Gejala Awal Autisme pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Autism Spectrum Disorder (ASD) atau yang lebih dikenal dengan autisme/autis merupakan salah satu gangguan pada perkembangan syaraf anak. ASD sendiri tidak hanya autism, tapi juga sindrom Heller, sindrom Asperger, dan gangguan pada perkembangan pervasif (PPD-NOS). Gangguan ini memengaruhi kemampuan berinteraksi, bersosialisasi dan cara berkomunikasi pada anak.  ASD sendiri merupakan keadaan yang tidak bias disembuhkan. Sehingga gejalanya harus diketahui sejak dini.

Meski tidak bias disembuhkan, ada beberapa penanganan yang bias dilakukan untuk membuat penderita autisme mampu menyesuaikan dirinya saat berada di lingkungan, serta mampu berkomunikasi dengan baik. Menurut penelitian, di Indonesia ada sekitar 2,4 orang penderita autisme, yang berarti ada satu penderita autisme dari setiap 100 kelahiran bayi di Indonesia.

Penyebab autisme secara pasti belum diketahui. Namun, ada beberapa macam penyebabnya yang salah satunya ialah pengaruh genetika dan lingkungan. Dalam beberapa kasus, seorang anak bias menderita autisme, karena faktor penyakit tertentu. Memiliki garis keturunan penderita autism juga bias menjadi penyebab anak keturunannya menderita autisme.

Selain itu, konsumsi alcohol oleh ibu hamil juga meningkatkan resiko anaknya menderita autis. Kelahiran premature, khususnya kelahiran pada kehamilan 26 atau kurang juga berpengaruh pada perkembangan syaraf anak. Jika dibandingkan dengan wanita, pria memiliki resiko empat kali ebih besar untuk menjadi penderita autism.

Gejala anak yang mendertia autism biasanya baru terlihat setelah anak berusia tiga tahun. Gejala penderita autisme dibagi ke dalam dua kategori. Kategorinya ialah sebagai berikut:

  • Kategori gangguan pada komunikasi dan interaksi social, Pada kategori ini, anak akan memiliki masalah pada penggunaan bahasa verbal dan nonverbal. Jika penderita autism bisa berbicara, ia kurang menggunakannya saat berkomunikasi. Penderita autismee juga sering menggunakan bahasa yang tidak dimengerti orang lain.

Untuk interaksi social, penderita autisme tidak bisa merasakan empati terhadap orang lain, penderita autism juga tidak bisa bermain denngan teman sebayanya, karena kurangnya kemampuan mereka mengendalikan diri, bermajinasi, dan kurang bisa mengontrol ekspresi mereka.

  • Kategori kedua adalah gangguan pola piker, minat atau keinginan, dan perilaku yang dilakukan sangat terbatas. Biasanya kegiatan yang dilakukan hanya satu jenis dan dilakukan secara terpaku. Penderita autism juga sering melakukan gerakan berulang seperti meremas atau memukul.

Penderita autismee juga memiliki masalah dengan cara belajar dan masalah pada gangguan kejiwaan yang lain. Misalnya, gangguan pada rasa cemas, gangguan hiperaktif, dan depresi. (IKS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here