Inilah Derita Korban Pemerkosaan

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Korban perkosaan sesungguhnya menderita luar biasa. Tidak hanya fisik, penderitaan ini juga mencakup psikis. Tak jarang, penderitaan ini bersifat permanen hingga ajal menjemput.

Dari berbagai kasus, korban perkosaan umumnya dialami oleh wanita. Banyak korban perkosaan tidak mendapatkan perawatan fisik maupun psikis setelah perkosaan yang mereka alami. Hanya sedikit di antara mereka yang mendapatkan perawatan medis untuk mencegah kehamilan (jika korban adalah wanita) dan kemungkinan tertular penyakit menular seksual.

Tidak hanya fisik, korban perkosaan juga menderita secara psikis. Penderitaan ini terkadang dampaknya lebih hebat daripada fisik. Banyak korban tidak berani melapor atau mengungkapkan kasus perkosaan karena perkosaan merupakan hal yang memalukan (aib). Tak hanya itu, lebih sedikit lagi korban yang mendapatkan perawatan psikis pasca kekerasan seks yang mereka derita.

Selain itu, proses hukum juga sangat rumit dan butuh waktu serta menguras energi dan pikiran serta waktu yang panjang. Kondisi ini membuat korban juga semakin terpuruk.

Belum lagi, korban perkosaan bisa mengalami trauma yang berkepanjangan. Berdasarkan laporan penelitian oleh majalah MS Magazine (dalam Warshaw, 1994) terungkap, 30% dari wanita yang diindetifikasi mengalami perkosaan bermaksud untuk bunuh diri, 31% mencari psikoterapi, 22% mengambil kursus bela diri, dan 82% mengatakan bahwa pengalaman tersebut telah mengubah mereka secara permanen (tidak dapat dilupakan).

Guncangan kejiwaan dapat dialami pada saat perkosaan maupun sesudahnya dan dapat disertai dengan reaksi-reaksi fisik. Korban perkosaan dapat mengalami berbagai dampak psikologis lainnya, seperti menjadi murung, suka menangis, mengucilkan diri, menyesali diri, merasa takut dan sebagainya.

Trauma yang dialami oleh korban perkosaan ini tidak sama antara satu korban dan korban yang lain. Hal tersebut disebabkan oleh bermacam-macam hal, misalnya pengalaman hidup, tingkat religiusitas, perlakuan saat perkosaan, situasi saat perkosaan, maupun hubungan antara pelaku dan korban.

Korban perkosaan yang mengalami atau melihat peristiwa yang traumatik yang mengancam kematian atau luka serius bisa memberikan dampak lama setelah pengalamannya berlalu. Ketakutan hebat, ketidakberdayaan, atau pengalaman menakutkan selama peristiwa traumatik bisa menghantui korban.

Korban terkadang merasa bahwa hidup mereka telah berakhir dengan adanya perkosaan yang telah dialaminya. Dalam kondisi seperti ini, perasaan korban sangat labil dan merasakan kesedihan yang berlarut-larut. Di samping itu, ada kemungkinan bahwa mereka menyalahkan diri mereka sendiri atas terjadinya perkosaan yang telah mereka alami.

Pada kasus-kasus seperti ini, maka gangguan mungkin terjadi atau dialami korban akan semakin kompleks. Apabila setelah terjadinya peristiwa perkosaan tersebut tidak ada dukungan yang diberikan kepada korban, maka korban dapat mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), yaitu gangguan secara emosi yang berupa mimpi buruk, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, depresi, ketakutan, dan stres. PTSD ini dapat dialami oleh semua kelompok umur, termasuk anak-anak. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY