Kapan Seorang Wanita Harus Menjalani Kolposkopi?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Apakah Anda pernah mendengar kolposkopi? Jika belum, sebaiknya seorang wanita perlu mengetahuinya karena kolposkopi tidak disarankan dilakukan secara sembarang.

Kolposkopi adalah suatu cara yang digunakan untuk melihat vulva, vagina dan serviks Anda. Dokter akan menggunakan alat pembesar khusus untuk melihat ketiga area tersebut. Pembesaran ini membantu mengidentifikasi daerah permukaan serviks yang menunjukkan abnormalitas. Jika terlihat adanya masalah selama kolposkopi, sedikit sampel jaringan akan diambil dari serviks atau dari dalam pembukaan serviks (endoservikal kanal). Sampel ini kemudian dilihat di bawah mikroskop.

Tujuannya untuk menentukan apakah ada lesi atau jaringan yang tidak normal pada serviks atau leher rahim. Jika ada yang tidak normal, biopsi (pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh) dilakukan dan pengobatan untuk kanker serviks segera dimulai.

Kolposkopi biasanya dilakukan untuk memeriksa vagina dan serviks ketika hasil tes Pap abnormal. Kebanyakan, hasil tes Pap abnormal disebabkan oleh infeksi virus, seperti human papillomavirus (HPV). Hasil tes Pap abnormal juga bisa diakibatkan oleh bakteri, jamur (ragi), atau protozoa (Trichomonas).

Perubahan alami sel serviks (atrofi vaginitis) yang terkait dengan menopause juga dapat menyebabkan hasil tes Pap abnormal. Dalam beberapa kasus, perubahan sel serviks yang tidak diobati dapat menyebabkan tes Pap yang abnormal dan dapat berlanjut ke perubahan prakanker atau kanker. Dalam konteks ini adalah kanker serviks (mulut rahim).

Kanker serviks di Indonesia menduduki urutan pertama kanker pada wanita. Kanker ini juga menduduki urutan pertama kanker pada genitalia wanita. Kanker serviks memiliki persentase sebesar 15% kanker pada wanita dan 68% kanker pada genitalia wanita.

Di negara maju, angka kejadian kanker serviks sudah sangat menurun karena usaha pencegahan primer, sekunder, deteksi dini, diagnosa, dan pengobatan kanker serviks yang sudah komprehensif.

Meski begitu, kasus kanker serviks di Asia-Pasifik masih cukup mengkhawatirkan. Di Asia-Pasifik, tiap tahun terdapat 270.000 wanita menderita kanker serviks dan 140.000 wanita meninggal karenanya.

HPV, sebagai penyebab kanker serviks, telah diketahui secara luas. HPV nomor 16 dan 18 dianggap sebagai penyebab utamanya. Sebagian penderita kanker serviks datang memeriksakan diri sudah dalam stadium lanjut sehingga hasil dari pengobatannya tidak banyak mengalami kemajuan. Sebagian besar penderita berada pada stadium III B ke atas sehingga angka kematian akibat kanker ini masih tinggi, termasuk di Indonesia.

Kanker serviks merupakan penyakit yang melalui tahapan-tahapan perubahan sel. Kemudian, terjadi lesi pra kanker dan baru terjadi kanker yang invasif. Tahapan terjadinya kanker serviks merupakan suatu proses yang lama dan tidak tiba-tiba saja terjadi sehingga faktor pencegahan dan deteksi dini sangat berperan untuk mendeteksi penyakit pada stadium dini. (RA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY