Infeksi Salmonella Dan Efeknya Pada Kehamilan

SehatFresh.com – Mengonsumsi makanan mentah atau yang tidak dimasak dengan benar bisa meningkatkan risiko infeksi akibat bakteri, salah satunya salmonella. Menurut World Health Organization (WHO), bakteri salmonella adalah salah satu penyebab paling umum dari penyakit bawaan makanan di seluruh dunia. Wanita hamil dianggap sebagai kelompok khusus yang lebih berisiko untuk penyakit bawaan makanan ini.

Pada orang dewasa sehat, kebanyakan subspesies salmonella mengakibatkan “salmonellosis” ringan. Gejalanya termasuk demam, kram perut, mual, muntah dan diare biasanya muncul dalam waktu 12 sampai 72 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dan membaik dalam waktu empat hingga tujuh hari. Antibiotik hanya diperlukan untuk kasus tertentu. Namun, infeksi pada wanita hamil lebih sulit diobati dan antibiotik yang biasanya digunakan untuk infeksi salmonella (fluoroquinolones) berhubungan dengan risiko cacat lahir.

Dalam beberapa kasus tertentu, salmonella bisa menyebar dari usus untuk memasuki aliran darah. Infeksi aliran darah bisa berakibat fatal dan menimbulkan komplikasi jangka panjang ketika salmonella meninggalkan aliran darah untuk menginfeksi area tubuh lain. Komplikasi jangka panjang dari infeksi salmonella meliputi infeksi pada katup jantung dan lapisan jantung (endokarditis), tulang (osteomielitis), ginjal (pielonefritis), abses otak dan sindrom Reiter. Komplikasi ini tampaknya lebih sering terjadi pada wanita hamil, dibandingkan dengan kelompok orang dewasa lainnya.

Pada kehamilan, infeksi salmonella bisa melintasi plasenta dan dapat menghasilkan penyakit berat dan kematian pada janin, bahkan ketika gejala yang dialami ibu dikatakan ringan. Dalam sebuah laporan yang dimuat dalam “Scandinavian Journal of Infectious Disease” pada tahun 2004, seorang wanita hamil yang mengalami salmonella gastroenteritis, mengaku pada 25 minggu kehamilan menjalani operasi caesar karena detak jantung janin abnormal. Meskipun telah dilakukan intervensi medis intensif, bayi meninggal empat jam kemudian akibat infeksi salmonella pada aliran dan gagal organ akibat infeksi multi-sistem.

Infeksi salmonella pada bayi umumnya lebih parah dibandingkan dengan orang dewasa. Pada bayi yang bertahan hidup dengan penyakit akut, efeknya mungkin seumur hidup. Bayi dapat selamat dengan perawatan medis intensif, akan tetapi bayi mungkin menunjukkan tanda-tanda keterlambatan perkembangan yang parah.

Prinsipnya, infeksi salmonella dapat dicegah dengan persiapan dan penanganan makanan yang baik serta menghindari beberapa jenis hewan peliharaan (reptil dan amfibi). Sumber utama penyebab infeksi salmonella adalah bahan makanan yang tidak dipanaskan dengan benar seperti ayam, telur, daging atau susu. Cukup sering juga ditemukan kasus keracunan salmonella dari makanan yang mengandung telur mentah (tidak diolah) seperti mayonaise, es krim dan pudding. Bila makanan tersebut tidak disimpan secara baik (tidak didinginkan, sudah disimpan terlalu lama atau tidak dipanaskan sama sekali), maka ini semakin meningkatkan risiko infeksi.

Salmonella akan terbunuh dengan pemanasan yang merata, di atas 70°C. Tidak hanya bersumber dari makanan mentah, penularan juga bisa terjadi akibat kontaminasi silang, apabila makanan yang sudah dimasak bersentuhan dengan bahan mentah atau peralatan yang terkontaminasi, misalnya pisau. Oleh karenanya, pemasakan makanan dengan benar serta penanganan makanan secara higienis merupakan hal yang paling utama dalam pencegahan infeksi salmonella.

Sumber gambar :  www.cosmomom.net

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY