Generasi Milenial Rentan Gangguan Kepribadian

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Generasi milenial adalah kelompok demografi yang lahir pada rentang tahun 1980 hingga akhir 1990-an. Generasi ini identik dengan peningkatan penggunaan terhadap alat komunikasi, media dan teknologi digital. Beberapa kebiasaan generasi milenial yang tidak terkontrol dapat mengancam kondisi kesehatan. Salah satunya adalah masalah kesehatan mental.

Generasi milenial memiliki karakter suka tantangan, cepat dan ambisius. Ironisnya, generasi milenial disebut dokter jiwa lebih rentan mengalami gangguan kepribadian atau kejiwaan daripada generasi sebelumnya. Rasa tidak puas terhadap pekerjaan dan lingkungan yang kemudian mendorong mereka lelah secara mental. Jika tak memiliki manajemen emosi yang baik, kelelahan mental dapat menyebabkan rasa rendah diri, putus asa, bahkan memicu dorongan untuk bunuh diri.

Dr. Andri menyatakan, generasi milenial rentan mengalami gangguan jiwa yang disebut sebagai borderline personality disorder. Borderline personality disorder atau gangguan kepribadian ambang berefek kepada hubungan interpersonal seseorang dengan orang lain. Dikatakan dr. Andri, ada hubungan antara karakter kepribadian generasi milenial dan faktor tuntutan lingkungan yang menyebabkan gangguan jiwa ini.

“Kebanyakan pasien gangguan kepribadian ambang dari generasi milenial ini biasanya kesulitan membina hubungan interpersonal. Mereka self-center dan ingin selalu menjadi pusat perhatian sehingga tuntutan pergaulannya menjadi tinggi,” urai dr. Andri.

Ia meneruskan, tuntutan pergaulan saat ini mengharuskan generasi milenial untuk tampil asyik, heboh dan seru. Padahal, bisa jadi kepribadian aslinya bukan sosok yang seperti itu.

Akibat tidak bisa memenuhi tuntutan harus asyik, heboh dan seru, tidak sedikit generasi milenial yang akhirnya mengalami krisis percaya diri. Jika kondisi ini berlanjut tanpa mendapat penanganan, sangat mungkin generasi milenial mengalami depresi akibat gangguan kepribadian ambang.

“Jadi, ketika dia tidak bisa asyik dan heboh, dia merasa dirinya tidak layak dan kesepian. Karena tidak mampu mengutarakan masalahnya ini, nanti mulai melakukan hal-hal yang membahayakan, seperti self hurting atau melukai diri sendiri dengan menyayat pisau ke lengan,” kata dr. Andri.

Selain melukai diri sendiri, depresi yang dialami oleh generasi milenial juga bisa berujung pada depresi. Tak hanya itu, gangguan kepribadian ambang juga membuat mereka lebih sulit membina hubungan interpersonal yang baik dengan keluarga maupun kelompok.

Penyebab masalah kesehatan mental pada generasi milenial pun sangat beragam. Beberapa di antaranya sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial serta kemajuan teknologi lainnya.

Merujuk Badan Kesehatan Dunia (WHO), sehat adalah keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat. Agar selalu sehat, maka generasi milenial perlu menerapkan pola hidup sehat, asupan gizi yang cukup dan berimbang, rutin berolah raga, dan menjauhi stres. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here