Gejala Bayi Susah BAB dan Cara Mengatasinya

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Tak hanya orang dewasa, bayi juga bisa mengalami susah buang air besar atau sembelit. Di masa pertumbuhannya, bayi kerap kali mengalami susah makan atau justru makan terus menerus. Ini bisa berdampak pada sistem pencernaannya. Salah satunya susah buang air besar (sembelit). Hal ini tak boleh dianggap remeh karena bisa berdampak pada tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Oleh karenanya, orangtua perlu mencermati tanda-tanda bayi susah buang air besar agar dapat segera diberi penanganan.

Bayi usia 0 hingga 5 bulan yang masih diberi dianggap wajar bila buang air besar seminggu sekali. Tapi, pada bayi yang usianya lebih tua yang sudah diberi makanan padat, frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu mengindikasikan bahwa ada masalah dengan sistem pencernaannya. Selain itu, bayi juga cenderung mengangkat kakinya sambil menangis. Bahkan, jika kondisinya sudah parah, dinding rektum bayi bisa robek akibat mencoba mengeluarkan feses yang keras sehingga meninggalkan bercak darah pada popok.

Ketika bayi menunjukkan tanda-tanda susah buang air besar, yang dapat orangtua lakukan adalah memperbaiki pola hidup, terutama pola makan. Caranya antara lain:

  • Mencukupi kebutuhan cairan. Bayi mendapatkan asupan cairan dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, terutama ASI. Kebutuhan cairan harus dicukupi setiap hari. Pasalnya, dehidrasi adalah salah satu pemicu umum mengapa feses menjadi keras dan susah dikeluarkan.
  • Makanan padat kaya serat. Di awal-awal bayi diberi makanan padat, bayi menjadi lebih rentan susah air besar. Ini karena pencernaan jadi “kaget” karena sebelumnya terbiasa diberi makanan cair. Risiko susah buang air besar semakin tinggi bila bayi diberi makanan pada minim serat, seperti nasi putih atau roti. Oleh karenanya, agar buang air besar bayi lancar, sertakan menu berserat dalam pola makan hariannya.
  • Takar susu formula dengan tepat. Peralihan dari ASI ke susu formula juga rentan membuat bayi sembelit. Oleh karenanya, pemberian susu formula harus sesuai dengan takaran yang dianjurkan pada kemasan. Susu formula yang terlalu kental berpotensi menyebabkan bayi susah buang air besar. Jika sejak mengonsumsi susu formula bayi menjadi susah buang air besar, orangtua bisa beralih ke merk lain tapi sebaiknya dikonsultasikan dahulu dengan dokter.
  • Membuat bayi aktif bergerak. Jika bayi sudah bisa merangkak, buatlah ia merangkak lebih sering. Orangtua juga bisa menggerakkan kaki bayi seperti gerakan mengayuh sepeda. Ini dapat membantu meningkatkan pergerakan usus sehingga feses lebih mudah dikeluarkan.
  • Jadwal makan yang teratur. Pemberian makan yang teratur akan membuat tubuh bayi terbiasa dengan jadwal buang air besar yang teratur pula.

Cara-cara di atas juga dapat mencegah susah buang air besar terjadi lagi di kemudian hari. Namun, bila tak membuahkan hasil, segera bawa bayi Anda ke dokter, terutama bila ada bercak darah pada feses, susah makan, dan berat badan turun. (RFZ)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY