Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Sosial Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Perkembangan sosial remaja perlu menjadi perhatian orangtua, terutama ketika anak menginjak usia remaja. Di masa pencarian jati diri ini, remaja akan merasakan banyak gejolak dalam dirinya. Hal ini wajar sebagai bagian dari proses menuju pendewasaan. Namun, jika tidak disertai pendampingan yang baik, remaja bisa kesulitan dalam membangun hubungan sosial di masa dewasanya kelak. Untuk itu, penting bagi orangtua untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan remaja, termasuk perkembangan sosial. Karena keterampilan sosial ini merupakan dasar yang penting bagi remaja agar siap menghadapi dunia luar.

Berikut adalah faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan sosial remaja:

  • Keluarga

Remaja yang memiliki hubungan baik dengan orangtua mereka lebih kecil kemungkinannya terlibat perilaku berisiko, seperti merokok, minum minuman keras, berkelahi, atau melakukan hubungan seksual usia dini. Di masa pubertas, umumnya akan sering terjadi konflik karena perbedaan pendapat antara orangtua dan anak. Bagaimana menentukan sikap bijak dalam menghadapi ini memang menjadi tantangan bagi para orangtua. Semakin dimarahi, anak akan semakin memberontak. Untuk itu, penting bagi para orangtua dan anggota keluarga lainnya menjadi teladan yang baik untuk berbagai perilaku, termasuk cara berkomunikasi yang efektif dan keterampilan menjalin hubungan sosial yang baik. Bila ada konflik, ajaklah anak bernegosiasi sehingga anak merasa pendapatnya dihargai dan tidak sampai melakukan perilaku berisiko sebagai bentuk pemberontakan.

  • Budaya

Karakteristik budaya juga memengaruhi perkembangan keterampilan sosial remaja. Anak-anak dari budaya minoritas mungkin mengalami diskriminasi karena perbedaan etnis, agama, atau kelas sosial. Diskriminasi bisa berdampak serius pada kesehatan mental anak dan perkembangan sosialnya. Selain diskriminasi dari lingkungannya, orangtua juga mungkin tanpa disadari melakukan intimidasi atau bullying pada anaknya. Misal, ketika anak tak mau belajar, orangtua langsung mencubit anak. Orangtua mungkin tak tahu bahwa perlakuan mencubit seperti itu termasuk bullying karena sewaktu kecil orangtua sang anak diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya. Hal seperti ini bisa membuat anak tidak percaya diri, termasuk ketika berinteraksi dengan dunia luar.

  • Teman sebaya

Dalam proses pencarian jati dirinya, remaja mulai memisahkan diri dari orangtuanya dan cenderung menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman-temannya di sekolah, lingkungan rumah, maupun media sosial. Kedekatan dengan teman sebaya ini membuat remaja mulai membentuk persahabatan ataupun menjalin hubungan dengan lawan jenis. Hubungan dengan teman sebaya dapat memberi pengaruh positif, seperti motivasi akademik ataupun berpartisipasi melakukan berbagai kegiatan positif. Di sisi lain, teman sebaya juga dapat memberi pengaruh negatif, seperti ajakan untuk merokok, minum minuman keras, mencoba narkoba, mencuri dan perilaku berisiko lainnya. (RFZ)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY