gangguan? Salah satu gangguan yang dapat terjadi adalah blighted ovum.

Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan. Seorang wanita yang mengalaminya juga merasakan gejala-gejala kehamilan seperti terlambat menstruasi, mual dan muntah pada awal kehamilan (morning sickness), payudara mengeras, serta terjadi pembesaran perut, bahkan saat dilakukan tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium hasilnya pun positif.

Kondisi blighted ovum ini dapat terjadi karena saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun akibat berbagai faktor maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna dan hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan. Meski demikian plasenta tersebut tetap tertanam di dalam rahim dan plasenta tersebut menghasilkan hormon HCG (human chorionic gonadotropin) dimana hormon ini akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon HCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif. Karena tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium pada umumnya mengukur kadar hormon HCG (human chorionic gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai hormon kehamilan.

Seorang wanita yang mengalami blighted ovum biasanya tidak mudah untuk diidentifikasi karena gejala yang ditimbulkan tidak spesifik, maka biasanya blighted ovum baru ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa sekitar 60% blighted ovum disebabkan karena adanya kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur dan sperma. Selain itu infeksi TORCH, rubella dan streptokokus, penyakit kencing manis (diabetes mellitus) yang tidak terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor imunologis seperti adanya antibodi terhadap janin juga dapat menyebabkan blighted ovum. Risiko blighted ovum dapat meningkat seiring dengan bertambahnya  usia suami atau istri karena semakin tua usia akan menyebabkan kualitas sperma atau ovum menjadi turun.

Untuk mengenali gangguan ini Anda perlu mengetahui gejal yang baisa ditimbulkan oleh blighted ovum antara lain:

  • Mual dan Muntah
  • Payudara mengeras
  • Lemas
  • Perdarahan pervaginal
  • Nyeri abdomen
  • Perkembangan uterus yang melambat

Seperti gangguan danpenyakit lainnya, blighted ovum tentunya dapat Anda cegah agar tidak terjadi. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mlakukan pencegahan antara lain:

  • Melakukan imunisasi. Hal ini penting untuk Ibu agar terhindar dari masuknya virus rubella ke dalam tubuh
  • Rencanakan kehamilan yang sehat.Tak hanya pada calon ibu, calon ayah pun disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokok dan memulai hidup sehat saat prakonsepsi.
  • Melakukan pemeriksaan kromosom.Periksakan kehamilan secara rutin. Sebab biasanya kehamilan kosong jarang terdekteksi saat usia kandungan masih muda.
  • Selalu mengontrol kadar gula darah. Lakukan pemeriksaan kromosom, utamanya bagi pasutri di atas 35 tahun
    Membiasakan pola hidup sehat.

Blighted ovum terjadi pada saat awal-awal kehamilan, kondisi ini tidak berpegaruh terhadap rahim ibu atau terhadap masalah kesuburan. Seseorang yang pernah mengalami blighted ovum dapat kembali hamil normal, namun perlu diperhatikan jika seseorang mengalami blighted ovum berulang sebaiknya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan yang intensif, karena dikhawatirkan adanya kelainan kromosom yang menetap pada diri ibu atau suami. Biasanya pemeriksaan dilakukan dengan tes genetika atau juga dilakukannnya terapi selama 1-3 bulan sebelum mencoba hamil kembali.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY