Junk Food Bikin Remaja Rentan Depresi

SehatFresh.com – Secara garis besar, istilah junk food diperuntukkan untuk segala jenis makan rendah gizi. Oleh karenanya, konsumsi junk food ini tidak baik untuk kesehatan. Selain memicu obesitas, junk food juga bisa memicu depresi. Bukan hanya orang dewasa yang mungkin menderita depresi sebagai akibat dari kebiasaan konsumsi junk food, anak-anak dan remaja juga sama berisiko.

Dalam buku “Fast Food dan Junk Food: An Encyclopedia of What We Love to Eat”, Andrew F. Smith menuliskan bahwa junk food dapat menyebabkan depresi pada remaja. Perubahan hormonal saat pubertas membuat remaja lebih rentan terhadap perubahan suasana hati dan perilaku. Diet sehat memegang peranan dalam menjaga kestabilan kadar hormon dalam tubuh. Makanan tinggi lemak trans, lemak jenuh dan makanan olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi hingga 58 persen.

Dalam hasil penelitian yang diterbitkan dalam Australian and New Zealand Journal of Psychiatry, para peneliti menggunakan kuesioner diet untuk mengamati kualitas makanan 7.114 remaja yang berusia 10 sampai 14 tahun. Partisipan juga diminta menyelesaikan penilaian standar untuk depresi. Setelah disesuaikan dengan berbagai faktor risiko depresi lain seperti status sosial dan ekonomi serta konflik keluarga, para ilmuwan menetapkan bahwa mereka dengan diet kualitas rendah 79 persen lebih mungkin mengalami depresi, dibandingkan dengan mereka dengan diet sehat.

Peneliti lain mengamati 3.040 anak perempuan yang berusia 11 sampai 18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin baik diet seorang anak perempuan ketika studi dimulai, semakin kecil kemungkinannya ia menderita depresi. Keterkaitan ini disesuaikan dengan risiko depresi lainnya termasuk usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, perilaku diet, indeks massa tubuh dan tingkat aktivitas fisik. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE.

Teori lainnya menurut temuan dari University of Alberta menyebutkan bahwa pola makan beragam adalah kunci menghindarkan anak-anak dan remaja dari depresi. Dalam studinya, peneliti menyortir informasi diet pada 3.757 anak-anak di Nova Scotia antara usia 10 dan 11 tahun. Kesimpulannya, anak-anak dengan sedikit variasi dalam diet mereka lebih besar kemungkinannya menderita depresi atau kecemasan di tahun-tahun berikutnya.

Diet tinggi junk food bisa ditandai dengan kebiasaan makan sosis, daging olahan, minuman manis, permen, keripik, mie instan, makanan olahan dan makanan kalengan. Junk food bisa berpengaruh pada ukuran dan fungsi otak. Itulah mengapa kebiasaan makan junk food bisa memicu gangguan mental seperti depresi. Jadi, salah satu cara terbaik untuk terhindar dari depresi adalah menerapkan kebiasaan mengonsumsi makanan sehat.

Sumber gambar : www.sehatfresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY