Jarak Kehamilan yang Dekat Akan Beresiko pada Ibu dan Bayinya

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kehamilan adalah proses fertilisasi antara sel telur dengan sperma yang  akan berkonsepsi atau bernidasi di dalam tuba palopi. Ibu hamil yang sudah memiliki anak pasti tidak akan tenang karena sudah berpengalaman, tetapi apakah aman jarak kelahiran anak pertama dengan anak kedua?

Pada jarak kehamilan sangat berpengaruh pada kesehatan ibu dan bayinya, karena jika yang sedang hamil mempunyai jarak yang dekat akan beresiko besar. Dalam tubuh itu rahim belum sempurna untuk segera dibuahi karena masih terdapat luka yang belum pulih sempurna. Jika jarak kehamilan yang begitu dekat akan menimbulkan suatu komplikasi serius pada kehamilannya maupun proses kelaahirannya. Menurut World Health Organization (WHO) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bahwa pada jarak antara-kehamilan sebaiknya di berikan jarak antara 2 sampai 3 tahun. Jika kurang dari 2 tahun maka akan beresiko dan berdampak buruk bukan saja pada ibunya melainkan pada buah hatinya atau janin.

Dapat berpengaruh pada kesehatan ibu seperti akan meningkatkan faktor risiko yang tinggi menyebabkan pendarahan sampai kematian saat melahirkan. Ada beberapa penelitian yang menunjukan bahwa pada jarak antara-kehamilan yang kurang dari 12 bulan maka akan meningkatkan risiko kematian pada ibunya. Selain itu pada penelitian tersebut menyebutkan bahwa kematian pada ibu dapat disebabkan karna terjadinya pendarahan pascapersalinan. Karena pada rahim seorang ibu belum siap untuk menampung atau mengandung tumbuh kembang janin yang baru.

Akan di khawatirkan plasenta atau ari-ari dari kelahiran sebelumnya belum mengeluruh atau mengelupas seluruhnya. Pada dasarnya hal tersebut sangat berbahaya dan mengakibatkan risiko pada kehamilan yang baru. Dalam sebuah teori bahwa ibu yang melahirkannya dengan cara operasi sesar, masih terdapat plasenta yang melekat pada dinding rahim bagian bawah dan dapat menutupi leher lahir ibu. Hal justru akan dapat menimbulkan radang saluran genetal dan menyebabkan proses kelahiran sulit dilakukan dan akan menimbulkan pendarahan.

Terdapat risiko pada janin seperti kelahiran dengan kecacatan samapai kematian pada janin. Kelahiran janin meninggal dapat terjadi akibat rahim dan fungsi tubuh ibu belum siap untuk menunjang atau menampung pembuahan janin yang baru, ketika janin yang baru tumbuh dan berkembang, tubuh tidaj dapat memberikan pasokan makanan dan mempersiapkan kebutuhan janin secara maksimal. Leh karena itu, terjadi kelahiran kematian bahkan kecacatan serta pertumbuhan dan perkembangan bayi tidak optimal.

Selanjutnya akan berdampak buruk pada berat badan bayi yang rendah atau BBLR (berat badan lahir rendah). Dan kelahiran prematur. Dari 4 juta bayi yang meninggal setiap tahunnya yang di akibatkan oleh bayi yang lahir dengan prematur. Dari penelitian yangdilaporkan bahwa dalam Journal of The America Medical Association mengatakan bahwa ibu yang sudah hamil kembali setelah 6 bulan kelahiran maka akan meningkat 40% risiko dalam proses kelahiran bayinya yang prematur dan secara drastis akan meningkat 61% risiko pada anak yang lahir dengan BBLR (berat badan lahir rendah).

Dengan berbagai alasan secara medis organisasi kesehatan dunia atau WHO, menganjurkan kepada para ibu untuk dapat mengatur jarak antara kehamilannya sekitar 2 sampai 5 tahun. Karena bukan saja pada kehamilan sampai kelahirannya saja yang dapat berisiko tetapi anak yang sudah lahir yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian ibunya. Agar ibu lebih fokus terdahulu kepada anak yang sudah dilahirkannya dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Dan terkadang seorang ibu tidak dapat menentukan sendiri kehamilannya oleh sebab itu, segera konsultasilan dengan dokter atau bidan untuk dapat mengetahui metode kontrasepsi yang paling baik setelah anda melahirkan. (NLT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here