Gejala Migrain pada Wanita

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sakit kepala sebelah atau migrain biasanya menyebabkan nyeri dibagian kepala yang terasa berdenyut disebabkan pembengkakan pembuluh darah di dalam kepala, kerap kali dalam beberapa kasus disertai mual, muntah. Beberapa orang hanya sesekali terserang migrain. Bahkan ada yang hanya mengalami migrain satu-dua kali dalam beberapa tahun. Namun ada juga pengidap yang merasakan kondisi ini hingga beberapa kali seminggu bahkan dalam kurun waktu yang relatif sering.

Penyakit yang umumnya terjadi pada usia dewasa ini lebih sering menyerang wanita dibanding pria. Diperkirakan 1 dari 5 wanita terserang migrain dan hanya 1 dari 15 pada pria. Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) mencatat, sekitar 10% dari kasus sakit kepala yang diderita orang dewasa berumur 18-65 tahun disebabkan oleh migrain.

Migrain dapat didiagnosis dengan cara mengidentifikasi pola sakit kepala yang sesuai dengan gejala pada migrain. Selain sakit kepala, gejala seperti merasa mual, jauh lebih peka terhadap cahaya dan suara juga biasa dirasakan sebagian orang. Agar pencegahan pada migrain bisa dilakukan dengan cepat Anda perlu mengetahui gejala yang biasa terjadi  saat migrain menyerang. Dikutip dari Health, Jumat (21/10/2011), ada sekitar 17 tanda dan gejala migrain, antara lain:

  • Terlalu banyak menguap. Sebuah studi dalam journal Cephalalgia menjelaskan sekitar 36 persen dari penderita migrain selalu menguap sebelum terkena migrain.
  • Sering buang air kecil. Tanda-tanda dari gejala ini dikenal sebagai fase prodome dari migrain, dapat terjadi sekitar 1 jam atau paling lama 2 hari sebelum migraine menyerang.
  • Nyeri pada mata. Migrain bisa menyababkan ketegangan pada mata sehingga sering menimbulkan rasa nyeri pada bagian belakang mata.
  • Depresi,lekas marah, atau kegembiraan yang berlebihan. Seseorang bisa berubah menjadi terasa tertekan atau lebih sering dikatakan perubahan mood. Berdasarkan data yang telah dipresentasikan pada American Academy of Neurology tahun 2010 menunjukkan bahwa, depresi sedang atau berat dapat meningkatkan risiko migrain episodik menjadi kronis.
  • Aura. Aura yang dimaksud adalah tanda-tanda yang sering dterjadi pada penderita migrain. Aura yang paling umum adalah visual, seperti lampu berkedip, noda, atau garis, kekakuan pada leher, pundak, dan anggota tubuh lainnya. Migrain dengan aura juga dikenal sebagai migrain klasik. Jenis ini dialami sekitar 20 persen pengidap migrain. Aura biasanya berlangsung antara 5 menit hingga 1 jam, dengan fase lompatan sekitar 60 menit sebelum migrain terjadi.
  • Kurang tidur nyenyak. Hasil studi menunjukkan terdapat hubungan antara kurang tidur dan frekuensi serta intensitas migrain. Penderita migrain biasanya sulit mendapatkan tidur dengan kualitas baik pada malam harinya.
  • Hidung tersumbat atau mata berair. Sebuah pnelitian menerangkan bahwa ada bebrapa kasus pada penderita migrain di awali dengan gejala sinus, seperti mata berair dan hidung tersumbat.
  • Nyeri berdenyut pada satu atau kedua sisi kepala. Sebuah survei yang dilakukan oleh Headache Foundation mengungkapkan sekitar 50 persen penderita migrain selalu mengalami sakit berdenyut pada satu sisi kepala.
  • Nyeri leher. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa migrain bisa menyebabkan ketegangan pada anggota tubuh lainnya, tidak terkecuali bagian leher.  Sebuah yang dilakukan oleh National Headache Foundation menemukan sekitar 38 persen dari penderita migrain selalu mengalami sakit leher.
  • Mati rasa atau kesemutan. Gejala ini sering terjadi pada mereka yang memiliki aura sensorik. Mati rasa atau kesemutan yang biasanya terjadi pada satu sisi tubuh, dan bergerak dari ujung jari melalui lengan dan wajahnya.
  • Mual atau muntah. Sebuah survei oleh American Migraine Study II melibatkan 3.700 orang dengan migren menunjukkan hasil bahwa, 73 persen mengalami mual dan 29 persen mengalami muntah. Sebuah analisis oleh Prevalensi Migrain American National Headache Foundation and Prevention study menemukan bahwa, orang yang sering migrain disertai mual mengalami sakit lebih berat.
  • Cahaya, kebisingan, atau bau tertentu dapat memicu atau memperburuk migrain. Penderita migrain cenderung memilih tempat yang gelap dan tenang untuk memulihkan rasa sakit. Bau tertentu juga dapat memancing sakit migrain.
  • Aktivitas fisik dapat memicu atau menyebabkan nyeri migrain memburuk. Beberapa migrain dapat dipicu oleh latihan fisik, seperti lari dan angkat berat. Seseorang yang mengalami migrain karna aktifitas fisik sebaiknya memriksakan dirinya secara menyeluruh untuk menghindari penyebab yang mendasari, seperti aneurisma otak.
  • Kesulitan berbicara. Tanda lain dari terjadinya migrain adalah kesulitan mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, atau jika kata yang diucapkan tidak sesuai dengan yang akan disampaikan.. Namun jika mengalami kesulitan berbicara untuk pertama kalinya, segera hubungi dokter untuk memastikan masalah tersebut tidak terkait dengan masalah yang lebih serius, seperti stroke.
  • Kelemahan pada satu sisi tubuh. Serangan migrain pada beberapa orang menyebabkan kelemahan otot pada satu sisi tubuh. Namun hal tersebut juga dapat menjadi tanda stroke, sehingga konsultasikan ke dokter untuk memastikan penyebabnya.
  • Vertigo atau penglihatan ganda. Basilar type migraine merupkan salah satu jenis migrain yang dapat menyebabkan pusing, penglihatan ganda, atau kehilangan penglihatan. Beberapa penderita migrain bisa mengalami masalah keseimbangan juga. Dalam sebuah penelitian ditemukan hubungan antara intensitas migrain dengan vertigo. Semakin kuat migrain, pasien lebih mungkin akan mengalami gejala vertigo.
  • Kehilangan energi pasca migrain. Dalam sebuah penelitian yang mewawancarai pasien migraine, menemukan bahwa setelah mengalami migrain sering mengalami gejala seperti kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, kelemahan, pusing, penglihatan kabur, dan kehilangan energi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY