Jenis – Jenis Kontraksi Kehamilan

SehatFresh.com – Menjelang waktu persalinan, ibu akan mengalami kontraksi. Namun, kontraksi sebenarnya tidak hanya terjadi pada saat mendekati persalinan. Pada saat hamil, dinding rahim yang membesar seiring pertumbuhan janin lebih peka terhadap rangsangan. Terkadang gerakan yang tiba-tiba dilakukan oleh ibu hamil dapat menyebabkan dinding rahim berkontraksi. Begitu pula bila janin dalam rahim menendang atau bergerak-gerak, hal ini juga bisa menyebabkan kontraksi. Kontraksi tidak selalu menunjukkan akan terjadinya persalinan dalam waktu dekat, karena ada beberapa jenis kontraksi selama kehamilan, yaitu :

  • Kontraksi dini

Kontraksi dini biasanya terjadi saat awal kehamilan atau pada trimester pertama kehamilan. Kontraksi ini terjadi karena tubuh masih sedang dalam proses penyesuaian dengan berbagai perubahan terkait kehamilan. Karena pengaruh hormon progesteron yang dihasilkan plasenta, kondisi rahim menjadi relatif lebih tenang sehingga tidak berisiko keguguran (abortus). Namun ibu perlu waspadai bila kontraksi cenderung konstan disertai dengan keluarnya bercak darah. Bila ini terjadi, segera periksakan keadaan tersebut pada bidan atau dokter kandungan.

  • Kontraksi ketika berhubungan intim

Sperma mengandung hormon prostaglandin. Hormon ini diketahui dapat menyebabkan kontraksi pada rahim sehingga dikhawatirkan meningkatkan risiko keguguran atau persalinan prematur. Namun, ini bisa disiasati dengan senggama terputus (coitus interuptus) atau memakai kondom. Alangkah lebih baik bila Anda mengkonsultasikan dengan bidan atau dokter kandungan apakah kondisi kehamilan berisiko atau tidak bila melakukan hubungan intim.

  • Kontraksi palsu (Braxton-Hicks)

Kontraksi palsu seringkali disebut dengan istilah Braxton-Hicks, biasanya terjadi saat kehamilan memasuki usia 32-34 minggu. Durasi waktu kontraksi tidak bisa ditentukan namun biasanya terjadi setiap 30 menit sekali dengan lama kontraksi sekitar 20 detik hingga 2 menit. Kontraksi ini mirip seperti nyeri saat kram haid. Jika kontraksi tidak semakin lama, tidak semakin kuat, dan intervalnya berkurang, maka kontraksi tersebut tidak menandakan persalinan. Tetapi, kontraksi yang semakin sering dan kuat, dapat mengindikasikan bahwa persalinan sudah dekat.

  • Kontraksi sesungguhnya

Kontraksi sesungguhnya adalah yang menyebabkan terjadinya pembukaan jalan rahim (serviks). Tanda-tanda dari kontraksi ini adalah frekuensinya yang teratur dengan lama kontraksinya semakin panjang. Kontraksi ini biasanya terjadi tiga kali dalam 10 menit dengan durasi 20 sampai 40 detik. Bila pembukaan semakin besar, maka durasinya pun semakin lama, hingga lebih dari 40 detik. Frekuensinya pun meningkat hingga lebih dari lima kali dalam 10 menit. Bila ibu merasakan kontraksi ini, segeralah lakukan pemeriksaan ke bidan atau dokter kandungan untuk memastikan lengkap tidaknya pembukaan dan kapan proses persalinan mungkin dilakukan.

  • Kontraksi  inkordinat

Kontraksi inkordinat adalah kontraksi yang tidak menyeluruh, hanya di bagian perut tertentu saja sehingga persalinan tidak mengalami kemajuan. Kontraksi jenis ini terjadi dalam persalinan dan disebabkan oleh ketuban pecah sebelum waktunya atau ada miom di rahim ibu. Deteksi kontraksi inkordinat dapat diketahui dengan alat partogam, yaitu grafik yang dijadikan tolok ukur untuk melahirkan.

  • Kontraksi tetanis

Kontraksi tetanis disebabkan plasenta atau ari-ari janin lepas sehingga kontraksi terlalu kuat sehingga otot rahim tidak mendapat kesempatan relaksasi. Kondisi ini dapat mengancam ibu dan janin karena bisa mengakibatkan trauma jalan lahir ibu trauma janin hingga kematian janin dalam rahim. Tindakan operasi caesar harus segera dilakukan. Kelainan kontraksi tetanis bisa dideteksi dengan partogram.

  • Kontraksi inersia

Kontraksi inersia adalah kontraksi dalam proses persalinan yang lemah, pendek, atau tidak sesuai fase. Kondisi ini biasanya disebabkan kelainan fisik ibu, kurang gizi, anemia, hepatitis atau TBC, dan miom. Kontraksi inersia ada dua macam, yaitu primer dan sekunder. Kontraksi inersia primer terjdi bila sama sekali tidak terjadi kontraksi sejak awal persalinan. Sedangkan kontraksi inersia sekunder adalah kontraksi yang awalnya kuat dan teratur tapi setelah itu menghilang. Kontraksi ini dapat dilihat melalui evaluasi pembukaan mulut rahim dan ketuban.

Sumber gambar : panduanlengkapuntukibuhamil.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY