Kapan Andropause Terjadi?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Tak hanya wanita, nyatanya pria juga bisa mengalami menopause, atau sering disebut sebagai andropause. Istilah andropause sebenaranya merujuk pada perubahan hormonal yang terjadi seiring bertambahnya usia, di mana kadar testosteron mengalami penurunan. Hormon yang mengalami penurunan bukan hanya testosteron saja, melainkan juga DHEA, DHEAS, melantonin, hormon pertumbuhan, dan IGFs (insulin like growth factors). Layaknya penurunan hormon pada wanita menopause, penurunan hormon pada pria pun menyebabkan perubahan fisik, emosional, dan psikologis. Meski penyebabnya karena hormon, terdapat perbedaan antara menopause pada pria dan wanita.

Menopause wanita terjadi tiba-tiba, sementara menopause pria memerlukan waktu puluhan tahun. Semua yang wanita mengalami menopause akan berhenti menstruasi dan tidak bisa hamil lagi, namun mekanisme ini tidak demikian pada pria. Meski usianya sudah melebihi 60 tahun, nyatanya seorang pria masih bisa memiliki keturunan, meskipun jumlah dan kualitas spermanya berkurang. Dengan demikian, istilah andropause sebenarnya bukan mendefinisikan berhentinya kesuburan pria seperti halnya menopause wanita. Tetapi, lebih mengarah pada perubahan hormon karena penuaan, sehingga disebut pula defisiensi androgen terkait usia.

Karena sifatnya alamiah, andropause tidak bisa dicegah. Sayangnya, banyak pria yang tak menyadari bahwa mereka telah memasuki fase andropause. Kadar testosteron pada setiap pria memang tidak selalu sama. Namun, kadar testosteron pada pria yang lebih tua akan lebih rendah daripada pria muda, karena mulai terjadi penurunan sekitar 1 persen per tahun setelah seorang pria berada pada rentang usia 30-40 tahun. Gejala-gejala penurunan hormon yang signifikan yang mengarah ke andropause biasanya mulai tampak di usia 50-60 tahun. Akan tetapi, banyak faktor pula yang dapat mempercepat penurunan kadar testosteron, seperti stres psikologis, merokok, alkohol, penyakit, dan obat-obatan. Di usia pertengahan, setiap orang akan berada pada fase “midlife crisis”, yaitu masa di mana seseorang berpikir ulang mengenai kehidupannya. Masa ini dapat dipenuhi tekanan dan stres yang pada akhirnya berujung depresi, sehingga mempercepat penurunan hormon.

Ketika pria memasuki fase andropause, mereka umumnya mulai cemas karena merasa hasrat dan kemampuan seksualnya menurun. Selain itu, mereka juga cenderung merasakan penurunan energi, penurunan produktivitas dalam bekerja, ereksi tidak maksimal, berkurangnya massa otot dan tulang, menurunnya konsentrasi, bertambahnya lemak di perut, gangguan tidur, hingga emosi yang tidak stabil. Karena merasa tak seperkasa dulu lagi, banyak pria usia paruh baya yang ingin membuktikan diri bahwa dirinya masih menarik dan jantan di mata wanita, sehingga mereka jadi “genit” dan tebar pesona. Terutama pria usia 50-an, di mana ekonomi dan status sosialnya sudah mapan. Makin muda dan makin cantik wanitanya, maka pria semakin merasa tertantang. Perilaku pria usia paruh baya semacam ini sering disebut puber kedua, dan ini pun sebenarnya menandakan bahwa pria mulai memasuki andropause.

Seiring dengan semakin canggihnya zaman, gejala dan ketidaknyaman karena andropause, terutama dalam hal seks, dapat diredakan dengan terapi penggantian hormon. Akan tetapi, terapi hormonal hingga saat ini masih menuai pro dan kontra di kalangan ahli medis. Seperti halnya terapi hormon pada wanita, dikhawatirkan terapi penggantian testosteron akan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, kanker prostat dan masalah kesehatan lainnya. Dengan demikian, jika Anda berencana menjalani terapi pergantian testosteron, pastikan Anda sudah secara matang menimbang manfaat dan efek sampingnya di kemudian hari. Untuk meringankan andropause, tentunya sangat penting juga untuk menjaga asupan makanan, berhenti merokok dan berolahraga secara teratur.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY