Kehamilan Dengan Plasenta Previa

Plasenta atau ari-ari adalah suatu organ yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam masa kandungan. Plasenta terbentuk kira-kira di usia kehamilan minggu ke-8 dan tetap terikat kuat pada endometrium sampai janin lahir. Organ ini berfungsi untuk menyalurkan oksigen dan nutrisi, sekaligus mengangkat zat-zat buangan dari darah bayi.

Selama kehamilan, rahim ibu akan berkembang dan plasenta yang normal akan melebar ke arah atas, menjauhi leher rahim atau serviks. Jika plasenta tetap berada di bagian bawah rahim atau di dekat serviks, plasenta dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir bayi. Kondisi ini disebut plasenta previa.

Plasenta previa terjadi pada 1 dari 200 kehamilan dan kondisi ini lebih sering terjadi pada bulan-bulan awal kehamilan. Gejala utama dari kondisi ini adalah pendarahan tanpa disertai rasa sakit, yang biasanya terjadi pada tiga bulan terakhir masa kehamilan. Tetapi tidak semua ibu hamil dengan kondisi ini akan mengalami pendarahan. Pendarahan umumnya terjadi secara tiba-tiba dan volume darah bisa banyak atau sedikit. Pendarahan dapat berhenti dengan sendirinya, tapi bisa terjadi lagi dalam beberapa hari atau beberapa minggu kemudian. Sebagian ibu hamil juga ada yang mengalami kontraksi dan nyeri di punggung atau perut bagian bawah. Jika seorang ibu hamil didiagnosis dengan plasenta previa, ibu dan janin berisiko mengalami pendarahan berlebih jika kondisi ini terus berlangsung selama kehamilan hingga saat persalinan tiba.

Siapa yang lebih berisiko?

Resiko terjadinya plasenta previa meningkat jika :

  1. Ibu pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
  2. Ibu menjalani operasi caesar pada persalinan sebelumnya.
  3. Ibu hamil diusia lebih dari tahun.
  4. Ibu seorang perokok.
  5. Ibu pernah mengalami operasi pada rahim seperti kuret akibat keguguran atau operasi pengangkatan kista atau miom.

Ibu perlu waspada jika mengalami pendarahan pada usia kehamilan 21-40 minggu, Pendarahan vaginal tanpa rasa sakit yang terjadi secara tiba-tiba pada akhir trimester kedua atau awal trimester ketiga merupakan indikasi plasenta previa. Pemeriksaan USG merupakan cara yang paling efektif untuk mendeteksi plasenta previa. Posisi plasenta biasanya akan diketahui melalui pemeriksaan USG pada usia kehamilan 18-21 minggu.

Jika ibu positif terdiagnosis mengalami plasenta previa, dokter akan menghindari pemeriksaan fisik rutin melalui vagina selama kehamilan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko pendarahan. Anda juga biasanya akan kembali menjalani proses USG sebelum melahirkan untuk memeriksa lokasi plasenta serta detak jantung bayi.

Ibu hamil yang tidak atau hanya mengalami sedikit pendarahan biasanya tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit, tapi harus tetap waspada. Dokter umumnya akan menganjurkan istirahat di rumah. Bahkan ada ibu hamil yang dianjurkan untuk terus berbaring dan hanya boleh duduk atau berdiri jika benar-benar diperlukan. Berhubungan seks selama kehamilan juga sebaiknya dihindari karena dapat memicu terjadinya pendarahan. Jika terjadi pendarahan, ibu dihimbau untuk segera ke rumah sakit sebelum pendarahan bertambah parah. Langkah ini dianjurkan agar pertolongan darurat, seperti transfusi darah, bisa segera diberikan jika pendarahan kembali terjadi. Prosedur caesar juga akan dilakukan apabila kehamilan mencapai batas usia yang cukup, (36 minggu). Namun, jika ibu mengalami pendarahan yang tak kunjung berhenti, dokter akan menganjurkan prosedur caesar meski usia kandungan belum cukup.

 *pic cubenk.blogspot.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here