Haruskah Kanker Penis Dilakuk Amputasi Penis atau Penektomi?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Robek pada kulit penisnya dianggap Wayne Martin akibat hubungan seksualnya yang terlalu kasar. Namun, pria 31 tahun ini yang bernama Martin tidak pernah menyangka jika robekan pada kulit penisnya merupakan gejala kanker penis langka yakni sqaumous cell carcinoma yang sudah menyebar ke uretra hingga ia harus menjalani operasi pengangkatan penis atau penektomi. Prosedur operasi ditambah terapi lain membuat pria 31 sudah sudah sembuh dari kanker.

Biasanya, penektomi dilakukan pada pasien seperti Martin. Penektomi sendiri bisa dilakukan secara parsial atau total. Penektomi parsial dianjurkan untuk pasien dengan penyakit kanker yang belum menjangkit penis. Sementara itu, penektomi radikal atau total dilaksanakan saat sel kanker telah menyerang batang atau organ lain yang berada di dekat alat kelamin pasien. Prosedur ini merupakan alternatif terakhir yang dilaksanakan bila penyakit pasien kebal atau tidak membaik sesudah menjalani metode pengobatan kanker lain, seperti kemoterapi atau radioterapi.

Selain kanker, gangguan kesehatan pada penis juga bisa disebabkan oleh cedera sunat. Komplikasi serius sesudah penyunatan dapat terjadi karena praktik tidak profesional yang dilakukan. Cedera penis akibat sunat beragam, dari infeksi, kecacatan hingga amputasi total pada penis.

Di samping itu, cedera gigitan hewan bisa menimbulkan infeksi. Meskipun sebagian besar luka tidak parah, namun amputasi penis yang hampir total telah dilaporkan akibat gigitan hewan. Dalam beberapa kasus, vaksinasi terhadap tetanus dan rabies diperlukan.

Parafimosis dapat terjadi setelah ereksi atau aktivitas seksual. Parafimosis juga bisa terjadi sebagai akibat dari cedera pada kepala penis. Parafimosis menyebabkan kulit kepala penis terjebak di belakang kepala penis. Jika kondisi ini berlangsung lama, maka akan menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan serta merusak aliran darah ke penis. Dalam kasus yang ekstrem, kurangnya aliran darah dapat mengakibatkan kematian jaringan (gangren) dan mungkin juga amputasi.

Hasil yang didapat dari penektomi tergantung pada penyebabnya. Hasil penektomi pada pasien yang mengalami stadium kanker masih awal, memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Meski begitu, masih ada kemungkinan penyakit untuk kambuh.

Yang jelas, penektomi memiliki efek besar pada pasien, baik dari segi fisik, emosi maupun psikologis. Pasien yang telah menjalani penektomi, misalnya, tidak mampu lagi untuk melakukan penetrasi dalam hubungan seksual. Di samping itu, kebanyakan pasien mengalami perubahan gaya hidup drastis. Maka, mereka disarankan untuk bergabung dalam terapi kelompok.

Prosedur reseksi penis baru atau penektomi dianjurkan jika penis mengalami cedera atau kerusakan yang parah. Namun, dokter bedah sebisa mungkin akan berusaha mempertahankan penis. Berita baiknya, perkembangan di bidang bedah rekonstruktif, seperti phalloplasty, menjadi sebuah alternatif bagi pasien yang ingin mengembalikan bentuk dan fungsi penis seperti semula. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here