Jangan Asal Pakai ‘Pelumas’ saat Bercinta. Ini Bahayanya!

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Ada kalanya gangguan atau masalah datang dalam kehidupan seks pasangan suami-istri. Berbagai langkah pun mungkin saja sudah ditempuh. Namun, dengan pengetahuan minim, langkah yang diambil bisa menjadi bumerang, misalnya saat menggunakan ‘pelumas’.

‘Pelumas’ tambahan biasanya digunakan saat vagina mengalami kekeringan karena penurunan kadar hormon, khususnya estrogen, setelah melahirkan, selama menyusui, dan menopause. Tingkat hormon yang rendah juga sering disebabkan oleh efek obat tertentu, termasuk pil kontrasepsi.

Dalam kasus kekeringan vagina, hubungan seksual tidak menyenangkan dan kadang-kadang menyakitkan. Itu disebabkan hasil gesekan sehingga risiko terkena peradangan atau infeksi juga tinggi.

‘Pelumas’ bisa menjadi solusi mudah untuk mengatasi ketidaknyamanan saat bercinta. Secara garis besar, ada berbagai macam ‘pelumas’, yakni:

  • Berbahan dasar air (dengan gliserin atau tanpa)

‘Pelumas’ ini yang paling sering dijual. Ini mudah kering, tapi bisa cepat diremajakan dengan menambahkan beberapa tetes air atau air liur. ‘Pelumas’ tersebut bekerja dengan baik dengan kondom lateks, tidak seperti beberapa ‘pelumas’ yang bisa memecah lateks.

  • Berbasis silikon

‘Pelumas’ berbasis silikon merupakan hypoallergenic dan aman digunakan dengan kondom. Keuntungan menggunakan ‘pelumas’ berbasis silikon termasuk yang efektif untuk wanita yang alat kelaminnya sensitif.

  • Berbahan dasar minyak alami (bukan minyak mineral)

Jenis ‘pelumas’ seperti minyak sayur, jagung, alpukat, kacang, zaitun, bermanfaat selama digunakan saat berhubungan intim. ‘Pelumas’ ini bagus untuk pijat vulva karena aman untuk vagina dan aman jika tertelan.

  • Berbahan dasar minyak bumi

Contoh ‘pelumas’ minyak termasuk minyak mineral. Sayangnya, produk tersebut bisa mengiritasi vulva wanita, meninggalkan noda di kain serta menghancurkan kondom lateks serta tak boleh digunakan dalam vagina.

Selain bahan dasar, lebih rinci lagi sebaiknya Anda harus memperhatikan kandungan lainnya pada ‘pelumas’. Beberapa bahan yang harus dihindari dalam ‘pelumas’ meliputi paraben, petrokimia, dan turunan benzena (contohnya natrium benzoat, metil, etil propil paraben, dan benzoat soda). Asam borat, salisilat, dan aldehida sinamat (bahan yang digunakan dalam pelumas dengan efek hangat) juga dipertanyakan dalam segi keamanan.

Memilih ‘pelumas’ yang tepat sangatlah penting agar tidak terjadi efek samping yang tidak diinginkan. Sejumlah risiko telah mengintai bila menggunakan ‘pelumas’ yang keliru seperti di bawah ini:

  • ‘Pelumas’ yang salah dapat menyebabkan alergi sekaligus iritasi.
  • ‘Pelumas’ yang memiliki kandungan paraben dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker payudara.
  • Paraben adalah zat pengawet sintetis yang bisa diserap lewat kulit. Zat kimia ini meniru cara kerja estrogen di dalam tubuh. Pria yang terpapar bahan kimia ini dapat memiliki efek buruk, misalnya penyakit prostat.
  • Dalam industri makanan, natrium benzoat dikenal sebagai pengawet antibakteri dan antijamur terhadap jamur E211, iritasi kulit, dan dapat menonaktifkan bagian DNA. Ini juga berhubungan dengan kegagalan hati dan penyakit Parkinson. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here