Gangguan Mental Seseorang yang Kecanduan Media Sosial

0
4
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Saat ini media sosial menjadi bagian dari proses interaksi yang dilakukan oleh setiap orang. Peningkatan user setiap media sosial dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Seperti di lansir dalam techinasia (30/01/17) pengguna media sosial dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dan Facebook menjadi media sosial dengan jumlah user terbanyak di bandingkan media sosial lainnya seperti twitter, instagram, linkedin dan path.

Penggunaan media sosial tersebut adakalanya menjadi sebuah keuntungan tersendiri, karena dengan menggunakan media sosial alur komunikasi menjadi lebih mudah dan tingkat keterhubungan menjadi sangat tak berbatas ruang dan waktu.

Namun disisi lain penggunaan media sosial menyimpan sebuah potensi yang cukup berbahaya dari segi kesehatan mental. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Igor seorang peneliti dan juga psikolog dalam penelitiannya yang telah terbit dalam Cyberpsychology, Behavior and Social Networking berjudul Online social networking and Mental Health mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial berpotensi merubah aspek normal seorang manusia dalam berinteraksi, hingga membuat mereka mengalami gangguan psikologis dan kesehatan.

Depresi

Dalam penelitiannya juga di temukan bahwa, penggunaan media sosial seperti facebook dapat membuat aktifnya symptom dari depresi. Para pengguna aktif media sosial di malam hari berpengaruh pada rendahnya harga diri terutama pada pengguna berusia anak-anak dan remaja.

Depresi yang terjadi karena dalam media sosial persaingan untuk menampilkan diri secara sempurna menjadi sebuah hal yang marak terjadi. Menampilkan diri secara sempurna disebabkan keinginan seseorang untuk menjadi lebih popular. Dan dengan kepopulerannya tersebut membuat drajat sosial pergaulan para penggunanya meningkat.

Kondisi seperti inilah yang menjadi alasan para remaja untuk selalu ingin memperlihatkan gaya hidup yang mewah dan editing fisik tubuh agar terlihat sempurna dan dipandang sebagai bagian dari orang yang kaya. Walaupun kondisi keluarga serba terbatas, tak menghalangi mereka untuk meminta agar fasilitas kemewahan dapat mereka sertakan untuk di foto dan di share dalam akun media sosial mereka.  Sensitifitas komentar buruk dan jumlah like pun mempengaruhi mereka.

Obsesive Complusive

Pada taraf tertentu penggunaan media sosial dapat menjadi sebuah boomerang bagi penggunannya. Fitur like, komentar, sharing, dan chatting di dalamnya membuat seseorang ingin selalu melihat notifikasi yang ada di dalamnya. Sensasi mendapatkan tanggapan berupa like pun berpotensi membuat seseorang semakin impulse terhadap penggunaan media sosial.

Dalam kasus lain, hal ini pernah terjadi pada seorang remaja bernama Bowman. Remaja berusia 15 tahun ini mengalami gangguan Obsesive Complusive diakibatkan kegemarannya memposting dirinya di media sosial. Aktifitas postingannya yang direspon oleh pengguna lainnya, akhirnya membuat Bowman terdorong untuk memposting berulang foto dirinya. Ia merasakan sensasi bahagia saat ia mendapatkan like dan pujian yang banyak

Ia pun terobsesi bahwasanya foto yang di postingnya harus sempurna demi mendapatkan like yang banyak. Bowman mengungkapkan bahwa ia lebih baik mati saja daripada foto selfie yan di postingnya tidak sempurna seperti dikutip dalam The independen.

Dari kasus di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media sosial berpotensi menyebabkan para pencandunya mengalami depresi, obsessive compulsive, hingga yang terburuk adalah keinginan untuk melakukan bunuh diri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY