Gejala Kelainan Phimosis Pada Anak

blogspot.com

SehatFresh.com – Pada anak laki-laki atau pria yang belum disunat, kulup menutupi kepala penis. Biasanya, kulup dapat ditarik kembali bila diperlukan. Ketika kulup tidak dapat ditarik kembali, ini disebut phimosis. Ketika ada phimosis, mungkin terlihat seperti ada sebuah cincin ketat di sekitar ujung penis. Area tersebut juga menjadi bengkak dan memerah. Akan tetapi, phimosis merupakan kondisi yang normal pada bayi dan balita. Namun, pada anak yang lebih tua, phimosis mungkin merupakan hasil suatu kondisi kulit yang menyebabkan jaringan parut.

Phimosis diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu:

  • Phimosis fisiologis, adalah keadaan normal untuk laki-laki yang baru lahir. Seiring bertambahnya usia, kulup akan tertarik dengan sendirinya. Hal ini normal selama sekitar dua sampai enam tahun pertama. Sekitar usia dua tahun, kulup seharusnya mulai tertarik secara alami dari kepala penis. Tapi, terkadang membutuhkan waktu beberapa tahun lagi, umumnya hingga usia tujuh tahun.
  • Phimosis patologis, adalah phimosis karena infeksi, peradangan, atau jaringan parut. Phimosis patologis terkadang disebabkan oleh kebersihan yang buruk. Jika seorang pria atau anak laki-laki tidak rutin mencuci daerah penis secara menyeluruh, ia mungkin mengalami infeksi, seperti posthitis (peradangan kulup) atau balanitis (peradangan glans penis). Bahkan, dua infeksi tersebut terkadang terjadi bersama-sama.

Dalam beberapa kasus, phimosis pada anak terjadi karena kulup gagal terpisah selama proses pertumbuhan. Phimosis biasanya tidak membahayakan kecuali bila timbul gejala atau masalah lain. Di sisi lain, phimosis yang dibiarkan dapat menyebabkan penumpukan smegma (kotoran hasil sekresi kelenjar kulup) di sekitar kepala penis. Penumpukan smegma tersebut meningkatkan risiko penyebaran berbagai bakteri yang dapat menyebabkan peradangan kronis hingga tumbuhnya sel kanker pada penis. Apabila anak telah berusia enam atau tujuh tahun, dan phimosis masih ada, atau phimosis menyebabkan kesulitan buang air kecil, maka dibutuhkan penanganan dengan segera untuk mencegah terjadinya hal yang lebih parah.

Secara umum, gejala yang dapat dikenali sebagai gejala phimosis, antara lain:

  • Bagian depan penis terlihat menggelembung, membesar atau membengkak
  • Ada perubahan warna penis
  • Terjadi iritasi lokal karena penumpukan smegma
  • Anak mengalami kesulitan saat buang air kecil, karena muara saluran kencing di ujung penis menjadi sempit atau tertutup.
  • Aliran urin saat buang air kecil tidak lancar, terkadang menetes atau mengalir dengan arah yang tak terduga
  • Anak menangis atau kesakitan setiap kali buang air kecil
  • Terkadang, anak mengalami demam akibat terjadinya infeksi
  • Kulup penis tidak bisa ditarik ke belakang ketika hendak dibersihkan

Tingkat keparahan phimosis pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa tidak selalu sama pada setiap penderitanya. Ada dua prosedur utama untuk mengoreksi phimosis, yaitu prosedur bedah dan prosedur non-bedah. Dalam prosedur non-bedah, penggunaan obat atau krim topikal seringkali dijadikan langkah awal untuk penanganan phimosis. Dalam beberapa kasus tertentu, penanganan phimosis mungkin melibatkan prosedur bedah, salah satunya sirkumsisi (khitan). Perawatan konservatif (non-bedah) umumnya harus dicoba dulu pertama dan pembedahan dilakukan sebagai langkah pengobatan terakhir.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY