Gejala Kehamilan Ektopik

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Pasangan yang sudah menikah tentunya sangat menantikan moment dimana sang istri mengalami kehamilan. Wanita yang mengalami kehamilan tentunya akan merasa bahagia. Biasanya, bagi yang pertama kali mengalami kehamilan akan sedikit kebingungan karena kurangnya pengalaman. Selain ketakutan akan proses melahirkan, masalah-masalah saat masa kehamilan pun akan membuat wanita biasanya menjadi panik dan stres. Namun, bagaimana jika kehamilan itu tidak disadari atau telat diketahui oleh pasangan? Hal ini disebut juga dengan kehamilan ektopik. Pernahkah Anda mendengar istilah ini? Pada kesempatan ini kita akan membahas lebih lanjut mengenai gejala kehamilan ektopik.

Kehamilan terjadi berawal dari sel telur yang telah dibuahi. Janin akan menempel pada dinding rahim dan berkembang selama sembilan bulan dalam proses normal. Dalam kasus kehamilan ektopik, telur yang telah dibuahi secara abnormal tidak menempel pada Rahim anmun menempel diorgan lain seperti tuba falopi yang merupakan organ paling sering ditempeli sel telur tersebut. Organ lain yang mungkin menjadi lokasi berkembangnya kehamilan ektopik adalah rongga perut, ovarium, serta leher rahim atau serviks.

Salah satu penyebab kehamilan ektopik yang paling umum terjadi adalah kerusakan tuba falopi, biasanya hal ini disebabkan karena inflamasi. Kerusakan ini akan menghalangi sel telur yang telah dibuahi untuk masuk ke rahim sehingga akhirnya menempel dalam tuba falopi itu sendiri atau organ lain. Selain itu, kadar hormon yang tidak seimbang atau perkembangan abnormal semasa wanita sedang dalam kandungan juga terkadang dapat berperan sebagai pemicu.

Pemeriksaan medis yang tidak memiliki USG dan hanya meraba perut kemudian menekannya saja menyebabkan letak dimana embrio tidak terlihat apalagi kehamilan ektopik hanya akan bertahan kurang dari tiga bulan. Embrio yang kurang dari tiga bulan tidak bisa teraba tangan. Embrio yang berumur empat bulan baru bisa teraba dengan tangan.

Hal itulah yang menyebabkan mengapa kehamilan ektopik sulit terdeteksi sejak dini. Tentunya harapan setiap wanita adalah ingin kehamilannya bisa terjadi secara normal agar kehamilan bisa berkembang. Sempitnya lokasi penempelan zigot menjadi penyebab mengapa embrio tidak bisa berkembang menjadi janin. Meskipun kehamilan ektopik sulit diketahui, Anda dan pasangan tetap dapat mengenali kehamilan ektopik jika terjadi gejala-gejala sebagai berikut:

  • Nyeri abdomen. Gejala ini paling sering dialami oleh penderita kehamilan ektopik. Nyeri itu berada di bagian abdomen perempuan. Nyeri di pada sebelah sisi akan terjadi pada sebelah sisi saja namun ketika masuk ke dalam abdomen akan terasa nyeri di kedua sisi abdomen. Wanita harus mewaspadai kondisi ini.
  • Pendarahan vagina. Wanita yang mengalami flek bercak darah bisa mengalami pendarahan vagina saat mengalami kehamilan ektopik. Pendarahan itu bisa terjadi setelah terdeteksinya kehamilan namun, kehamilan ektopik belum terdeteksi. Pendarahan ini asalnya dari pelepasan dua kavum uteri dan juga berasal dari abortus tuba. Pendarahan ini bisa berupa bercak cokelat saja namun bisa juga pendarahannya seperti menstruasi.
  • Nyeri di ruptur tuba. Gejala satu ini sering diabaikan oleh penderitanya karena akibat dari timbul dan hilangnya gejala tersebut.
  • Ketegangan abdomen. Abdomen Anda tidak hanya merasakan nyeri saja, namun juga akan terasa tegang. Ketegangan tersebut bisa menyeluruh atau bersifat lokal saja. Ketegangan abdomen juga ditandai dengan nyeri goyang serviks.
  • Masa adneksa. Tanda-tanda kehamilan adalah masa adneksa yang bisa diraba sebanyak sepertiga atau setengah dari kehamilan ektopik, Masa pada cavum douglassi juga bisa ditemukan.
  • Pandangan berkunang-kunang. Gejala selanjutnya jika mengalami kehamilan ektopik yaitu akan mengalami pandangan yang berkunang-kunang dan juga kabur. Pandangan itu bisa menyebabkan penderita kehamilan ektopik sulit menyeimbangkan tubuhmya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY