Hubungan Kecanduan Media Sosial dan Attention Seeker

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Seorang attention seeker akan haus untuk mencari perhatian dari orang lain. Bagi pemilik kepribadian ini, tanpa perhatian akan membuatnya merasa buruk. Ia akan mengalami kecemasan terhadap eksistensinya. Attention Seeker akan melakukan apa saja demi mendapat perhatian seperti berbohong, mencari sensasi, berakting, memanipulasi, berpenampilan mencolok dan masih banyak lagi yang dilakukan oleh attention seeker dalam mencari perhatian. Bukan hanya melalui tindakan nyata dalam keseharian, seorang attention seeker akan terus mencari perhatian dari orang lain, tak terkecuali melalui media sosial.

Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan di media sosial adalah menulis, baik itu menulis tentang diri sendiri maupun mengenai berbagai hal. Para pengguna dapat menggunakan fitur catatan atau yang paling biasa dan paling sering digunakan yaitu kolom status. Menulis tentang diri sendiri dalam media sosial merupakan suatu cara dalam memahami diri sendiri maupun membentuk hubungan dengan orang lain. Menulis dalam media sosial merupakan aktivitas yang lebih dari sekedar ekspresi sifat narsisistik atau hanya sekedar alat berkomunikasi dengan orang lain karena menulis tentang diri sendiri (self-writing) merupakan sebuah tindakan dalam proses pembentukan diri (self-forming) (Sauter, 2014).

Seseorang yang memiliki kecanduan yang tinggi pada media sosial akan menjadikan dirinya perlahan-lahan menjadi seorang attention seeker. Mengapa demikian? Karena seseorang yang sudah memiliki kecanduan terhadap media sosial akan bergantung padanya dalam menilai eksistensi diri. Mereka akan merasa cemas ketika apa yang mereka tulis atau ungkapkan di media sosial tidak dipedulikan oleh teman-temannya. Perlahan-lahan mereka akan menjadikan media sosial menjadi tempatnya mencari perhatian dari orang lain.

Seseorang yang memiliki tingkat self-esteem yang rendah cenderung sering meng-update status mengenai apapun. Mereka dengan tingkat narsisisme yang tinggi menggunakan facebook untuk mencari perhatian (attention-seeking) dan pengakuan (validation), menjelaskan kecenderungan mereka yang tinggi untuk memperbaharui (update) status mereka mengenai apa saja pencapaian mereka, apa makanan mereka dan latihan rutin mereka (Marshall, Lefringhausen & Ferenczi, 2015)

Kecanduan media sosial menjadi salah satu penyebab yang membuat seseorang menjadi attention seeker. Mereka akan menjadikan media sosial tempat mereka mencari eksistensi diri. Media sosial mampu untuk dijadikan sumber informasi yang sangat cepat. Akan tetapi jika sering menulis hal-hal yang terkadang tidak perlu di jejaring sosial kita, tanpa kita sadari kita akan memiliki perasaan ingin sekali diperhatikan oleh banyak orang. Setiap apa yang dialami selalu ditulis dalam media sosial, hal ini jelas membentuk diri kita menjadi seorang “cari perhatian”. (SFK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here