Kapan Bayi Kuning Dianggap Bahaya?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bayi yang baru lahir sering mengalami penyakit kuning pada beberapa hari pertama kehidupannya. Penyakit kuning yang disebut juga dengan istilah ikterus atau jaundice, ditandai dengan perubahan warna di mana kulit dan mata bayi menjadi kuning. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan biasanya dapat pulih dengan sendirinya dalam hitungan minggu. Namun, kondisi ini bisa saja membahayakan sehingga perlu diwaspadai.

Penyakit kuning terjadi karena darah bayi kelebihan bilirubin, yaitu pigmen berwarna kuning dari sel darah merah. Normalnya, bilirubin melewati hati, kemudian dilepaskan ke dalam saluran usus. Pada bayi yang baru lahir, hatinya belum berkembang sempurna sehingga belum secara efektif membuang bilirubin dari darah. Kadar bilirubin yang tidak terbuang tersebut dapat menetap di kulit yang pada gilirannya menyebabkan kulit dan mata tampak kuning.

Tanda pertama dari penyakit kuning adalah warna kuning pada kulit dan mata bayi. Penguningan ini mungkin terjadi dalam waktu dua sampai empat hari setelah lahir dan bermula di wajah sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Kadar bilirubin biasanya mencapai puncaknya antara tiga sampai tujuh hari setelah lahir. Penyakit kuning lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir sebelum 38 minggu kehamilan (bayi prematur) dan beberapa bayi yang diberi ASI. Pada beberapa bayi yang diberi ASI, penyakit kuning dapat terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cukup ASI karena kesulitan disusui atau ASI belum keluar. Masalahnya bukan karena ASI itu sendiri, melainkan karena bayi tidak mendapatkan cukup ASI.

Untuk memeriksa penyakit kuning pada bayi, tekan perlahan di dahi atau hidung bayi. Jika area kulit yang ditekan tampak kuning, kemungkinan bayi memiliki penyakit kuning ringan. Penyakit kuning ringan biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan perkembangan hati bayi yang semakin matang.

Akan tetapi, tingginya kadar bilirubin yang menyebabkan penyakit kuning yang parah dapat mengakibatkan komplikasi serius jika tidak diobati. Bilirubin adalah racun bagi sel-sel otak. Jika bayi memiliki penyakit kuning yang parah, ada risiko bilirubin masuk ke dalam otak, dan ini mengarah pada kondisi yang disebut ensefalopati bilirubin akut. Kernikterus adalah sindrom yang terjadi jika ensefalopati bilirubin akut menyebabkan kerusakan permanen pada otak. Kernikterus dapat mengakibatkan mata menatap ke atas permanen, gangguan pendengaran, perkembangan enamel gigi yang tidak tepat, dan gerakan yang tidak terkendali yang kemungkinan mengindikasikan cerebral palsy athetoid.

Jika bayi memiliki penyakit kuning, ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi menjadi lebih parah. Pastikan bayi mendapatkan nutrisi yang cukup melalui ASI. Menyusui bayi delapan sampai 12 kali sehari selama beberapa hari pertama dapat membantu mempercepat pengeluaran bilirubin. Bila ibu tidak bisa menyusui, beri bayi satu hingga dua ons susu formula setiap dua sampai tiga jam selama minggu pertama.

Sebagian besar rumah sakit memiliki kebijakan sendiri terkait pemeriksaan untuk penyakit kuning pada bayi. American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar bayi yang baru lahir diperiksa untuk penyakit kuning selama pemeriksaan medis rutin dan setidaknya setiap delapan sampai 12 jam saat berada di rumah sakit.

Berikut ini tanda-tanda atau gejala penyakit kuning yang parah atau komplikasi dari kelebihan bilirubin, dan ini memerlukan penanganan medis dengan segera.

  • Kulit bayi menjadi lebih kuning.
  • Kulit perut, lengan atau kaki terlihat semakin menguning.
  • Bagian putih mata bayi terlihat lebih kuning.
  • Bayi tampaknya lesu atau sakit atau sulit untuk bangun.
  • Bayi tidak mengalami kenaikan berat badan atau sulit disusui.
  • Penyakit kuning berlangsung lebih dari tiga minggu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY