Faktor Risiko Kurangnya Vitamin D pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Vitamin D adalah vitamin yang didapatkan dengan mudah. Hanya dengan berjemur dibawah sinar matahari kita sudah bisa mendapatkan vitamin D yang sangat berguna bagi tubuh terutama untuk pertumbuhan tulang dan gigi.

Grup vitamin yang larut dalam lemak prohormon ini juga sering disebut sebagai vitamin matahari karena sinarnya mempunyai kandungan 80% dari vitamin D. Vitamin ini mempunyai 2 jenis aktif yaitu D2 atau dikenal dengan nama ergokalsiferol yang berasal dari turunan senyawa kolesterol. D2 banyak ditemukan pada ragi dan tanaman. D3 atau (kolekalsiferol) sendiri terdapat dalam minyak hati ikan dan kuning telur, dan sinar matahari.

Kekurangan vitamin D yang berat dapat menyebabkan terserangnya penyakit riketsia nutrisional terutama pada anak usia 6 bulan-2,5 tahun. Gejala yang timbul dari penyakit ini, seperti kelemahan otot, keterlambatan perkembangan gerak motorik, pembesaran area pergelangan tangan dan lutut, tungkai berbentuk O, gangguan bentuk kepala, keterlambatan pertumbuhan gigi, penurunan kepadatan tulang, dan infeksi.

Menurut survei di Indonesia, 43% anak perkotaan dan 44% anak pedesaan mengalami defisiensi vitamin D (kadar vitamin D darah < 30 nmol/L). Tentu terdapat sesuatu yang melatar belakanginya. Terdapat beberapa faktor risiko yang memengaruhi anak untuk kekurangan vitamin D, faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Kurangnya paparan sinar matahari. Gaya hidup dapat memengaruhi anak untuk kekurangan paparan sinar matahari, seperti gaya hidup anak yang lebih senang main di dalam ruangan dibandingkan di luar ruangan, jarangnya ibu untuk melakukan kebiasaan menjemur bayi di pagi hari, dan penggunaan tabir surya. Berjemur sebaiknya dilakukan pukul 10.00 sampai 15.00 untuk mendapatkan paparan sinar matahari langsung. Kandungan ultraviolet A dari sinar matahari berfungsi untuk mengubah provitamin D di kulit menjadi vitamin D. Orang yang mempunyai kulit gelap pada umumnya memerlukan paparan sinar matahari yang lebih tinggi dibanding orang berkulit putih.
  • Asupan makanan yang sedikit mengandung vitamin D. Menurut penelitian, anak Indonesia hanya mengonsumsi sedikit makanan yang kaya vitamin D. Telur adalah salah satu sumber vitamin D yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, namun kandungan vitamin D pada telur belum cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D pada tubuh anak, yaitu: anak usia 0-12 bulan membutuhkan sebanyak 400 IU vitamin D, usia 1-70 tahun membutuhkan sebanyak 600 IU vitamin D, dan usia lebih dari 70 tahun membutuhkan sebanyak 800 IU vitamin D. Kurangnya asupan vitamin D pada anak dikarenakan anak jarang mengonsumi ikan tuna, sarden, mackerel, dan keju sehingga kadar vitamin C pada tubuhnya rendah. Rendahnya ketersediaan makanan yang difortifikasi vitamin D dan kurangnya asupan makanan yang mengandung lemak turut berperan dalam rendahnya kadar vitamin D di darah.
  • Pemberian ASI berkepanjangan tanpa suplementasi vitamin D. Pemberian ASI saja belum dapat mencukupi kebutuhan vitamin D harian pada anak dibutuhkan bantuan suplemen vitamin D untuk memenuhi kebutuhan vitamin D anak.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY