Hiperpigmentasi Saat Hamil

SehatFresh.com – Salah satu hal yang kerap dikeluhkan ibu hamil adalah perubahan warna kulit pada bagian tubuh tertentu yang cenderung lebih gelap dibandingkan sebelum hamil. Hampir semua wanita terutama mereka yang berkulit agak gelap akan mengalami masalah kulit saat kehamilan. Para calon ibu akan mengalami hiperpigmentasi (penghitaman kulit) di bagian-bagian kulit tertentu yang seringkali kurang menganggu penampilan. Hiperpigmentasi kulit ini umumnya terjadi pada awal-awal kehamilan.

Pada wajah, hiperpigmentasi ditandai dengan bercak-bercak pada dahi, tulang pipi, hidung dan bibir atas, yang hampir mirip seperti topeng. Perubahan warna juga dapat menyebar ke arah pipi dan rahang. Para ahli mengatakan bahwa hiperpigmentasi wajah sangat umum dan seringkali dianggap sebagai topeng kehamilan atau istilah medisnya disebut melasma gravidarum. Bagian-bagian kulit lain yang biasanya mengalami hiperpigmentasi adalah bagian puting dan areola payudara, leher, punggung, ketiak, selangkangan, paha bagian dalam, daerah sekitar pusar dan garis tengah perut. Luka kulit yang baru terbentuk atau tahi lalat yang baru muncul juga akan menjadi semakin menghitam.

Terjadinya hiperpigmentasi ini disebabkan oleh perubahan hormon selama kehamilan yang memengaruhi mekanisme pembentukan pigmen kulit oleh sel-sel melanosit (pembentuk pigmen pada kulit). Bagian kulit yang menghitam tersebut akan semakin menghitam selama kehamilan dan menjadi lebih terang setelah persalinan. Fluktuasi hormon dapat meningkatkan produksi melanin. Melanin adalah zat alami yang ditemukan dalam tubuh dan komponen utama pada pigmentasi pada rambut, mata dan kulit. Namun, hal ini meningkatkan produksi melanin bersifat sementara dan akan kembali normal setalah kehamilan.

Hiperpigmentasi tidak menyebabkan masalah kesehatan. Namun, jika ibu melihat adanya tanda-tanda peradangan, nyeri, dan perubahan warna yang tidak biasa, maka perlu dikonsultasikan segera pada dokter. Apabila ibu hamil memiliki kondisi kulit seperti eksim atau psoriasis sebelumnya, kemungkinan kondisinya akan memperburuk selama kehamilan.

Ibu hamil tidak disarankan untuk menggunakan sembarang produk perawatan kulit karena kandungan bahan kimianya bisa berbahaya untuk janin. Sebisa mungkin, hindari paparan sinar matahari ketika cuaca sedang terik-teriknya. Gunakan tabir surya, baju berlengan panjang, topi dan kacamata saat bepergian. Hiperpigmentasi ini umumnya akan hilang dengan sendirinya, maksimal satu tahun setelah persalinan. Pada beberapa kasus, ada juga yang tidak bisa hilang. Hal ini biasanya diakibatkan penggunaan kontrasepsi hormonal. Bila hal itu terjadi, segeralah konsultasikan dengan dokter kulit.

Sumber gambar : gigisusu.net

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY