Food Dan Mood

SehatFresh.com – Mood (suasana hati) dipengaruhi makanan, pernahkah Anda mendengar akan hal itu? Diet tinggi gula tambahan dan lemak, oleh sejumlah penelitian, telah dikaitkan dengan kesehatan mental yang buruk. Menurut para ahli, efek makanan terhadap mood didasarkan pada perubahan diet membawa perubahan dalam struktur otak (kimiawi dan fisiologis), yang dapat menyebabkan perubahan perilaku.

Menurut Patrick Holford, seorang ahli gizi dari London dan juga penulis “The Feel Good Factor: 10 Proven Ways to Boost Your Mood and Motivate Yourself”, makanan adalah alat yang ampuh yang sering diabaikan dalam efeknya pada kesehatan mental. Mengapa bisa dikatakan ampuh? Makanan memengaruhi metabolisme tubuh, hormon dan neurotransmiter (zat kimia mood yang diproduksi di otak), dan pada gilirannya memengaruhi emosi, konsentrasi dan energi. Protein, karbohidrat dan vitamin dalam makanan bekerja untuk menjaga metabolisme, hormon dan neurotransmiter agar tetap terkendali serta menyeimbangkan suasana hati.

Hubungan antara makanan dan suasana hati salah satunya terletak pada karbohidrat yang pada gilirannya terkait dengan asam amino nonessensial yang dikenal sebagai triptofan. Ketika lebih banyak triptofan masuk ke otak, maka lebih banyak serotonin yang akan disintesis di otak sehingga suasana hati cenderung membaik. Serotonin telah diketahui sebagai regulator mood yang dibuat secara alami di otak dari triptofan dengan beberapa bantuan dari vitamin B. Makanan lain yang dianggap dapat meningkatkan kadar serotonin di otak adalah ikan dan makanan sumber vitamin D.  Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah mencatat bahwa omega-3, yaitu asam lemak tak jenuh ganda yang ditemukan dalam lemak ikan, biji rami, dan kenari, dapat membantu mencegah depresi. Hal ini dikarenakan omega-3 tampaknya memengaruhi jalur neurotransmitter di otak.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa makan sarapan secara teratur juga telah dikaitkan dengan perbaikan suasana hati, memori yang lebih baik, lebih banyak energi sepanjang hari, dan perasaan ketenangan. Hal ini cukup beralasan bahwa melewatkan sarapan menyebabkan kelelahan dan kecemasan. Sarapan yang baik adalah sarapan dengan menu yang kaya akan kandungan serat, protein tanpa lemak, lemak baik dan karbohidrat dari biji-bijian utuh.

Menurut temuan penelitian tahun 2014 yang dipublikasikan dalam jurnal online “PloS One”, diet tidak sehat jangka panjang merupakan faktor risiko untuk depresi. Dalam penelitian yang melibatkan 3663 partisipan itu, apa yang dimaksud diet tidak sehat adalah makanan tinggi gula dan makanan olahan.

Jenis makanan yang dikonsumsi, porsi dan kebiasaan makan lainnya akan memengaruhi suasana hati Anda. Sering melewatkan jam makan dan makan berlebihan merupakan kebiasaan yang dapat membuat bahan kimia otak dan hormon menjadi kacau. Jam makan yang teratur, asupan kalori yang terkontrol dan makanan bergizi seimbang merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam pengendalian berat badan yang sehat.

Sumber gambar : www.cravebits.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY