Gula Darah Tinggi Janin Berisiko Cacat Jantung Bawaan

SehatFresh.com – Peneliti dari Stanford University School of Medicine dan Stanford Children’s Health menyatakan bahwa wanita hamil dengan kadar gula darah tinggi lebih mungkin untuk memiliki bayi dengan cacat jantung bawaan, meskipun sang ibu tidak mengidap diabetes. Penelitian yang dipublikasikan jurnal online JAMA Pediatrics pada Oktober 2015 tersebut, memperluas ruang lingkup temuan sebelumnya tentang hubungan antara diabetes maternal dan cacat jantung janin. Studi ini mencari tahu adanya hubungan antara gula darah tinggi terkait risiko cacart jantung janin pada wanita tanpa diagnosis diabetes.

Kehamilan membawa perubahan metabolik yang membuat gula darah (glukosa) lebih tersedia untuk janin daripada ibu, ini merupakan adaptasi penting untuk memastikan bahwa janin mendapat cukup nutrisi. Akan tetapi, pada beberapa wanita, terutama mereka yang obesitas atau yang memiliki riwayat keluarga diabetes, perubahan ini berkembang terlalu jauh ke titik di mana ibu mengembangkan diabetes gestasional. Meskipun risiko diabetes gestasional telah banyak diteliti, hanya sedikit yang menaruh perhatian pada perubahan metabolik yang lebih kecil pada kehamilan.

Para peneliti memeriksa sampel darah yang diambil dari 277 wanita California selama trimester kedua kehamilan. Kelompok kontrol terdiri 180 wanita yang membawa bayi tanpa penyakit jantung bawaan. Lainnya hamil dengan bayi yang dipengaruhi oleh salah satu dari dua cacat jantung serius. 55 bayi memiliki tetralogi fallot, yang ditandai dengan masalah struktural pada jantung dan di dalam pembuluh darah yang menghubungkan jantung ke paru-paru. Sisanya, 42 bayi memiliki dextrotransposition arteri besar, di mana posisi dari dua arteri utama yang mengarah dari jantung tertukar.

Sampel darah dikumpulkan pada waktu yang berbeda, dan para wanita tersebut juga tidak diminta untuk berpuasa sebelum pengumpulan sampel. Para peneliti mengukur tingkat glukosa dan insulin (hormon yang mengontrol gula darah). Para peneliti menemukan bahwa kadar glukosa darah rata-rata lebih tinggi pada wanita yang membawa janin dengan tetralogi fallot dibandingkan pada wanita kelompok kontrol, tetapi tidak meningkat pada wanita yang memiliki janin dextrotransposition arteri besar. Namun, wanita yang memiliki janin dengan dextrotransposition arteri besar secara signifikan mengalami peningkatan kadar insulin.

Para peneliti menggunakan model matematika untuk memperhitungkan kadar glukosa dan insulin, yang disesuaikan dengan usia, etnis dan apakah ia memiliki diabetes. Dalam model ini, kadar glukosa yang lebih tinggi berkorelasi dengan kemungkinan memiliki bayi dengan tetralogi fallot, tapi tidak dengan dextrotransposition arteri besar. Namun, hubungan dengan tingkat insulin tidak signifikan untuk kedua cacat lahir tersebut.

Peneliti utama dari studi tersebut, Dr. James Priest, M.D, mengatakan bahwa studi lebih lanjut perlu dilakukan. Tetapi, jika hubungan antara kadar gula darah dan risiko malformasi jantung dikonfirmasi, skrining glukosa dini dapat membantu mengidentifikasi wanita yang berada pada risiko yang lebih tinggi untuk memiliki bayi dengan penyakit jantung bawaan bahkan jika ibu tidak memiliki diagnosis diabetes yang jelas. Hal ini dapat membantu dokter kandungan dan ahli jantung pediatrik mengidentifikasi peningkatan risiko memiliki anak dengan penyakit jantung bawaan dan melakukan ekokardiografi janin untuk membuat diagnosa awal.

Dr Priest juga menambahkan bahwa mempertahankan diet yang sehat dengan indeks glikemik rendah dan aktivitas fisik secara tepat adalah langkah yang efektif untuk mengendalikan kadar gula darah sebelum dan selama kehamilan. Untuk setiap wanita hamil atau yang berencana untuk hamil, disarankan untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan tentang bagaimana merencanakan diet sehat untuk mendukung kenaikan berat badan yang tepat selama kehamilan.

Sumber gambar :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY