Gejala HIV dan AIDS pada Wanita

SehatFresh.com – Kasus infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah kasus yang angkanya kini semakin meningkat termasuk di Indonesia. Tingginya risiko dari penyakit yang disebabkan virus ini, semakin diperparah dengan kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang kurang memadai, mengenai penanganan dan pencegahannya.

HIV dapat ditularkan kepada wanita melalui hubungan seks tanpa kondom atau karena paparan darah yang terkontaminasi. Aktifitas seks yang dilakukan secara bebas dan sering berganti pasangan memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi terkena infeksi HIV. Selain itu perilaku seks anal juga paling beresiko dalam penularan HIV. Selama kehamilan dan menyusui, seorang wanita yang terinfeksi kemungkinan akan menularkan virus ke anak. Ketika infeksi virus berkembang, sistem kekebalan tubuh secara bertahap melemah sampai pasien mengembangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome, yang dikenal sebagai AIDS.

  • Infeksi HIV akut

Gejala awal infeksi HIV terjadi satu sampai empat minggu setelah pasien telah terinfeksi virus. Gejala-gejala infeksi HIV akut biasanya menyerupai flu. Gejala umum yang dialami wanita adalah demam, kelelahan dan sakit kepala serta sakit tenggorokan dan pembengkakan kelenjar getah bening. Beberapa wanita juga mengalami ruam dan mengembangkan luka di mulut dan kerongkongan mereka.

  • Infeksi oportunistik

Perkembangan HIV dapat menyebabkan infeksi oportunistik, yaitu penyakit yang jarang disebabkan oleh agen yang tidak menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Infeksi ini terutama sering terjadi pada wanita yang tidak menerima pengobatan anti-retroviral. Infeksi oportunistik termasuk infeksi Candida (infeksi jamur) dan meningittis kriptokokus (infeksi jamur pada lapisan sistem saraf pusat). Wanita dengan HIV juga rentan terhadap toksoplasmosis, yang dapat menyebabkan infeksi otak yang mematikan dan diare parah yang disebabkan oleh cryptosporidia. Pasien juga rentan terhadap komplikasi dari herpes simplex virus, cytomegalovirus, virus JC dan human papillomavirus.

  • Gejala HIV stadium lanjut

Selain meningkatkan kerentanan pasien terhadap infeksi oportunistik, HIV juga dapat menyebabkan banyak gejala seiring dalam perkembangannya menjadi AIDS. Pasien mungkin mengalami demam kronis, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening selama beberapa bulan pada satu waktu. Beberapa wanita juga mengalami kelelahan parah dan penurunan berat badan yang cepat. AIDS juga dapat menyebabkan penglihatan kabur, kehilangan memori, depresi dan masalah neurologis lainnya. Mereka dengan HIV juga bisa mengalami bercak coklat, merah, ungu atau merah muda pada kulit mereka serta di bagian dalam hidung, kelopak mata dan mulut mereka.

Belum ada vaksin yang efektif mencegah HIV/AIDS dan belum ada obat untuk AIDS. Namun, Anda bisa melindungi diri agar tidak terinfeksi dengan menghindari kegiatan yang meningkatkan risiko tertular HIV. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan berhubungan seks menggunakan kondom dan tidak berbagi jarum atau alat suntik lainnya. Jika Anda ingin membuat tato atau tindik, pastikan selalu memakai jarum yang steril dan bersih serta jangan melakukannya di tempat sembarangan.

Sumber gambar : blog.awalbros.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY