Janin Jarang Bergerak

SehatFresh.com – Salah satu momen yang paling membahagiakan selama kehamilan adalah ketika ibu bisa merasakan gerakan buah hati dalam rahim. Ibu hamil mulai dapat merasakan gerakan janin sejak usia kehamilan 18 minggu. Jika ibu hamil anak kedua atau ketiga, gerakan mungkin terasa lebih awal. Hingga usia kehamilan mencapai 28 minggu, gerakan janin belum cukup menjadi indikator kesehatan bayi dalam kandungan.

Janin akan mulai bergerak secara teratur setelah usia kehamilan lebih dari 28 minggu. Ukuran janin belum terlalu besar dan cairan ketuban yang banyak mendukung janin untuk bergerak aktif dalam rahim. Menginjak trimester tiga, janin dapat membuat gerakan antara 30 hingga 40 gerakan per jam. Gerakan akan terasa lebih intens ketika ibu dalam kondisi tenang atau sedang beristirahat.

Janin juga memiliki siklus tidur. Ketika tidur, ia tidak bergerak dan jika bergerak, gerakannya jarang dirasakan oleh ibu. Menjelang usia kehamilan 36 minggu sampai akhir, ukuran janin yang semakin besar menyebabkan janin tidak banyak bergerak karena memang ruang geraknya yang terbatas. Akan tetapi, ibu normalnya harus merasakan gerakan janin rata-rata 10 kali dalam 12 jam.

Di samping ruang gerak yang terbatas, ada beberapa faktor lain yang membuat janin menjadi jarang bergerak dan ini patut diwaspadai:

  • Kondisi fisik dan psikis

Kondisi fisik dan emosional ibu hamil sangat memengaruhi jumlah gerakan janin di dalam rahimnya. Pelepasan hormon terkait stres dapat mengakibatkan berkurangnya gerakan janin. Ketika ibu puasa atau mengalami dehidrasi, gerakan janin juga cenderung berkurang. Oleh karenanya, ibu harus selalu dalam keadaan sehat baik itu secara fisik maupun psikis guna mendukung tumbuh kembang bayi yang sehat.

  • Abrupsi plasenta

Plasenta bertanggung jawab untuk memasok nutrisi pada bayi. Kondisi yang disebut abrupsi plasenta di mana plasenta terpisah dari dinding rahim sebelum bayi lahir dapat menurunkan frekuensi gerakan janin. Jika kondisi ini terjadi, pasokan nutrisi, oksigen serta aliran darah untuk janin menjadi terhambat dan ini bisa menyebabkan kematian janin.

  • Ketuban pecah dini

Pecah atau bocornya kantung ketuban yang mengelilingi bayi juga dapat mengakibatkan gerakan janin berkurang. Pada dasarnya, ini adalah bagian dari proses kelahiran normal. Jika ini terjadi sebelum persalinan, maka ini menjadi tanda masalah. Pecah kantung ketuban sebelum waktunya berpotensi mengakibatkan infeksi dan menyebabkan pasokan oksigen untuk janin menjadi tidak memadai. Kedua faktor ini dapat menyebabkan gerakan janin berkurang.

  • Hipoksia janin

Hipoksia janin adalah kondisi medis yang terjadi akibat kegagalan tali pusat untuk memasok darah beroksigen dalam jumlah yang memadai untuk janin. Penurunan suplai oksigen secara mendadak mengarah pada penurunan gerakan janin karena tubuh bayi menghemat energi dengan tidak melakukan banyak gerakan.

Menurut para ahli, penting bagi ibu hamil untuk memantau gerakan janinnya selama kehamilan setelah janin mulai melakukan gerakan yang teratur. Untuk memudahkan menghitung gerakan bayi, berbaringlah di sisi kiri. Ini sangat membantu ibu agar lebih bisa merasakan gerakan janin dan gerakan janin akan lebih terasa ketika ibu berbaring ketimbang saat duduk atau berdiri. Gerak janin sangat aktif bila lingkungan sekitarnya bising misalnya ketika ibu makan. Ini kemungkinan karena janin terbangun oleh suara pergerakan usus karena adanya makanan yang masuk ke dalam usus. Gerakan janin dikatakan normal bila ibu merasakan minimal 10 gerakan dalam 12 jam atau minimal 10 gerakan dalam dua jam pada saat ibu istirahat dan benar-benar fokus menghitung gerakan janin.

Segera periksa ke dokter bila:

  • Ibu merasakan gerakan janin kurang dari sepuluh kali saat sedang benar-benar istirahat meskipun ibu telah berbaring di sisi kiri selama beberapa jam.
  • Bayi tetap diam dan tidak menanggapi suara atau stimulus apapun.

Ada penurunan gerakan janin yang signifikan atau yang terjadi selama beberapa hari.

Sumber gambar : ibuhamildanbayisehat.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY