Kadar Lemak dalam Darah Pengaruhi Kualitas Sperma

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Ketika berbicara tentang keturunan, kesuburan pria adalah isu penting yang juga harus diperhatikan, terutama untuk mereka yang ingin segera berkeluarga. Pasalnya, ada banyak hal yang bisa mempengaruhi kualitas dan jumlah sperma.

Dalam saluran cerna, misalnya, lemak atau lipid akan dipecah menjadi beberapa unsur seperti kolesterol, trigliserida, HDL (lemak baik), LDL (lemak jahat) dan lain-lain. Beberapa bagian lemak ini memiliki efek yang menurunkan aktivitas produksi sperma dan hormon seks.

Hiperkolesterolemia (kelebihan kadar kolesterol dalam darah), contohnya, mengganggu aktivitas sel yang bertanggung jawab untuk menyediakan nutrisi pada sperma. Selain itu, kelebihan kolesterol juga dapat mengurangi aktivitas testosteron, hormon seks utama pada pria.

Kelebihan lemak dalam darah, terutama kolesterol, bisa menjadi penyebab berkurangnya jumlah sel sperma sehingga terjadi keadaan oligozoospermia, yaitu jumlah sperma yang terlalu sedikit.

Selain itu, kolesterol yang tinggi dalam darah memiliki kecenderungan untuk membentuk radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas merupakan unsur berbahaya yang bersifat merusak sperma dan bisa mengganggu proses pematangan sperma dalam testis.

Sebuah penelitian juga menyimpulkan bahwa hipertrigliseridemia (kelebihan kadar trigliserida dalam darah) dapat menimbulkan efek negatif terhadap jumlah dan motilitas sel sperma.

Sebuah penelitian dari Tiongkok mengungkapkan bahwa meningkatnya kadar kolesterol, trigliserida, dan LDL dalam darah dapat menurunkan volume cairan mani. Idealnya, dalam sekali ejakulasi pria akan menghasilkan sekitar 1,5 mililiter air mani yang mengandung sel sperma.

Tingginya kadar lemak dalam darah pun bisa menyebabkan obesitas atau berat badan berlebih. Kondisi obesitas juga memiliki andil terhadap turunnya kualitas sperma.

Dikutip dari penelitian di boldsky.com, dijelaskan bahwa kegemukan yang diderita pria mampu berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas sperma.

Secara normalnya, jika seorang pria memiliki massa indeks tubuh (BMI) 18,5, maka ia dikategorikan normal. Sementara jika BMI pria berkisar di antara 18,5 hingga 25, ia dinilai kegemukan dan jika BMI di atas 30, maka pria tersebut menderita obesitas.

Beberapa penelitian menemukan bahwa di dalam tubuh pria yang BMI tubuhnya bernilai 25 ke atas mengalami penurunan jumlah sperma hingga kelainan produksi sel sperma. Penelitian mencatat kondisi ini terjadi karena kelebihan lemak dan kolesterol yang tersimpan di dalam tubuh.

Tak hanya itu, seorang pria yang mengalami kegemukan, maka terjadi penurunan laju metabolisme yang menyebabkan deplesi dalam jumlah dan kualitas sperma. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kegemukan memang mempengaruhi kualitas sperma hingga dapat menyebabkan kemandulan pada pria.

Sampai saat ini, memang belum ada acuan baku mengenai batas aman berbagai jenis lemak tersebut sehingga aman bagi sistem reproduksi pria.

Namun, alangkah lebih baik apabila Anda selalu mengonsumsi berbagai bahan makanan secara seimbang disertai aktivitas fisik yang cukup. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here