Gejala Depersonalisasi pada Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Beberapa orang beranggapan bahwa sakit jiwa atau gila hanya bisa terjadi bagi mereka yang mengalami stres berkepanjangan dan menghadapi masalah yang membuat mereka seperti tidak sanggup lagi menahan semua beban pikiran. Anda mungkin pernah melihat orang yang sering melamun sendiri atau berbicara sendiri, namun hal tersebut belum tentu disebabkan karena dia mengalami sakit jiwa. Kejadian tersebut bisa saja merupakan gejala dari penyakit depersonalisasi, bagi Anda yang belum pernah mendengar istilah depersonalisasi, pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang gejala yang terjadi khusunya pada remaja.

Gangguan depersonalisasi adalah suatu kondisi dimana persepsi atau pengalaman seseorang terhadap diri sendiri berubah. Kasus terjadinya depersonalisasi pada umumnya dipicu oleh stres, hal ini menyebabkan seseorang secara mendadak kehilangan rasa tentang diri mereka. Gangguan depersonalisasi diklasifikasikan sebagai salah satu dari gangguan disosiatif.

Depersonalisasi atau derealisasi pada penderitanya terjadi di beberapa titik. Tapi ketika perasaan ini terus terjadi atau tidak pernah benar-benar pergi, itu dianggap sebagai gangguan depersonalisasi-derealisasi. Gangguan depersonalisasi-derealisasi dapat menjadi semakin parah dan kemungkinan dapat mengganggu hubungan dengan orang lain, pekerjaan dan kegiatan sehari-hari lainnya.

Penjelasan mengenai persepsi atau pengalaman seseorang terhadap diri sendiri adalah dimana perasaan-perasaan tentang sesuatu yang tidak ada, dan tidak adanya keyakinan tentang identitas dirinya sendiri dan perasaan identifikasi dengan tubuh sendiri dan mengontrolnya.

Orang dengan gangguan depersonalisasi mengalami persepsi yang menyimpang pada identitas, tubuh, dan hidup mereka yang membuat mereka tidak nyaman, gejala umum yang biasanya terjadi yaitu perasaan hidup di alam mimpi dan kadang merasa mimpi itu seperti kenyataan. Gangguan depersonalisasi (depersonalization disorder) terjadi ketika seseorang terus-menerus atau berulang kali memiliki perasaan bahwa hal-hal di sekitarnya adalah tidak nyata atau ketika memiliki perasaan bahwa dapat mengamati diri dari luar tubuh sendiri. Perasaan depersonalisasi  bisa seperti kehilangan pegangan pada realitas atau hidup dalam mimpi dan hal ini akan sangat menganggu.

Pada penderita gangguan ini biasanya mengalami pengalaman sensori yang tidak biasa seperti merasa ukuran tangan dan kaki mereka berubah secara drastis atau suara mereka terdengar asing bagi mereka sendiri. Penderita juga merasa berada di luar tubuh mereka, menatap diri mereka sendiri dari kejauhan, terkadang mereka merasa seperti robot, atau mereka seolah bergerak di dunia nyata.

Setelah perasaan gelisah dan perasaan depresi biasanya gejala dari depersonalisasi kanmuncul dan seringkali terjadi setelah seseorang mengalami bahaya yang mengancam nyawa, seperti kecelakaan, penyerangan, atau penyakit atau luka serius. Beberapa gejala yang terjadi pada penderita gangguan depersonalisasi anatara lain:

  • Terus-menerus atau secara berulang memiliki perasaan bahwa dia menganggap dirinya adalah seorang pengamat luar dari pikirannya, tubuhnya, atau bagian dari tubuhnya sendiri.
  • Mati rasa dari respon indera dalam menanggapi respon lingkungan sekitar.
  • Merasa seperti robot atau perasaan seperti hidup dalam mimpi atau dalam sebuah film.
  • Sensasi bahwa tidak dapat mengendalikan tubuh dan tindakannya, termasuk berbicara.
  • Kesadaran hanyalah perasaan dan bukan realitas.
  • Pengalaman persisten atau berulang.

Sedangkan untuk penyebab dari gangguan ini masih tidak dapat dipahami dengan baik. Namun dicurigai hal ini dapat terjadi karena berkaitan dengan ketidakseimbangan kimia otak tertentu yang disebut neurotransmitter yang dapat membuat otak rentan terkena stres dan ketakutan yang tinggi. Beberapa gejala yang terjadi bisa disebabkan oleh beberapa hal berikut:

  • Trauma masa kanak-kanak, seperti keker verbal atau emosional atau menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga.
  • Tumbuh dengan gangguan signifikan orangtua sakit mental.
  • Bunuh diri atau kematian tak seorang teman dekat atau anggota keluarga.
  • Stres berat, keuangan atau yang berhubungan dengan pekerjaan.
  • Trauma berat, seperti kecelakaan mobil.

Pengobatan utama untuk gangguan depersonalisasi-derealisasi adalah terapi bicara (psikoterapi), meskipun terkadang obat juga digunakan kepada penderita gangguan ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY