Hamil di Luar Rahim

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik)  merupakan kondisi kehamilan di mana sel telur yang sudah dibuahi tidak mampu menempel atau melekat pada rahim, namun melekat pada tempat yang lain atau berbeda yaitu di tempat yang dikenal dengan nama tuba falopi atau saluran telur, di leher rahim, dalam rongga perut atau di indung telur.

Secara sederhana, kehamilan ektopik suatu kondisi dimana sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada rahim. Kehamilan ektopik terjadi di luar rahim, paling sering di saluran tuba, tetapi juga bisa terjadi pada ovarium, perut atau leher rahim. Meskipun ini tampaknya sulit dibayangkan, ada kemungkinan bayi tumbuh di luar rahim, tapi tidak dapat bertahan hidup di sana. Kehamilan ektopik perlu ditangani dengan segera, karena berpotensi mengancam jiwa.

 Kehamilan ektopik dapat menyebabkan pecahnya sel telur sehingga menyebakan pendarahan dalam rongga abdomen. Janin hanya memiliki harapan hidup yang sangat kecil. Namun, masih ada kemungkinan kehamilan dan janin dapat bertahan hingga masa persalinan. Jika persalinan dilakukan dengan cara caesar, maka ada harapan serta kemungkinan bayi untuk dapat bertahan hidup.

Kehamilan ektopik sangat berisiko dialami oleh wanita yang pernah mengalami infeksi saluran tuba (seperti penyakit radang panggul dari klamidia atau gonore) atau menjalani operasi tuba. Risiko menjadi lebih besar jika Anda berusia lebih dari 35 tahun dan menggunakan bantuan teknologi reproduksi untuk dapat hamil. Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) juga dapat menjadi faktor risiko kehamilan ektopik.

Menurut dr Prima  Progestian SpOG, gejala-gejala kehamilan normal pada umumnya tetap terjadi pada wanita dengan kehamilan ektopik, sehingga pada usia kehamilan dini, kehamilan ektopik ini sulit terdiagnosa.  Gejala yang paling umum dari kehamilan ektopik adalah pendarahan vagina yang tidak teratur dan sakit perut, namun ada beberapa wanita yang tidak mengalami gejala apapun. Sakit perut yang parah atau nyeri bahu yang disertai pendarahan dan perasaan pusing atau pingsan bisa jadi menandakan bahwa janin telah pecah. Jika hal tersebut terjadi, maka Anda perlu mendapat perawatan medis dengan segera.

Jika terdiagnosis sejak dini, kehamilan ektopik memerlukan pemantauan intensif melalui pemeriksaan darah atau USG. Dokter biasanya akan memberikan obat yang disebut Methotrexate. Obat ini menyebabkan kematian janin dan memungkinkan janin untuk keluar. Operasi mungkin diperlukan jika kehamilan sudah lebih maju atau jika pengobatan Methotrexate gagal. Sel telur yang telah dibuahi tidak akan bisa tumbuh dengan normal jika tidak tumbuh di dalam rahim. Karena itu, jaringan ektopik harus diangkat untuk menghindari komplikasi yang dapat berakibat fatal. Diagnosis dan hasil tes yang tepat tentunya sangat membantu. Diperkirakan ada lebih dari 80% wanita yang didiagnosis mengalami kehamilan ektopik dapat pulih dengan terapi atau prosedur laparoskopi tanpa perlu menjalani operasi pengangkatan tuba falopi.

Diagnosis kehamilan ektopik yang tidak tepat dan penanganan yang terlambat dapat memicu pendarahan hebat yang dapat mengarah pada kematian akibat sobeknya tuba falopi atau rahim. Jika itu terjadi, pasien harus menjalani operasi darurat melalui bedah terbuka. Ada kemungkinan tuba falopi dapat diperbaiki, tapi umumnya harus diangkat. Penanganan dengan operasi dapat mengakibatkan efek samping tersendiri seperti pendarahan, infeksi, dan kerusakan pada organ-organ di sekitar bagian yang dioperasi.

Kehamilan ektopik tidak bisa dicegah sepenuhnya. Risiko dapat diminimalisir  dengan menghindari atau mengurangi faktor risiko tertentu. Misalnya, melakukan pemeriksaan dengan tes darah dan USG sebagai upaya deteksi awal atau memantau perkembangan kehamilan, terutama bagi wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here